
*Di parkiran kampus.
Joan keluar dari mobil Radja dan berjalan bersama menuju ruang fakultas pariwisata. Joan tidak tahu jika Ken mengikuti mereka.
"Kalung itu cocok untukmu. Terlihat lebih cantik dan indah di leher kamu," ucap Radja.
"Terima kasih, Bapak sudah membelikan saya kalung ini." Joan mengatakan hal itu tanpa tahu keberadaan Ken di belakangnya.
Setelah mendengar kata-kata Joan dan Radja, Ken berbalik dan pergi. Ken tidak mendengar kelanjutan ucapan Joan.
"Tapi, Pak Radja. Saya harap, Bapak mau menerima ini," ucap Joan sambil menyerahkan uang pada Radja.
"Ini … uang apa?" tanya Radja.
"Pengganti uang yang Bapak pakai untuk membayar kalung ini."
"Tapi, saya tulus membelikan kalung itu. Saya tidak berpikir jika kamu harus menggantinya," ucap Radja.
"Saya hargai ketulusan Bapak. Tapi, kalung pasangan ini, saya memberikan bagian yang lainnya pada Ken. Rasanya tidak pantas jika saya memberikan kalung pemberian pria lain kepada pria yang saya cintai," ucap Joan.
"Oh, begitu. Tapi, saya harap Ken dan juga kamu tidak salah paham pada saya. Saya menganggap kamu seperti adik saya, karena wajah kalian mirip. Bedanya, kamu masih hidup sedangkan dia sudah meninggal tiga bulan lalu karena penyakit Leukemia." Radja menunduk sedih saat mengingat adik perempuan satu-satunya itu telah pergi.
Joan terenyuh mendengar penuturan Radja. Pantas saja, Radja langsung mendekati Joan sejak awal masuk kuliah. Ternyata wajah Joan sangat mirip dengan adiknya, dan ia merasa saat melihat Joan bagaikan ia melihat adiknya yang telah meninggal kembali hidup. Radja menunjukkan foto sang adik di ponselnya pada Joan. Hanya untuk membuktikan bahwa ucapannya bukanlah sebuah kebohongan. Joan tersenyum menatap foto adik perempuan Radja, memang sangat mirip dengan wajahnya.
***
Joan selesai bercerita dan meminta maaf pada Ken.
"Maaf, Ken. Aku seharusnya tidak membuatmu salah paham. Aku tidak bermaksud melakukannya. Yang perlu kamu tahu, memang benar awalnya Pak Radja membelikan kalung pasangan ini untukku. Tapi, aku sudah mengganti uang Pak Radja, dan artinya kalung ini adalah milikku. Aku yang membeli kalung ini," ucap Joan sambil memegangi kalungnya. Ia menunduk menatap bandul hati separuh yang menggantung di lehernya.
Joan kemudian merogoh tasnya yang tergeletak di dekat kursi. Semua isinya masih lengkap, hanya ponsel Joan yang mereka ambil. Joan mencari kalung yang Ken kembalikan padanya. Ia menemukan kalung itu dan memberikannya pada Ken.
"Ken, masih maukah jika aku memintamu untuk menjaga separuh hatiku?" tanya Joan sambil tangan yang menggenggam kalung itu terulur ke arah Ken.
Ken menatap tangan dan wajah Joan bergantian. Ken merasa sangat menyesal, ia memandang wajah Joan dengan perasaan bersalah. Bagaimana kejamnya ia memutuskan Joan tiga hari yang lalu, Ken berpaling ke arah lain. Ia tidak mengambil ataupun menyambut uluran tangan Joan.
"Aku tidak pantas menerimanya. Aku pria egois dan jahat, kamu tidak pantas untuk laki-laki brengsek sepertiku, Jo. Kamu berhak memilih lelaki lain yang lebih baik dariku. Aku … tidak pantas menjaga hatimu. Aku hanya bisa menyakiti hatimu," ucap Ken.
Joan menarik tangannya dan menyimpan kembali kalung itu di dalam tas.
__ADS_1
"Kamu yakin, tidak akan menyesal, Ken? Ini penawaran eksklusif dariku. Mungkin kamu tidak akan pernah memiliki kesempatan lain. Karena lain kali aku tidak akan menawarkannya lagi," goda Joan.
Ken berpikir ulang, meskipun mulutnya berkata agar Joan pergi dari sisinya tapi hatinya berbeda. Ken tidak pernah ingin kehilangan Joan, sampai kapanpun ia tidak ingin kehilangan Joan. Ken menoleh ke arah Joan kembali, pandangan mereka bertemu. Ken tersenyum melihat Joan yang tersenyum manis menatap dirinya.
"Jo, bisakah kamu lebih mendekat kesini?" tanya Ken.
Joan bangun dan melangkah mendekati Ken dan duduk di sampingnya dengan jarak satu jengkal tangan. Joan duduk dengan kaki berselonjor. Mereka saling menatap beberapa saat, kemudian beralih ke arah lain.
"Tawaran kamu, masihkah berlaku?" tanya Ken.
"Masih. Selama belum habis 1×24 jam, haha," jawab Joan.
Grep!
Ken menarik Joan dalam pelukannya tetapi Joan memberontak. Ken menjadi bingung mengartikan sikap Joan. Joan masih memberikan Ken kesempatan, tetapi Joan menolak keras saat Ken memeluknya. Ken tersenyum getir. Ia pikir Joan menolaknya.
"Ken, buka bajumu!"
"A-pa maksud ka-mu, Jo?"
Joan membuka sweater yang ia pakai untuk melapis dress lengan pendek. Joan memberikannya pada Ken.
Joan memalingkan wajahnya membelakangi Ken saat Ken membuka jaket dan kemejanya. Ken lalu memakai sweater coklat muda yang Joan berikan. Setelah selesai, Ken bangun dan mengaitkan bajunya di kursi yang tadi dipakai untuk mengikat Joan. Ken lalu duduk kembali di samping Joan.
"Jadi … apa sekarang kita balikkan?" tanya Ken.
"Tidak. Karena aku belum menerima saat kamu memutuskanku. Jadi, kita tidak balikkan tapi baikan," ucap Joan sambil tersenyum.
Ken menarik Joan dalam pelukannya. Kali ini Joan tidak menolak, tapi membalas pelukan Ken dengan erat. Pelukan Joan membuat tubuh Ken sedikit merasa hangat, meski pakaian bagian bawahnya masih basah. Ken melonggarkan pelukannya dan menggamit dagu Joan. Perlahan-lahan Ken menarik dagu Joan dan mengecupnya sekilas dengan lembut. Ken menjauhkan wajahnya kembali dan menatap dalam kedua manik mata sendu Joan.
"Aku sayang kamu, Jo. Aku, cinta kamu," ucap Ken sambil menyelipkan anak rambut Joan ke belakang telinga.
Joan tersenyum mendengar kata cinta yang tulus dari Ken. Joan pun menjawab.
"Aku juga cinta dan sayang sekali padamu, Ken," ucap Joan.
Ken menarik tengkuk Joan dan kembali mengecupnya, ciuman yang lebih dalam dan hangat. Joan membalasnya dengan membuka mulutnya dan membiarkan lidah Ken bermain-main di dalam rongga mulutnya. Sesekali mereka saling menghisap dan menggigit kecil bibir bawah dan atas mereka dengan pelan, penuh perasaan sayang.
***
__ADS_1
Di sebuah rumah besar yang baru saja di singgahi Jhon, seorang pria melihat layar laptop dengan senyuman misterius. Yang terpampang di layar laptop adalah Ken dan Joan yang sedang berpagut mesra, saling berpelukan.
"Tunggu tanggal mainnya besok, Ken dan Joan. Hah, sebaiknya aku tidur sekarang, kita akan bertemu besok pagi," ucap pria itu. Ia menutup layar laptop yang terhubung dengan kamera CCTV di dalam gudang. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan tertidur tak lama kemudian.
***
Joan mendorong Ken dengan pelan. Joan terengah-engah karena Ken tidak memberikan kesempatan Joan untuk mengambil napas. Ken tersenyum melihat akibat dari ulahnya pada Joan. Ken mengecup kening Joan lalu mendekapnya erat.
"Ini, sangat hangat. Biarkan aku memelukmu, Jo," ucap Ken dengan suara lembut. Ia melihat jam di layar ponselnya. Awalnya Ken pikir ponselnya rusak, tetapi ia lupa bahwa ponselnya anti air.
Joan mengangguk dan mereka tertidur sambil berpelukan, bersandar di dinding gudang. Jam empat pagi mereka berdua terlelap setelah meluruskan kesalahpahaman diantara mereka.
______________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏
__ADS_1