
hi genks
aq balik lagi nih
ga pake sapaan panjang ya reader
selamat membaca aja!!
-----------------------
Lara sampai di RS pelita. Dia menggendong Seren langsung ke ruang UGD.
"Dokter! Dok! Tolong anak saya, Dok!" teriak Lara di pintu ruang UGD.
Dokter jaga yang bertugas langsung menghampiri Lara dan mengambil alih Seren dari gendongan Lara lalu membawanya menuju brankar di ruangan itu. Suster menutup pintu dan menahan Lara yang ingin ikut masuk.
"Ibu tunggu saja disini ya! Jangan khawatir, anak Ibu, pasti tidak akan kenapa-kenapa," ucap suster sembari menutup pintu itu dengan rapat.
Ada perasaan khawatir yang berlebihan yang dirasakan Lara. Dia belum sempat mengasuh Seren, karena dia baru saja datang ke rumah Syahdan. Lara bahkan sudah sangat sayang pada Seren, bahkan menyayanginya bagai anaknya sendiri.
Syahdan memikirkan RSUD mana yang paling dekat dengan rumahnya, karena Bi Eli hanya berkata kemungkinan Lara membawa Seren ke rumah sakit terdekat.
"Ah, benar. Yang paling dekat adalah RS Pelita. Semoga saja perkiraanku tidak salah," gumam Syahdan sambil melajukan mobilnya ke arah RS Pelita.
Lara duduk di kursi yang tersedia di depan ruang UGD. Sementara itu Syahdan sudah sampai di parkiran RS Pelita. Syahdan segera berlari ke bagian informasi.
"Permisi, Sus. Apa ada pasien anak kecil berumur lima tahun yang dibawa kemari oleh seorang wanita?" tanya Syahdan pada suster itu.
"Oh, pasien anak yang terjatuh ya, Pak?" tanya sang suster.
"Iya, benar, Sus," jawab Syahdan.
"Oh. Bapak lurus saja, nanti sampai di ujung lorong, belok kanan, di sana ruang UGD. Anak Bapak, mungkin sedang ditangani di sana," jawab suster.
"Terima kasih ya, Sus." Syahdan mengucapkan terima kasih dan segera berlari ke arah UGD. Saat sampai di lorong, Syahdan belok kanan dan matanya langsung menangkap keberadaan Lara tak jauh dari tempatnya berdiri.
Syahdan melihat Lara yang sedang duduk di kursi dengan cemas. Gadis itu terlihat sangat khawatir, bagai seorang ibu yang sedih karena anaknya terluka. Syahdan menghampiri Lara dengan langkah lambat, serta pikiran yang menerawang.
"Gadis ini berjiwa keibuan, tak hanya wajah cantik, hatinya juga sangat baik. Wajar jika aku merasa jatuh cinta padanya. Karena dia sosok calon istri yang kucari selama ini. Istri yang kuharapkan menyayangi putriku dan disayangi oleh putriku," pikir Syahdan. Perasaan berkecamuk dalam hati. Tanpa sengaja dia mengucapkan suatu pertanyaan yang aneh pada Lara
"Lara, kenapa kamu ...." ucap Syahdan. Lara seketika menoleh.
"Kenapa kamu harus hadir, jika kamu telah dimiliki orang lain?" lanjut Syahdan, tapi hanya dalam hati, ucapan itu tak sampai keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Lara menoleh dan menghampiri Syahdan
"Maaf, Pak. Saya yang salah karena tidak menjaga Seren dengan baik," ucap Lara penuh penyesalan.
"Kenapa Lara?" Syahdan bertanya dengan wajah sendu.
Lara tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan Syahdan padanya. Dia pun memberanikan diri bertanya.
"Maksud ... Bapak, kenapa apanya?" Lara balik bertanya. Seketika itu pula Syahdan sadar dari pikirannya yang melayang\-layang memikirkan Lara.
"Ah, gak ada. Lupain aja. Bagaimana keadaan Seren?" tanya Syahdan mengalihkan pertanyaan Lara.
"Dokter belum keluar. Saya belum tahu kondisinya, Pak." Lara menjelaskan panjang lebar kejadian yang menimpa Seren.
"Oh, begitu rupanya. Saya juga heran kenapa dia langsung akrab sama kamu, sampai-sampai setiap melihatmu dia langsung berlari menghampirimu. Seperti anak kecil yang melihat ibunya pulang," ucap Syahdan.
Lara tertegun mendengar ucapan Syahdan, dan pria itu menyadari raut wajah Lara yang tertegun. Syahdan merasa dia salah berucap.
Lara tertegun bukan karena tidak suka dengan ucapan Syahdan, sebaliknya dia merasa ucapan Syahdan tentang Seren yang menganggap Lara seperti ibunya justru membuat Lara berpikir.
"Anehnya, aku juga merasa seperti Seren itu anakku, karena aku benar-benar cemas saat dia terluka," batin Lara menjawab ucapan Syahdan.
Dokter pun keluar dari ruang UGD. Syahdan dan Lara menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Lara berbarengan dengan Syahdan.
"Bapak dan Ibu tenang saja, anak Ibu dan Bapak tidak apa-apa. Tapi, karena lukanya agak dalam, jadi kami menjahit lukanya agar tidak terus mengeluarkan darah. Dia baik-baik saja sekarang. Ibu bisa tenang. Anak Ibu sudah siuman, silakan jika mau melihat," kata dokter itu panjang lebar.
"Terima kasih, Dokter," ucap Syahdan dan Lara.
"Kenapa Dokter itu bilang dia anak kamu, La?" tanya Syahdan.
Lara canggung mendengar Syahdan hanya mengucap dua huruf dari namanya. Selama ini hanya teman dekatnya dan Zidane yang memanggil seperti itu. Dia juga merasa bahagia, dipanggil seperti itu.
"La, kamu gak mau jawab pertanyaan saya?" Syahdan kembali bertanya.
"Em ... eh anu, Pak. Tadi, saya panik dan bilang pada Dokter untuk menolong anak saya," ucap Lara dengan tertunduk malu.
__ADS_1
Lara merasa malu karena ucapannya terdengar seperti menginginkan menjadi ibunya Seren. Syahdan tersenyum mendengar ucapan Lara. Syahdan berandai-andai.
"Andai saja, kamu bisa menjadi ibu Seren dan menjadi istriku," batin Syahdan.
Lara dan Syahdan lalu berjalan masuk ke ruang UGD dan menemui Seren.
"Seren, Sayang. Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Lara.
Seren bangun dan duduk di brankar. Jika saja suster tidak memeganginya, Seren sudah bersiap turun untuk berlari ke arah Lara.
"Eh! Eh! Jangan lari dulu, ya," ucap suster.
Lara bergegas menghampiri Seren agar gadis kecil itu tidak turun. Lara duduk di depan Seren dan langsung memeluk Seren penuh kasih sayang. Seren melingkarkan tangannya di pinggang Lara yang tentu saja tidak dapat melingkar sempurna karena tangan kecil itu hanya bisa sebatas pinggang kanan dan kiri Lara. Tidak dapat melingkar sampai ke belakang.
"Ekhemm!" Syahdan berdehem.
"Papa dilupain nih ceritanya? Papa ada di sini, tapi cuma Tante Lara yang dipeluk," seloroh Syahdan berlaga ngambek pada Seren.
"Pah! Papa sini!" Seren melambaikan tangan.
Syahdan menghampiri Seren lalu Seren yang melihat papanya sudah di sampingnya, melepaskan satu tangannya dan memeluk papanya. Seren memeluk ayahnya yang berdiri dengan tangan kiri dan tangan kanannya memeluk Lara.
Hal itu membuat Syahdan berdiri terlalu dekat dengan posisi duduk Lara. Wajah Lara memerah merasakan tangan Syahdan yang bergerak memegang pundaknya dan tangan satunya membelai rambut Seren.
Lara dan Syahdan sama-sama berdebar kencang merasakan sentuhan yang terjadi di antara mereka. Tapi sedetik kemudian Syahdan sadar, dia tidak boleh menyentuh istri orang.
"Maaf, saya gak sengaja megang pundak kamu." Syahdan berujar sambil menarik tangannya
Entah kenapa perasaan Lara jadi aneh saat Syahdan menarik tangannya. Lara merasa bahagia dengan kedekatannya dengan Syahdan. Lara merasakan kehampaan di hatinya saat Syahdan menjauh.
"La, saya titip Seren dulu. Saya akan mengurus administrasinya. Setelah itu kita pulang, ok!" Syahdan berlalu dari ruangan itu. Tapi, saat di luar, dia tidak langsung pergi ke bagian administrasi. Ia bersandar di dinding dengan kepala menengadah dan mata terpejam merasa sakit di hatinya karena harus menghindari Lara. Di dalam ruangan Lara juga demikian, dia merasa sedih. Lara memeluk Seren erat untuk menyembunyikan air matanya.
"Kenapa aku harus menangis seperti ini? Apa mungkin aku memiliki perasaan pada Syahdan? Tidak mungkin, kan?" Lara bertanya-tanya dalam hati.
\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=
thor kapan nih pada ngungkapin perasaan masing masing???
sabar ya readers,semua kan indah pada waktunya hehe
Bocoran dikit nih.Author gak mau menghadirkan orang ketiga,keempat apalagi kelima hahaha
so..ttap setia ya sama Lara dan Syahdan
__ADS_1