
Seren tertidur sampai jam makan siang. Irgi khawatir pada Seren, karena sedari pagi belum makan. Irgi mengetuk pintu kamar dan mencoba membangunkan Seren.
Tok! Tok! Tok!
"Seren, sayang. Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Irgi.
Seren masih terlelap, terbuai di alam mimpi. Entah apa yang Seren mimpikan, karena ia terus tersenyum. Seren yang biasanya tidak bisa tidur jika mendengar suara. Namun kali ini, suara ketukan pintu yang cukup keras pun tidak bisa membangunkannya. Seren tetap terlena dalam tidurnya.
Irgi menjadi khawatir, ia khawatir terjadi sesuatu pada Seren. Irgi pergi mencari Marinka.
"Ma, Mama," panggil Irgi.
"Ya, ada apa? Kenapa kamu begitu panik?" tanya Marinka.
"Mama punya kunci serep kamar Irgi, kan?" tanya Irgi.
"Ada, di laci, di bawah meja televisi. Memangnya kenapa sih?" tanya Marinka penasaran.
"Irgi khawatir sama Seren, Ma. Tidak biasanya, Seren seperti ini. Biasanya kalau memang tidur siang, Seren akan langsung terbangun jika mendengar suara. Irgi takut, Seren berbuat macam-macam," ucap Irgi. Ia kemudian pergi ke ruang keluarga dan mengambil kunci serep kamarnya.
Marinka jadi ikut khawatir dan menyusul Irgi. Irgi segera memasukkan anak kunci dan membuka pintu. Irgi dan Marinka menganga, saling pandang. Orang yang sedang mereka khawatirkan malah sedang tersenyum dan tertidur pulas.
"Apa yang dia mimpikan? Sampai senyum-senyum begitu dalam tidurnya. Sepertinya bermimpi bertemu pria tampan dan sedang berkencan, bisa jadi juga, Seren bermimpi bertemu oppa Korea, haha," ucap Marinka meledek Irgi.
"Mama, yang benar saja. Masa, Mama, malah memanasi perasaan anak Mama ini. Lihat saja! Berani dia berkencan di belakangku, walaupun dalam mimpi, tidak akan aku biarkan," ucap Irgi. Ia lalu mencubit hidung Seren hingga terbangun.
"Aw …." Seren mengusap-usap hidungnya yang sakit.
"Bangun! Kamu mengabaikan aku dan berkencan dengan oppa Korea dalam mimpimu, aku cemburu," ucap Irgi dengan raut wajah cemberut.
"Hahaha, kamu kenapa sih, Kak?" tanya Seren. Ia tertawa geli dengan ucapan Irgi. Seren bangun dan duduk di ranjang.
"Sudah tidak marah?" tanya Irgi.
"Masih, hoam. Aku masih mengantuk, Kakak pergi sana! Aku mau tidur lagi," ucap Seren sambil membaringkan kembali tubuhnya di ranjang.
Irgi menganga tidak percaya. Seren menjadi seperti itu. Seren sudah tidur sejak pagi, tetapi masih berkata ingin tidur. Irgi merasa pendengarannya sepertinya bermasalah.
"Apa, sayang? Kakak tidak salah dengar, kan?" tanya Irgi.
"Cerewet! Kenapa sih, Kakak itu sekarang cerewet banget? Seren mau tidur, Mama, maaf. Tolong seret Kak Irgi," ucap Seren.
__ADS_1
Marinka tertawa mendengar pengusiran Seren. Irgi kesal setengah mati dengan sikap Seren. Marinka menarik Irgi keluar dan menutup pintu kamar Irgi. Marinka menarik Irgi sampai di dapur.
"Ma, kenapa Seren jadi menyebalkan seperti itu? Irgi tidak bisa membiarkan Seren berubah seperti itu," ucap Irgi.
"Seren berkelakuan aneh, mungkin saja karena ia hamil," ucap Marinka.
"Seren … hamil?" tanya Irgi.
"Mama bilang, mungkin," ucap Marinka.
Irgi berpikir kembali. Irgi juga menyadari perubahan dalam diri Seren itu sangat aneh. Irgi akan mengajak Seren cek ke Dokter jika Seren bangun nanti. Ia juga penasaran dan berharap semoga saja benar bahwa Seren hamil. Irgi dan Seren juga sudah sangat mengharapkan kehadiran seorang bayi dalam rumah tangga mereka.
Di ruang keluarga Irgi duduk bersama Ichal yang sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca majalah bisnis. Irgi menatap layar televisi tetapi pikirannya penuh dengan ucapan Marinka yang menduga Seren hamil.
"Hei, Kakak ipar, ada apa?" tanya Ichal.
"Seren bertingkah aneh dan Mama menduga Seren bertingkah aneh karena sedang hamil. Apakah orang hamil bisa berubah menjadi menjengkelkan?" tanya Irgi.
Irgi bertanya pada Ichal karena ia pernah merasakan mempunyai istri yang hamil. Irgi penasaran, dan bertanya banyak hal pada Ichal. Irgi juga menanyakan cara Ichal menghadapi istri yang sedang hamil sampai menghadapi istri yang akan melahirkan.
"Intinya, menghadapi istri yang sedang hamil itu harus ekstra sabar. Adikmu juga super menjengkelkan saat hamil, saat aku tidak menuruti keinginannya, seharian dia mengurung diri di kamar. Yah, semoga saja dugaan Mama benar," ucap Ichal.
"Sayang, bangun! Makan dulu, nanti lanjut tidur lagi," ucap Irgi.
"Hoam, jam berapa ini?" tanya Seren.
"Jam setengah empat sore. Bangun, yuk! Makan dulu," ucap Irgi dengan lembut.
"Ah, kenapa badanku sakit semua?" tanya Seren.
"Mungkin karena terlalu lama tidur siang," jawab Irgi.
Seren melihat jam dinding, ia masuk ke dalam kamar sedari jam delapan pagi dan langsung tertidur. Seren merasa aneh dengan tubuhnya. Tadi pagi ia begitu benci melihat wajah Irgi dan bisa secepat itu tertidur saat berbaring di ranjang. Kini rasa bencinya pada Irgi sudah hilang.
"Kak, maaf soal tadi pagi. Seren mungkin marah karena Kak Irgi membuat Seren kaget. Kakak tidak marah, kan?" tanya Seren bertingkah imut.
"Tadi pagi kamu sangat menyebalkan, tapi sekarang jadi sangat imut seperti ini. Bagaimana Kakak bisa marah," ucap Irgi tersenyum.
Seren pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu berganti baju di hadapan Irgi. Irgi memperhatikan perut rata Seren, ia berpikir seperti apa nanti perut Seren saat hamil. Pasti akan sangat menyenangkan membelai perut Seren yang membuncit. Ia berdoa semoga saja di perut Seren segera hadir sang buah hati yang sudah lama dinanti. Seren mengajak Irgi makan di luar saja. Seren ingin mencari makanan selain nasi, Seren malas makan nasi.
***
__ADS_1
Di taman komplek perumahan, Joan, Ken, Jhon dan Andin sedang menikmati pemandangan sore di taman. Mereka berkumpul sambil minum minuman ringan yang mereka beli di minimarket, saat mereka berjalan menuju taman tadi.
"Hei, kalian sudah berbaikan bukan? Kenapa jauh-jauhan begitu?" Joan meledek Andin yang duduk berhadapan di tangga dekat air mancur.
"Siapa yang bilang kami berjauhan? Aku sengaja duduk di depan Andin agar bisa selalu menatap wajahnya, iya, kan, sayang?" Jhon bertanya sambil menatap lekat kedua mata Andin. Andin hanya tersenyum melihat Jhon.
Joan melirik ke arah Ken sambil tersenyum geli. Joan tidak menyangka jika Jhon bisa berubah seratus delapan puluh derajat karena seorang Andin.
----------------------------------
Hy readers, salam kangen dr author nih😘
Author kngen sm kalian, smoga kalian tetap sehat ya readers😘😘😘😘😘
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏
mampir disini jg ya "Bride" from Mayn Ur Rizqi
__ADS_1