
Mereka sampai di rumah sakit. Irgi didorong dengan brankar ke ruang UGD. Seren terus menangis sepanjang koridor menuju ruang UGD. Tiba di depan ruang UGD, Dokter menahan Seren dan Ken agar tetap di luar. Sementara paramedis menangani Irgi. Ken menyuruh Seren untuk duduk dan tenang.
"Kak, duduklah! Jangan menangis. Kita berdoa semoga Kak Irgi hanya pingsan dan tidak ada sesuatu yang serius," ucap Ken sambil duduk di samping Seren dan menepuk-nepuk pundak kakaknya.
"Ini salah Kakak, Ken. Ini salah Kakak. Kalau Kakak tidak mengajak Kak Irgi keluar, semua ini tidak akan terjadi pada Kak Irgi, hiks hiks. Ini salah Kakak," ucap Seren diantara isak tangisnya. Ia sangat menyesal, karena telah memaksa Irgi mengantarnya keluar malam-malam. Ia terus terisak tanpa henti. Ken mengambil sapu tangan yang biasa dipakai sebagai masker saat naik motor dan memberikannya pada Seren.
"Ini bukan salah Kakak, tapi salah si Elden kurang ajar itu. Tadi pagi, ia sempat mencoba mencari Kakak ke kantor, dengan alasan surat kontrak antara perusahaannya dan perusahaan kita itu bermasalah. Aku tahu seperti apa dia, karena itu, saat melihat mobil Kak Irgi pergi, Ken langsung ikuti. Kakak tenang saja, Kak Irgi akan baik-baik saja, Ken yakin." Ken menenangkan Seren dengan memeluk kakaknya. Mata Ken berkilat marah, ia sangat murka dengan perbuatan Elden. Ken mengucap sumpah dalam hatinya, ia tak hanya akan memenjarakan Elden tetapi akan menghancurkan dia sehancur-hancurnya.
***
Pengawal yang disuruh oleh Ken mengantarkan mobil Irgi ke rumah, sudah sampai dan sudah selesai menyimpannya di garasi dengan dibantu satpam.
Di dalam kamar, Lara yang merasa mendengar suara mobil pun terbangun. Ia mengintip dari gorden kamar yang mengarah ke gerbang. Lara melihat satpam mereka bicara dengan seorang pria berperawakan tinggi besar. Pria yang berdiri membelakangi rumah Lara itu memakai setelan jas hitam rapi. Lara merasa penasaran dan membangunkan Syahdan.
"Mas, bangun. Mas," ucap Lara sambil menepuk pundak Syahdan.
"Ada apa, sayang. Dingin, ya?" tanya Syahdan sambil membuka mata perlahan. Dengan senyum menggoda, ia menarik Lara yang berdiri hingga jatuh di atas dadanya.
"Mas, ada masalah serius, bisa lepaskan aku, tidak?" Lara menarik tubuhnya dan kembali berdiri.
Syahdan bangun dan duduk. Ia memperhatikan wajah Lara yang seperti orang kebingungan.
"Ada masalah apa?" tanya Syahdan.
"Itu, Mas. Aku lihat ada seorang pria tinggi, besar. Dia bicara dengan pak Sam di pintu gerbang kita. Mungkinkah, dia perampok yang bersekongkol dengan Pak Sam?" tanya Lara dengan wajah khawatir dan gugup.
"Tidak mungkin, Pak Sam tidak akan seperti itu. Percayalah! Mas sudah sangat mengenal Pak Sam. Tapi, siapa pria itu. Kita tanyakan pada Pak Sam," ucap Syahdan sambil melangkah keluar dari kamar dan menghampiri Sam'un di pos satpam dekat pintu gerbang rumah mereka.
"Pak Sam, siapa pria yang baru saja pergi?" tanya Lara.
"Anu … Nyonya. Anu," ucap Sam'un dengan tergagap.
"Siapa dia, Pak? Katakan," ucap Syahdan.
"Itu, pengawal Den Ken. Dia kesini mengantarkan mobil Mas Irgi," ucap Sam'un bercerita.
"Kenapa mobilnya Irgi di luar dan kenapa dia mengantarkan kesini. Bisa jelaskan dengan terperinci?" tanya Syahdan. Tentu saja Syahdan merasa heran, karena setahunya, Irgi dan Seren sudah tidur di kamarnya.
Sam'un pun menceritakan semuanya pada Lara dan Syahdan. Lara seketika merasa lemas dan terkulai tak sadarkan diri. Syahdan menggendong Lara ke kamar dan mencari minyak angin. Syahdan mencari di setiap laci nakas dan ia menemukannya di laci terbawah. Syahdan segera menggosokkan sedikit di dekat hidung Lara.
__ADS_1
Lara terbangun dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Lara perlahan mengingat kejadian sebelum ia tidak sadarkan diri. Lara ingat dan segera ia kembali cemas.
"Irgi, Mas. Seren bagaimana, Mas, kalau terjadi apa-apa pada Irgi?" tanya Lara sambil menarik-narik piyama Syahdan.
"Tenang, sayang! Sekarang kita ganti baju dan pergi ke rumah sakit dulu. Semoga saja tidak terjadi hal buruk pada Irgi." Syahdan segera mengganti bajunya dengan kemeja dan celana panjang biru.
Lara juga mengganti bajunya dengan sweater putih dan celana panjang berwarna putih senada. Mereka segera pergi ke garasi dan melaju menaiki mobil Syahdan. Lara gemetar ketakutan memikirkan Irgi. Sepanjang jalan ia terus menceracau berdoa tiada henti.
Syahdan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak bisa dipungkiri, Syahdan juga sangat khawatir pada Irgi. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di parkiran rumah sakit dan mereka segera berlari setelah keluar dari mobil. Syahdan menanyakan pasien bernama Irgi di bagian informasi. Setelah tahu dimana Irgi, mereka segera mencari ruang UGD.
"Seren, Ken," panggil Lara saat melihat Ken dan Seren yang sedang duduk di depan ruang UGD.
Seren menoleh ke arah suara Lara. Seren bangun dan melangkah menghampiri Lara. Lara segera memeluk Seren yang menangis dengan memilukan. Ia terus terisak dalam pelukan Lara.
"Bagaimana keadaan Irgi, Ken?" tanya Syahdan menghampiri Ken dan duduk disampingnya.
"Entahlah, Pa. Dokter belum keluar sejak satu jam yang lalu," jawab Ken.
"Sudah mengabari Tante Marinka?" tanya Syahdan.
"Belum, Pa. Ken keluar dulu kalau begitu. Ken akan mengabari Tante," ucap Ken. Ken pergi ke parkiran untuk menelepon. Karena tidak baik menggunakan ponsel di dalam rumah sakit. Ken bingung, ia harus menelpon kemana? Telepon rumah atau nomor Marinka? Semuanya bagi Ken sama saja, sama-sama akan mengganggu. Apalagi ini sudah lewat tengah malam. Ken memutuskan menelepon Andin saja.
***
Lagu 'Touch Love' yang dinyanyikan artis korea Yu Mirae, terdengar dari ponsel Andin. Andin menjadikan lagu itu sebagai nada dering ponselnya. Andin mengernyit heran.
"Siapa yang menelepon dini hari seperti ini?" gumam Andin. Dengan rasa penasaran, ia mengambil ponselnya di nakas. Andin tambah heran saat melihat ID pemanggil.
"Ken?" Andin menjawab panggilan itu.
"Halo, Ken. Ada apa? Tumben," sapa Andin.
[Din, Kak Irgi sedang di UGD rumah sakit Medika. Tolong beritahukan pada Tante Marinka, aku tidak berani menelepon Tante. Kamu, bisa, kan? Memberitahukan secara pelan-pelan]
"Kenapa dengan Kak Irgi?" tanya Andin.
[Nanti saja, kita bicarakan disini. Aku tutup teleponnya]
Andin segera mengganti baju tidurnya, setelah selesai ia baru membangunkan Marinka.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Marinka bangun dan membuka pintu.
"Andin, mau kemana, sayang?" tanya Marinka karena Andin sudah memakai rok dan kaos longgar.
"Ma, kita harus segera ke rumah sakit. Kak Irgi sedang di UGD rumah sakit Medika," ucap Marinka.
"Kenapa Irgi bisa masuk ke rumah sakit?" tanya Marinka khawatir.
"Kita akan tahu disana nanti," jawab Andin.
"Ya, sudah. Mama bangunkan Papa Ronald dulu," ucap Marinka. Marinka menutup pintu dan Andin menunggu di ruang tamu. Marinka membangunkan Ronald dan berganti baju. Marinka tidak menjelaskan dengan terperinci dan hanya menyuruh Ronald mengantarnya ke rumah sakit. Ronald menurut dan mencuci muka lalu mengganti baju.
Mereka pergi dengan Ronald yang mengemudi. Karena sudah dini hari, Ronald tidak bisa memanggil sopirnya yang tidak tinggal di rumahnya. Marinka duduk di belakang bersama Andin. Andin memeluk Marinka, agar Marinka bisa sedikit tenang.
________________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
__ADS_1
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏