Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
10.Pertunangan Bidadari


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Keluarga Zidane dan Lara mendapat undangan dari Handoyo. Undangan pesta pertunangan Bidadari dan Rui. Karena kebetulan Ken, Jhon dan Joan sudah lulus jadi mereka semua akan berangkat ke Jepang untuk menghadiri pertunangan Rui dan Bidadari. Sekalian mereka berlibur untuk merayakan kelulusan Ken, Jhon dan Joan.


"Mah, Andin di ajak tidak?" tanya Jhon.


"Kenapa? Kamu gak bisa pisah sebentar saja dengan Andin!" jawab Rina yang sedang berkemas.


"Tidak di ajak ya!" ucap Jhon lesu.


"Kasihan om Handoyo, takutnya merepotkan dia kalau kita bawa orang luar, mereka juga tak suka," ucap Rina.


"Hari ini habiskan waktumu dengan Andin, besok kita berangkat!" tambah Rina.


Rina tahu Jhon begitu lengket dengan Andin. Bahkan mereka mendaftar di kampus yang sama. Jhon segera mandi pagi-pagi karena sang Mama sudah memberitahu, jika besok mereka akan berangkat ke Jepang selama seminggu.


Jhon ingin bersama Andin seharian ini. Tapi rencana ingin berdua dengn Andin gagal, karena ternyata Andin sedang berada di rumah Marinka. Saat Jhon datang ke rumah Andin yang terkunci, Lara-lah yang memberitahu Jhon. Kebetulan Lara sedang menyiram tanaman pagi itu.


"Eh, Jhon. Cari Andin, ya? Andin di rumah Chika, soalnya hari ini Chika pulang dari rumh sakit!" ujar Lara.


"Siapa yang sakit, Tante?" tanya Jhon khawatir.


"Chika melahirkan kemarin, dan hari ini pulang dari rumah sakit. Karena itu sejak kemarin Andin menginap disana. Memangnya Andin tidak bilang?" tanya Lara.


"Tidak, Tante!" ucap Jhon lesu. Dia berpamitan pada Tantenya dan kembali ke rumah dengan tak bersemangat.


Rina yang melihat Jhon kembali, mengernyit heran. "Tumben, sebentar banget ketemuan sama Andinnya?" tanya Rina.


"Andin tidak di rumah, Mah." Jhon menghempaskan tubuhnya di sofa.


Jhon bangun dan pergi ke kamarnya. Dia berbaring di ranjangnya dan mencoba menelpon Andin.


Tuut tuut tuut


"Halo, sayang. Ada apa?" tanya Andin saat telponnya tersambung.

__ADS_1


"Aku kangen," jawab Jhon.


Terdengar tawa renyah di ujung telpon. Andin malah tertawa mendengar ucapan rindu dari Jhon.


"Kok, malah diketawain sih. Memangnya lucu?" tanya Jhon dengan wajah cemberut.


"Tidak," jawab Andin, tapi masih dengan tawa.


"Aku akan pergi ke Jepang selama seminggu."


Mendengar Jhon akan pergi baru Andin berhenti tertawa. Andin dan Jhon terdiam cukup lama.


"Kapan?" tanya Andin setelah lama mereka terdiam.


"Besok. Aku pamit, awas kalau saat aku tidak ada, kamu berani melirik cowok lain!" ancam Jhon.


"Aku akan cari selingan saat kau pergi," goda Andin. Jhon terdiam mendengar Andin menggodanya.


"Aku akan jadi gadis baik, saat kamu pergi. Aku hanya bercanda untuk mencari selingan," tambah Andin.


Ke esokan hari


Lara, Syahdan dan Ken, mereka sudah berada di depan caffe. Mereka menunggu Zidane dan keluarganya keluar dari rumah. Tak lama yang ditunggu pun keluar.


"Sudah pesan taxi?" tanya Zidane saat keluar dari gerbang rumah beserta Jhon, Joan dan Rina.


"Tuh, sudah dari tadi!" tunjuk Syahdan.


Mereka pun pergi menggunakan dua taxi menuju bandara. Di pesawat, Joan duduk bersama Ken di dekat jendela.


"Ken, nanti di sana kita puasin jalan-jalan ya?" tanya Joan.


"Ok! Asal kamu senang."


Joan merebahkan kepalanya di pundak Ken. Ken mengusapnya dengan lembut. Mereka memilih tidur selama penerbangan.

__ADS_1


Bandar Udara Haneda


Mereka tiba di Bandara Haneda Tokyo setelah 7 jam penerbangan. Bandara Haneda berada di pusat kota Tokyo. Bandara Haneda tidak saja menonjolkan unsur modern, namun juga unsur tradisional budaya khas Jepang. Bandara tersibuk di Jepang itu sangat bersih dan berlimpah cahaya matahari.


Turun dari pesawat, keluarga Lara dan Zidane keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Di depan pintu kedatangan, mereka melihat Handoyo, Rui dan Bidadari sudah menunggu mereka.


Deg


Bidadari merasa hatinya sakit saat melihat Ken keluar dari sana dengan menggandeng Joan.


"Santai Bie, santai. Jangan terbawa perasaan. Singkirkan perasaan kamu pada Ken," gumam hati Bidadari.


"Hai, Han. Lama tidak berjumpa!" ucap Zidane berpelukan dengan Handoyo.


"Ya, benar. Lima tahun sejak kalian liburan ke Jepang dulu." Handoyo mengingat-ingat pertemuan terakhir kali bersama Zidane.


"Apa kau masih ingat dia?" tunjuk Zidane pada Lara.


"Sebentar, apa mungkin dia adik angkatmu, Lara!" jawab Handoyo.


"Benar sekali, itu suami dan anaknya."


Setelah acara perkenalan, mereka membawakan koper milik masing-masing ke mobil. Handoyo dan Rui membawa dua mobil. Para orang tua langsung pulang ke rumah Handoyo, sedang Rui membawa Jhon, Joan dan Ken berjalan-jalan dulu di Bandara Haneda.


Rui mengajak mereka ke Planetarium Starry Cafe yang berada di lantai lima Terminal Internasional. Di sana mereka menikmati planetarium sambil menikmati suasana kafe dan makanan ringan. Pertunjukan yang ditampilkan adalah karya khusus untuk Bandara Haneda dengan proyeksi langit berbintang setiap musim di Tokyo.


"Keren ya, Ken!" ucap Joan.


"Iya, sangat indah."


Ken dan Joan jalan bergandengan di depan, sedang Jhon berjalan di tenhah dan Rui menggandeng Bidadari di belakang. Mereka berkeliling mengitari setiap sudut Planetarium Starry cafe.


"Kalian ini keterlaluan. Kalian berpasanhan, bergandengan tangan tanpa melihat diriku yang sendiri," Jhon menggerutu dan ditertwakan oleh pasangan Rui-Bidadari dan Ken-Joan.


Setelah puas melihat-lihat, Rui membawa mereka semua pulang ke rumah mewah bergaya khas tradisional khas Jepang. Mereka diberikan kamar masing-masing, karena rumah itu memang memiliki banyak kamar. Mereka tertidur di kamar masing-masing karena lelah setelah penerbangan jauh ditambah mereka langsung berjalan-jalan. Sambil menunggu waktu makan malam tiba, mereka memilih beristirahat dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2