Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
16.


__ADS_3

hy readears


author tahu kalian psti penasaran sm kisah selanjutnya


author minta maaf sebanyak2nya


karena author dikejar sm kesibukan yg lain


yuk kita lanjut aja


klo mau ngambek nyubit author jg gpp hehe..


readers: author nih bawelnya doang..dah buruan lnjut


me: hehe(trsenyum gaje)


**************************


Joan sampai di ruang Fakultas Pariwisata dia melihat seorang gadis yang ia kenal. Joan menghampiri untuk menegurnya.


"Amy!" sapa Joan ragu. Joan takut jika ia salah mengenali orang. Gadis dengan rambut sepinggang dicat coklat itu menoleh dan tersenyum.


"Joan!! Kuliah disini juga?" tanya gadis itu.


"Iya, ya ampun seneng banget kita bisa ketemu disini!" jawab Joan.


"Tahu tidak, kenapa aku masuk fakultas ini?" tanya Amy dengan senyum centil.


"Jangan bilang karena Dosennya!" ucap Joan dan dibalas Amy dengan anggukkan.


Joan menggelengkan kepalanya. Ternyata teman sekelasnya sewaktu SD ini masih tidak berubah. Joan ingat dengan jelas saat sekolah dulu, ketika guru menanyakan cita-cita pada semua murid kelas 6. Jawaban Amy saat itu membuat seisi kelas tertawa, bagaimana tidak, karena jawaban simple yang Amy ucapkan saat itu adalah 'Cita-cita saya ingin punya suami seorang guru yang tampan'.


Kelaspun dimulai dan Dosen yang dibicarakan oleh Amy akhirnya masuk. Dosen muda yang memakai kemeja berwarna biru langit itu mempunyai senyuman yang amat manis, mata oval dengan pandangan tajam dan tegas itu menambah nilai plus dimata mahasiswi Fakultas Pariwisata. Lain halnya dengan Joan, ia mengakui paras sang Dosen begitu tampan tetapi dari pandangan mata dinginnya itu Joan menyimpulkan bahwa Sang Dosen itu angkuh dan sombong.

__ADS_1


"Huh, sainganku banyak sekali!" gerutu Amy disamping Joan. Joan duduk bersama Amy karena menurutnya duduk dengan orang yang kita kenal akan lebih mudah beradaptasi.


"Saingan kamu satu Fakultas Pariwisata ini terkecuali aku, ok!" jawab Joan. Mereka berbicara bisik-bisik, tetapi karena Joan dan Amy duduk di kursi paling depan jadi Dosen itu mendengarnya.


"Ekhhemm ... perkenalkan nama saya Raja Wicaksana, saya Dosen Fakultas Ilmu Pariwisata. Saya tegas dalam menilai dan saya tidak suka jika seseorang berbisik-bisik membicarakan saya. Saya akan memilih satu orang untuk menjadi Asdos (Asisten Dosen). Kamu yang duduk disana, maju!" ucap Dosen.


"Hah, sa ... saya Pak?" tanya Joan yang merasa ditunjuk.


"Aduh mati aku, ini pasti tadi dia dengar ucapanku!" pikir Joan.


"Yang saya tunjuk siapa?" tanya Raja dengan nada yang meninggi.


Joan takut jika ia tidak segera maju, mungkin Dosen itu akan mempersulit Joan lebih parah. Ia pun maju dan berdiri disamping Raja.


"Untuk kedepannya, kamu harus lebih keras belajar dari yang lain karena suatu saat kamu harus menggantikan saya menerangkan di depan kelas!" ucap Raja.


"Hah,"


"Kamu tuli? sedari tadi saya bicara jawaban kamu hanya 'hah'."


"Benar kan penilaianku, dia angkuh, sombong, ditambah satu gelar baru lagi MENYEBALKAN," gumam Joan dalam hati. Ia mengikuti kelas dengan hati kesal, ia bahkan mencoret-coret satu halaman buku untuk melampiaskan kekesalannya.


***


Siang hari Ken, Jhon dan Andin sudah berkumpul di halaman kampus. Mereka duduk dibawah pohon rindang sambil menunggu Joan yang tak kunjung datang. Mereka mengobrol tentang pengalaman pertama mereka di Fakultas masing-masing. Andin menceritakan betapa senangnya ia memahami teknik menggambar dan melukis yang baik, tetapi ia tidak mau bercerita betapa kesalnya ia sebelum kelas dimulai.


"Ken, kok Joan lama banget ya?" tanya Andin.


"Tidak tahu!" jawab Ken.


Tak lama mereka melihat Joan yang jalan berdua dengan gadis berambut coklat sepinggang. Gadis itu tak hanya cantik tetapi juga sangat menawan saat tersenyum. Saat sampai di depan Jhon, Amy langsung menghambur ke dalam pelukan Jhon.


"Jhon, kangen banget aku sama kamu," ucap Amy.

__ADS_1


Mereka hanya menganga tak percaya dengan Amy yang tiba-tiba memeluk Jhon. Diantaranya adalah Andin yang syok melihat pacarnya dipeluk wanita lain. Jhon sadar dari keterkejutannya.


"Lepasin, lo siapa sih? maen peluk aja!" ucap Jhon. Ia menoleh ke arah Andin dan Andin memalingkan wajahnya.


"Gue Amira Amalia Putri, lo belum pikun kan?" goda Amy.


"AAP, lo disini juga!" ucap Jhon tersenyum. Jhon lupa bahwa Andin masih dibelakangnya.


"Sialan lo, kenapa sih panggil gue AAP melulu!" rengek Amy.


"Oh, ya. Kenapa lama sekali, Jo?" tanya Andin.


"Aku ketemu Dosen super nyebelin. Masa hari pertama kuliah, aku disuruh jadi asistennya. Alhasil tadi pas waktunya pulang, dia suruh aku bantuin masukin nilai." Joan bercerita dengan kesal. Ken menghampiri Joan dan memakaikan helm di kepala Joan.


"Aku bawa kamu jalan-jalan supaya kesalnya hilang, mau kan?" tanya Ken dengan lembut.


"Mau!!" jawab Joan tersenyum senang.


"Yuk, berangkat sayangku!" ucap Ken membonceng Joan dan pergi meninggalkan mereka bertiga. Suasana muram terlihat di wajah Andin. Jhon masih saja mengobrol dengan teman lamanya. Jhon dan Amy duduk dengan santai, Andin tidak bisa melihat Jhon yang asyik berbicara dengan Amy tanpa sedikitpun menoleh pada Andin dibelakangnya.


Andin memilih pergi tanpa pamit. Jhon yang duduk membelakangi Andin sama sekali tidak tahu jika Andin pergi. Andin keluar dari gerbang kampus dan berdiri disamping gerbang, ia menunggu taksi yang lewat.


Tiddd tidd


Riko menekan klakson mobil di depan Andin. Ia menurunkan kaca mobilnya dan menggoda Andin.


"Cantik, mau pulang kan? Yuk bareng sama gue?" tawar Riko.


" Tidak, terima kasih."


"Bro," panggil Riko pada kedua temannya. Riko menggunakan isyarat mata dan kedua teman Riko turun lalu masing-masing memegangi tangan dan Andin.


"Jhon ... tolong!!" Andin berteriak saat kedua teman Riko menarik Andin dan memasukkannya ke dalam mobil Riko.

__ADS_1


"Andin!" Jhon menoleh kebelakangnya dan tak melihat keberadaan Andin. Jhon segera bangun berlari mencari Andin sampai ke gerbang kampus, nihil. Jhon tidak menemukan Andin.


"Jhon, gimana? ketemu gak si Andin?" tanya Amy yang ikut berlari dibelakang Jhon. Jhon terengah-engah setelah berlari. Ia berdiri sambil memutar pandangannya berkeliling untuk mencari Andin.


__ADS_2