Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
50. Saling acuh


__ADS_3

Joan keluar dari kamar setelah ia membersihkan diri dan siap untuk berangkat ke kampus. Benar saja, Rina bertanya tentang mata Joan yang bengkak dan merah, tapi Joan berhasil membohongi Rina dengan jawaban bahwa dia begadang semalaman karena tugas, karena itulah matanya bengkak.


Lain Rina, lain pula Jhon. Saat berdiri di pintu gerbang, Joan memesan taksi online dan Jhon sedang menunggu Andin seperti biasanya. Jhon menegur Joan yang memesan taksi online.


"Kamu bisa membohongi Mama, tapi tidak denganku, Jo. Apa kau bertengkar lagi dengan Ken?" tanya Jhon.


"Jangan bahas itu, Jhon. Kalau kamu merasa kamu bisa memahamiku, maka kamu pasti tahu perasaanku saat ini. Aku tidak ingin membicarakan hal apapun tentang dia," ucap Joan. Taksi yang ia pesan sudah tiba, Joan masuk ke dalam taksi dan berangkat kuliah tanpa menunggu Ken seperti biasanya.


Jhon hanya bisa menggelengkan kepala. Jhon penasaran dengan masalah mereka kali ini. Biasanya Joan hanya akan diam dan malas bertemu dengan Ken, tetapi kini, Joan bahkan tidak ingin membahas hal apapun tentang Ken. Jhon terus melihat jam di ponselnya. Jhon menunggu Andin lama sekali, tidak seperti biasanya.


Tak lama kemudian, Andin datang dengan menggunakan taksi. Jhon mengernyit heran, kenapa Andin tidak diantar Ken seperti biasanya.


"Jhon, maaf aku terlambat," ucap Andin saat keluar dari taksi.


"Tidak apa-apa. Tidak datang bersama Ken?" tanya Jhon.


"Ken sedang berada di Cirebon. Mungkin nanti sore baru kembali," jawab Andin.


Jhon segera mengambil helm dan membantu Andin memakainya. Jhon langsung melaju setelah Andin duduk di belakangnya.


Ternyata sampai tiga hari, Ken berada di Cirebon. Sungguh di luar rencana. Jhon memutuskan


***


Jam tujuh pagi, Ken sampai di rumah. Karena kelasnya juga dimulai jam delapan, Ken memutuskan segera membersihkan diri dan tetap berangkat kuliah. Padahal Lara sudah melarang, karena Ken baru saja datang dari luar kota. Namun Ken tidak mendengar dan tetap berangkat kuliah.


Ken merasa lebih baik jika dirinya melakukan banyak kegiatan. Jika Ken hanya berdiam dan tidak ada kegiatan, maka ia akan teringat Joan terus menerus. Ken tidak mau hal itu terjadi. Ia merasa bisa gila jika terus memikirkan Joan.


***


Irgi sudah diperbolehkan pulang setelah tiga hari dirawat di rumah sakit Medika. Irgi duduk di ruang tamu. Seren ingin tinggal di rumah Lara kembali. Ia merasa lebih nyaman tinggal di rumah Lara. Apalagi dia sedang hamil untuk yang pertama kalinya. Seren bisa meminta saran atau berbagi cerita dengan ibunya.


"Gi, tidak istirahat di kamar?" tanya Lara.

__ADS_1


"Seren sedang tidur, Ma. Irgi di sini saja, tidak apa-apa. Nanti kalau Irgi mau tidur baru ke kamar." Irgi menyalakan televisi.


Lara meninggalkan Irgi dan pergi ke halaman depan. Lara menyiram semua tanaman bunga di sana. Syahdan bersiap berangkat ke kantor. Ia berpamitan pada Lara sebelum masuk ke dalam mobil.


"Sayang, Mas berangkat," ucap Syahdan. Lara menghampiri dan mengantar Syahdan sampai masuk ke mobil. Sebelum masuk, Syahdan mengecup kening Lara.


"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Lara sambil melambaikan tangan.


Syahdan pergi ke kantor setengah hari seperti biasanya. Setelah istirahat makan siang, Syahdan akan pulang dan sisa pekerjaan yang lain akan dikerjakan oleh Ken.


***


Siang beranjak tiba, cahaya matahari terletak tepat diatas kepala. Menandakan siang sudah setengah perjalanan. Mentari itu akan beranjak meninggalkan siang dan bergeser mengganti hari menjadi malam.


Kelas Ken belum selesai, tapi di luar kelas, Joan sudah menunggunya. Joan masih ingin mencoba memberi pengertian pada Ken. Joan masih inginberusaha menjelaskan pada Ken, bahwa semua tidak seperti yang Ken sangka. Kelas Ken selesai, semua mahasiswa keluar dari ruang kelas. Namun Ken malas untuk beranjak dari kursinya.


Karena Ken tidak juga keluar, Joan yang menghampiri Ken di dalam ruang kelas bisnis.


"Ken, kita harus bicarakan masalah kita. Jangan menghindariku, Ken!" Joan menggenggam tangan Ken, tapi Ken menarik tangannya dengan kasar.


Joan mengikuti Ken sambil terus memohon agar Ken mau memberi Joan kesempatan menjelaskan kejadian sebenarnya. Mereka kebetulan berpapasan dengan Radja. Ken dan Joan berhenti begitupun dengan Radja. Radja tersenyum menyapa mereka.


"Kalian sudah mau pulang?" tanya Radja.


"Kebetulan saya bertemu Anda di sini, Pak Radja. Saya ingin bertanya soal kalung hati. Apakah Anda yang membelikan itu untuk Joan?" tanya Ken.


"Ya, saya membeli itu untuk Joan. Awalnya ...." Ucapan Radja segera dipotong oleh Ken.


"Dia sudah mengaku, bahwa kalung itu dia yang membelikannya untukmu. Mau sampai kapan kamu terus membela diri? Kita sudah putus tiga hari yang lalu, jadi, jangan menggangguku!" Ken segera pergi meninggalkan Joan dan Radja. Dengan kecepatan tinggi, Ken langsung menuju je kantor.


"Ken!" teriak Joan memanggil Ken. Joan berharap Ken berhenti tetapi Ken justru melaju cepat bersama motornya. Joan berdiri terpaku di parkiran.


Jhon baru saja keluar dari ruang fakultas komputer, dan melangkah melewati parkiran untuk mencari Andin di fakultas seni. Namun Jhon malah melihat Joan yang berdiri terpaku di parkiran, di tengah terik matahari. Jhon menghampiri Joan dan menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Hei, kenapa, Jho?" tanya Jhon.


"Dia memutuskan aku tiga hari yang lalu. Aku hanya ingin meminta penjelasan darinya. Kenapa dia memutuskanku dan atas dasar apa, dia tidak mau mendengar ucapanku sama sekali." Joan bercerita pada Jhon tanpa menyebut nama Ken.


Akan tetapi, Jhon juga sudah paham arah pembicaraan Joan. Pastilah Ken yang Joan maksud. Jhon tidak tega melihat Joan. Jhon mengirim pesan pada Andin dan membonceng Joan pulang. Sepanjang jalan, Joan terisak di punggung Jhon. Jhon tidak jadi membawanya pulang dan berhenti di sebuah taman.


Jhon yakin kalau Joan juga tidak mau terlihat menangis di depan orang tuanya. Apalagi Zidane sedang sakit. Joan duduk di kursi taman yang agak jauh dari tempat yang ramai. Jhon membiarkan Joan menangis sampai Joan berhenti menangis dengan sendirinya. Joan mengambil tisu dari dalam tasnya. Ia mencoba menyudahi tangisannya.


______________________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.

__ADS_1


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2