
Telah lebih dari seminggu, mereka pulang dari Jepang. Di hari senin yang cerah ini, hari pertama Andin, Ken, Jhon dan Joan masuk kuliah. Ken dan Andin berangkat berboncengan, bukan langsung ke kampus tetapi ke rumah Zidane.
Di sana Si Kembar sudah menanti mereka di pintu gerbang. Ken dan Andin tiba di depan gerbang.
"Uh, lama amat sih. Gue cemburu kalau lo bonceng Andin terlalu lama."
"Ya elah, Jhon. Emang aku bawa kemana pacarmu ini, kan ke sini untuk menemuimu."
"Sudahlah kalian ini, ayo berangkat Ken!" ucap Joan memisahkan pertengkaran Jhon dan Ken.
Andin turun dari motor Ken dan pindah ke motor Jhon. Mereka berangkat ke kampus bersama, karena mereka kuliah di Universitas yang sama, hanya berbeda jurusan. Ken masuk ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Bisnis, karena ia akan menggantikan Papanya mengelola bisnis mereka. Joan yang suka travelling, ia memilih masuk Fakultas Pariwisata. Andin sejak kecil suka menggambar dan melukis jadi ia masuk ke Fakultas Kesenian dan Desain. Jhon masuk Fakultas komputer, alasan ia memilih Fakultas itu tidak mau ia katakan.
Beruntunglah mereka, karena di Universitas itu tidak diadakan OSPEK. Direktur Universitas itu tidak mau mengadakan acara itu karena alasan keselamatan. Terkadang ada saja korban yang jatuh saat OSPEK, karenanya sang Direktur lebih baik menghilangkan acara itu.
"Ok, kita pisah disini. Bye semua!" ucap Joan.
Mereka berpisah di parkiran kampus, karena fakultas yang mereka tuju semuanya berlawanan arah.
Andin yang sifatnya memang sedikit pendiam, hanya berjalan lurus tanpa menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Ia hanya fokus menatap arah tujuannya, fakultas kesenian.
"Woi ... minggir!" teriak seorang pria yang berlari-lari di koridor. Ia sedang dikejar-kejar oleh dua pria lain dibelakangnya.
Andin menoleh ketika mendengar teriakan seseorang yang menyuruhnya minggir. Lalu tiba-tiba.
Brukkk
"Aakkhhh ...."
__ADS_1
Pria itu menabrak Andin dan jatuh berdua dengan Andin. Pria itu terjatuh tepat di atas tubuh Andin, dan bibir pria itu mendarat diatas kening Andin. Mata Andin mengerjap-ngerjap, ia mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Dua teman pria yang mengejarnya tadi, meledek pria yang terjatuh diatas tubuh Andin.
"Woi ... Riko, Riko, lo kalau mau ciuman jangan disini woi!" ledeknya.
Andin mendorong pria itu hingga terjengkang. Andin mengusap keningnya, dengan kesal ia memarahi pria yang bernama Riko itu.
"Kamu punya mata, kan?"
"Iyalah, gue punya mata. Makanya bisa lihat cewek cantik kaya lo!"
"Menyebalkan!" Andin pergi karena malas meladeni Riko.
"Hei, cantik. Kenalan dulu dong!" teriak Riko.
Andin mempercepat langkahnya. Dengan perasaan marah bercampur kesal, ia terus menggerutu.
"Kenapa hari ini aku apes banget sih, ketabrak bemo, nyosor keningku lagi!" gerutu Andin. Ia sampai di ruang fakultas kesenian dan duduk di kursi paling depan.
"Mereka tidak membawa tas atau buku, niat belajar atau niat main!" pikir Andin.
Ketiga pria itu berjalan ke arah Andin. Riko berdiri di depan meja, dimana Andin duduk. Riko mencondongkan tubuhnya dengan tangan bertumpu di atas meja.
"Canti, ini mejaku loh!" Riko mengedipkan sebelah matanya.
"Di atas meja ini tidak tertulis jika ini milikmu!"
"Benar, meja ini milik Universitas tetapi tempat yang kau duduki ini ... sudah menjadi tempatku sejak tadi. Kalau tidak percaya, lihatlah dibawah meja. Disana sudah ada tas dan buku kami bertiga."
__ADS_1
Andin melongok ke bawah meja dan benar saja apa yang Riko ucapkan.
"Aduh, kenapa aku gak lihat-lihat dulu tadi. Minta maaf saja terus pindah tempat duduk." Pikir Andin. Andin bangun dari kursinya.
"Maaf, aku salah. Aku akan pindah," ucap Andin. Riko segera menghalangi jalan Andin.
"Masa cuma minta maaf saja sudah selesai."
"Terus kamu mau apa? Jangan macam-macam atau aku akan melapor pada Dosen!"
"Ck, galak banget sih. Gue mau tau nama lo, dan sebelum lo sebutin nama lo, gue gak akan kasih jalan!" ancam Riko.
Andin berjalan ke samping meja yang lain, tetapi teman-teman Riko menghadang disana. Andin terperangkap ditengah meja dan kursi.
"Andin, cepat minggir!" Andin menyebutkan namanya sekilas dan mendorong Riko. Andin mencari tempat duduk paling belakang, supaya ia tidak dekat-dekat dengan Riko lagi.
***
Ken sudah mendapatkan tempat duduk di dekat jendela. Saat pelajaran di mulai, seorang guru wanita masuk dan menyapa anak Fakultas Ilmu Pengetahuan Bisnis.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Bidadari Cantika. Saya Dosen pengganti disini, sementara menggantikan Dosen utama yang sedang pergi umroh. Salam kenal semua, mohon kerja samanya!" Dosen wanita itu memperkenalkan diri.
Ken mendengar nama yang tidak asing ditelinganya, Bidadari Cantika. Ia yang awalnya hanya serius menatap buku pun jadi mengalihkan pandangannya ke depan kelas. Bidadari Cantika yang berdiri di depannya ini, bukanlah orang yang sama yang ingin Ken lupakan. Desahan lega keluar dari mulut Ken, ia ingin melupakan Bidadari dan setia pada tunangannya Joan. Dan itu akan sulit jika benar Bidadari muncul kembali. Untunglah hanya sebuah nama yang sama persis, tetapi orang yang berbeda.
*********(*((****(((******((((******(((((
Readers maafin author ya klo lama up
__ADS_1
serius deh nanti klo author dh gak sibuk bakalan author ganti dngn sering up
mhon mengerti readers tercinta.