Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
29. Melepas rindu


__ADS_3

Jam setengah tujuh malam, Seren sudah berdandan rapi. Ken, Lara dan Syahdan sedang menunggunya di meja makan. Saat Seren menghampiri, mereka menatap heran.


"Seren, kok, rapi sekali? Mau kemana, sayang?" tanya Lara.


"Oh, Seren harus rapat bersama Direktur 'PT. ELDEN', Ma," jawab Seren.


"Tunggu! PT. ELDEN?" tanya Ken terkejut.


"Ya. Kenapa?" Seren bertanya heran karena Ken terkejut. Bukankah wajar jika klien meminta rapat di luar kantor.


"Kakak tunggu sebentar! Ken akan ikut," jawab Ken. Tanpa memberikan alasan, mengapa ia terkejut. Ia langsung pergi meninggalkan meja makan dan mengganti bajunya. Tak lama, Ken keluar dari kamar dengan setelan jas hitam dan kemeja abu-abu. Ken tidak suka memakai dasi, jadi ia tidak perlu waktu lama untuk bersiap.


"Pa, memangnya kenapa dengan Direktur Elden? Kenapa Ken kaget begitu?" tanya Seren.


"Nanti juga kamu tahu, kenapa Ken seperti itu," jawab Syahdan.


"Ayo, berangkat!" ajak Ken. Seren dan Ken berpamitan lalu pergi dengan mobil putih milik Ken.


***


Andin selesai makan malam, ia membuka galeri di ponselnya. Ia melihat fotonya bersama Jhon, dan tanpa sadar airmata Andin menetes. Hatinya merasa sakit, mengingat ucapan Jhon yang mengatakan secara tidak langsung bahwa ia adalah perempuan penjaja cinta.


"Kapan kamu sadar, Jhon? Aku tulus mencintai kamu," gumam Andin lirih.


Ting tong ting tong.


Andin yang sedang duduk di ruang tamu, segera berdiri dan membuka pintu.

__ADS_1


Ceklek.


"Hai," ucap Riko.


"Riko, ada apa? Tumben malam-malam begini kemari?" tanya Andin.


"Aku bawakan kamu makan malam," ucap Riko sambil menyodorkan box makanan yang ia bawa.


"Terima kasih, tapi aku baru sudah makan malam," ucap Andin.


"Kau bisa menyimpannya untuk nanti, lagipula aku sudah membelinya. Tidak bisa dikembalikan." Riko menyodorkan box itu, mau tidak mau Andin menerimanya.


"Terima kasih, duduklah!" ucap Andin mempersilakan Riko duduk. Mereka duduk di teras rumah.


Riko memberitahu tugas dari dosen untuk esok hari. Selebihnya mereka hanya mengobrol dan bercanda. Andin dan Riko tertawa lepas seolah tidak ada beban. Dari seberang jalan, Jhon melihat Andin tertawa riang. Tawa yang tak pernah Jhon lihat, saat Andin bersamanya. Jhon duduk di atas motornya tanpa membuka helm.


Jhon mendatangi rumah Andin, karena merasa rindu. Namun yang dirindukannya itu terlihat sangat bahagia, tertawa dan bercanda bersama pria lain. Jhon merasakan perih di hatinya, ia bergumam dengan sedih.


"Ya, sudah. Aku pulang dulu, besok aku jemput. Kita ke kampus bareng," ucap Riko berpamitan.


"Tidak usah repot-repot, aku akan pergi naik taksi," jawab Andin, menolak secara halus. Andin tahu, Riko menaruh simpati padanya tapi Andin tidak ingin memberi harapan palsu untuk Riko.


"Aku memaksa, dan jika kau tetap mau naik taksi, aku akan menyuruh supir taksinya mogok narik," goda Riko. Andin tersenyum.


"Baiklah, hati-hati," ucap Andin.


Riko masuk ke dalam mobil lalu melambai pada Andin sebelum pergi meninggalkan rumah Andin.

__ADS_1


***


Di Resto


Seren dan Ken sampai di resto. Ken menggandeng tangan Seren, layaknya seorang kekasih, lalu menghampiri meja dimana Direktur Elden duduk menunggu mereka.


"Selamat malam, Tuan Elden," sapa Ken.


"Selamat malam, Presdir Ken?" tanya Elden. Elden, seorang pria paruh baya yang genit, dan tidak melihat gadis cantik. Saat melihat wanita cantik di samping Ken, matanya langsung berbinar.


"Benar, perkenalkan, ini Seren, tunangan saya," ucap Ken memperkenalkan Seren. Seren menyalami Elden.


"Oh, tunangan Presdir Ken. Silahkan duduk, kita bicara sambil makan." Elden sepertinya kecewa, karena tidak bisa menggoda Seren. Mereka membicarakan bisnis kerja sama mereka, sambil menyantap makan malam. Setelah makan malam, mereka menandatangani surat kontrak, lalu berpisah di parkiran resto.


Di dalam perjalanan, Seren tertawa. Ia mengerti sekarang kenapa Ken begitu khawatir saat mendengar nama Elden. Saat mereka makan malam saja, Elden selalu mencuri pandang ke arah Seren. Seren tidak bisa membayangkan, jika ia sendirian menemui Elden.


Mereka sampai di rumah, Seren segera masuk ke kamar. Ia mengganti bajunya dengan piyama tidur. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, ia kembali terduduk karena mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Seren turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi dengan mengendap-endap. Perlahan, Seren membuka pintu kamar mandi.


Seren terbelalak melihat pria berdiri di bawah guyuran air dari kran shower. Pria itu berdiri membelakangi Seren. Jika saja tidak segera ditutup mulutnya oleh pria itu, maka Seren pasti sudah berteriak. Seren ditarik ke kamar mandi dan mulutnya ditutup dengan sebelah tangan pria itu. Pria itu tersenyum manis pada Seren.


"Kak Irgi," gumam Seren. Irgi melepaskan tangan yang menutup mulut Seren, setelah Seren mengenalinya.


"Selamat malam, sayang," ucap Irgi.


Seren menggelengkan kepalanya, ia pikir bahwa dirinya hanya berhalusinasi karena terlalu merindukan Irgi. Namun dinginnya air yang membasahi tubuhnya, membuat Seren sadar jika dirinya tidak sedang bermimpi. Seren segera memeluk tubuh polos Irgi, mereka lalu berciuman di bawah kran shower.


Irgi melepas satu persatu lapisan baju yang menutup tubuh Seren. Mereka berciuman dengan mesra hingga gairah mereka membara. Dinginnya air yang membasahi tubuh mereka tidak lagi terasa. Mereka merasakan tubuh mereka memanas terbakar gairah. Irgi mencumbu Seren di kamar mandi dan melakukan hubungan intim di sana.

__ADS_1


Irgi pulang setelah menelepon Seren, ia menggunakan tiket VVIP pulang pergi. Besok pagi, Irgi harus kembali lagi. Dan malam ini, setelah bercumbu di kamar mandi, mereka melanjutkannya di ranjang, setelah mandi. Baru dua hari berpisah saja, mereka merasakan rindu yang menggebu. Hingga permainan mereka begitu panas.


Mereka terlelap setelah kelelahan bertempur melepas rindu.


__ADS_2