
"Sayang, kita mau kemana sebenarnya?" tanya Irgi.
"Cari makanan, Seren lapar dan mau jajan," jawab Seren.
"Oh, mau jajan apa?" tanya Irgi.
"Martabak telur," ucap Seren sambil tersenyum.
"Kamu kan bisa nyuruh aku saja, kenapa harus keluar," ucap Irgi sambil tersenyum dan mengusap pipi Seren.
Seren melihat kanan kiri, ia mencari penjual martabak telur yang masih berjualan. Karena malam sudah larut. Irgi juga tidak tahu apakah masih ada warung yang masih buka. Untungnya masih ada yang berjualan. Irgi menepikan mobilnya dan turun bersama Seren. Irgi mengambil dompet dan ponselnya di laci dashboard. Ia menghidupkan ponselnya dan di layar ponselnya terpampang panggilan tidak terjawab dari Ken.
"Ken, meneleponku, ada apa?" Irgi bertanya-tanya sambil melangkah masuk ke dalam tenda penjual martabak.
Seren memesan dua porsi martabak telur super. Sambil duduk menunggu pesanan, Irgi menelpon Ken. Irgi penasaran kenapa Ken menelponnya.
***
Ponsel Ken bergetar di saku jaketnya. Ia menepi untuk mengangkat panggilan yang ternyata dari Irgi.
"Halo, Kak. Kakak dimana?" tanya Ken khawatir.
[Kakak sedang di warung penjual martabak telur. Seren ingin makan martabak telur, memangnya kenapa?]
"Tidak. Hanya ingin tahu saja, tadi Ken lihat mobil Kakak keluar rumah. Warung martabak dimana Kak?" tanya Ken memastikan tempatnya.
[Arah menuju kampus kamu, di depan minimarket 'Subur']
"Oh."
Ken menutup panggilan dan memasukkan kembali ponselnya di saku jaketnya. Ia segera melaju secepat mungkin ke arah kampus.
***
"Kenapa dengan Ken?" tanya Seren.
"Dia melihat kita pergi dan bertanya kita mau kemana," jawab Irgi.
"Oh, begitu."
Seren melihat kanan dan kiri, tanpa sengaja, matanya beradu pandang dengan Elden. Ternyata Elden baru saja keluar dari club malam yang terpisah dua gedung dengan warung martabak itu. Elden melihat Seren yang memakai baju merah dan begitu menggoda di mata laki-laki berusia empat puluh tahun itu. Elden mengajak beberapa anak buahnya untuk mengikuti dia menghampiri Seren.
Seren sedikit gugup dan ketakutan dengan pandangan mata lelaki hidung belang itu. Irgi memperhatikan wajah Seren yang berubah pucat. Irgi melihat ke arah mana Seren memandang, dan ia melihat segerombolan orang yang mengikuti seorang pria paruh baya. Irgi menepuk tangan Seren perlahan.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenal pria itu?" tanya Irgi.
"Dia klien perusahaan Papa. Beberapa waktu yang lalu pernah meeting denganku dan Ken," jawab Seren.
"Kenapa kamu seperti ketakutan melihat dia?" tanya Irgi lagi.
"Em … i-tu karena," ucapan Seren terpotong oleh sapaan Elden.
"Selamat malam, Nona Seren. Anda cantik sekali malam ini, bisakah kita bersenang-senang bersama malam ini? Hahaha," ucap Elden.
"Jangan bersikap kurang ajar! Seren istri saya, asal Anda tahu!" Irgi membentak Elden yang berani menggoda Seren di depan matanya. Elden malah menyeringai dan menyuruh anak buahnya menghajar Irgi, sedangkan Elden menarik tangan Seren.
"Lepaskan aku!" teriak Seren ketakutan.
"Lepaskan tangan kotormu darinya, brengsek!" Irgi membentak Elden sambil melawan anak buahnya yang berjumlah enam orang.
Penjual martabak itu melarikan diri karena terjadi perkelahian di tendanya. Gerobak dagangannya juga digulingkan oleh anak buah Elden. Awalnya Irgi bisa melawan, tetapi lama-kelamaan ia kelelahan karena dia kalah jumlah.
"Kak, tolong! Lepaskan aku! Brengsek, cepat lepaskan aku!" Seren meminta tolong pada Irgi dan terus menerus menyuruh Elden melepaskan tangannya. Elden menarik tangan Seren dan menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"Tidak! Lepaskan aku!" Seren sekuat tenaga bertahan agar Elden tidak memasukkan Seren ke dalam mobil.
Irgi habis dikeroyok oleh anak buah Elden, tubuh dan wajahnya sudah memar dan lebam dimana-mana. Pengawal Ken datang bersamaan dengan Ken. Pengawal bertubuh besar itu membantu Irgi melawan keenam anak buah Elden. Meskipun hanya dua orang, tetapi pengawal Ken adalah pengawal yang dilatih khusus oleh agen pengawal profesional. Dengan mudah mereka berdua melumpuhkan keenam anak buah Elden.
"Aku sudah memperingatkanmu, jangan menyentuh Kakakku!" Ken menarik kerah jas Elden dan kembali menghajarnya. Saat Ken akan menghajarnya kembali, polisi datang dan memisahkan mereka. Rupanya penjual martabak itu berlari menjauh dan menelpon polisi.
Seren segera berlari menghampiri Irgi yang terkapar penuh luka lebam. Seren menangis tersedu-sedu melihat Irgi tidak sadarkan diri. Polisi segera membawa Elden dan anak buahnya ke kantor polisi dan menyuruh Seren juga Ken untuk ikut ke kantor polisi agar memberikan kesaksian.
"Pak Polisi, saya harus membawa Kakak ipar saya ke rumah sakit terlebih dulu, bisa, kan?" tanya Ken.
"Kami tunggu Anda di kantor," ucap polisi itu.
"Terima kasih," ucap Ken sambil membungkukkan badan.
Polisi pun pergi meninggalkan lokasi kejadian.
"Kak, bangun. Kakak tidak apa-apa, kan? Kakak bangun, hiks hiks hiks." Seren menangis memangku kepala Irgi di pangkuannya.
"Kamu nyalakan mobilmu kita bawa Kak Irgi ke rumah sakit terdekat, kamu bawa mobil Kak Irgi ke rumah!" Ken memerintahkan kedua pengawalnya untuk membagi tugas. Satu orang pengawal membawa mobil Irgi kembali ke rumah, satu orang yang lainnya membawa Seren dan Irgi ke rumah sakit. Ken mengikuti mobil yang membawa Irgi dan Seren ke rumah sakit.
***
Prang!
__ADS_1
"Astaga!" Marinka terkejut dan terbangun dari tidurnya karena suara benda yang terjatuh. Marinka bangun dan keluar dari kamar. Suara benda terjatuh itu berasal dari ruang keluarga. Marinka melangkah perlahan menuju ruang keluarga, ia mengendap-endap karena takut ada perampok yang masuk untuk mencuri di rumahnya.
Namun saat Marinka sampai di ruang keluarga, tidak ada tanda-tanda perampok atau orang yang ia takutkan. Marinka justru melihat foto Irgi yang tergeletak di lantai dengan kondisi bingkai pecah berantakan. Seketika itu juga hati Marinka menjadi cemas.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba hatiku merasa tidak enak?" gumam Marinka.
Andin juga mendengar suara itu dan keluar dari kamar.
"Ada apa, Ma?" tanya Andin.
"Ini, foto Irgi tiba-tiba saja terjatuh, padahal tidak ada kucing. Tidak mungkin jika terjatuh karena angin. Mama jadi merasa khawatir pada Irgi," jawab Marinka.
"Tidak usah berpikir macam-macam dulu, Ma. Itu mungkin hanya kebetulan saja. Mama istirahat saja lagi," ucap Andin.
"Semoga saja," jawab Marinka. Andin mengantar Marinka kembali ke kamarnya. Andin mengantar Marinka sampai di depan pintu kamar, karena di dalam kamar ada Ronald yang sedang tertidur pulas. Andin menyuruh Marinka istirahat dan Andin membersihkan pecahan kaca bingkai yang berserakan. Andin tidak mau membangunkan pembantu hanya untuk membersihkannya. Andin mencoba menyuruh Marinka agar tenang dan tidak berpikir macam-macam, tetapi nyatanya hati Andin juga merasa cemas.
_____________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏
__ADS_1