
Tidak terasa seminggu sudah berlalu,liburan berakhir dan mereka harus kembali ke Jakarta.
"Tidak bisakah kalian berlibur lebih lama disini?" tanya Sulastri.Seminggu dengan kehadiran mereka membuat Sulastri merasa sangat bahagia.Rasanya Sulastri sangat berat melepas kepulangan mereka kembali ke Jakarta.
"Nek!,Rina sangat ingin menemani nenek tapi mas Zid tidak bisa meninggalkan pekerjaannya dan melepas tanggung jawab begitu saja.Kenapa tidak ikut kami saja ke Jakarta?"ucap Rina
"Kamu tahu,nduk..jawaban nenek tetap sama.Setiap kali kamu pulang,pasti mengajak nenek tinggal di Jakarta tapi jawaban nenek tetap sama,nenek lebih suka tinggal disini!.Disini awal kehidupan nenek dan nenek ingin disinilah akhir kehidupan nenek!" Sulastri memeluk cucunya,dengan berat hati harus melepas mereka.
Setelah acara pamitan penuh haru,mereka kembali ke Jakarta.Sampai di Jakarta,Ichal menurunkan Andin didepan rumah mereka.
"Andin,,kakak antar kak Chika dulu,ok!"ucap Ichal
"Ok!"jawab Andin
"Andin,,kak Chika pulang dulu ya!"Chika melambaikan tangan pada Andin.
"Iya,kak Chika hati hati!"Andin membalas lambaian tangan Chika.Saat Andin akan masuk ke rumahnya,Lara memanggilnya.
"Andin!!,sini sayang!" panggil Lara
(alangkah senangnya jika mamaku memanggilku sayang)gumam hati Andin.Andin menghampiri Lara yang berdiri digerbang rumahnya.
"Ada apa,tante?"
"Sudah malam,di rumah juga tidak ada siapa siapa kan?.Makan malam bareng tante dan Ken saja ya?"
"Gak usah tante!,Andin belum lapar kok!"
"Tidak usah malu,anggap tante sebagai mama kamu.Tante senang kok!,ayo masuk!" Lara menggamit lengan Andin dan membawanya masuk.Di meja makan ternyata bukan hanya Lara dan Ken tapi semua keluarga Lara dan Zidane berkumpul.Rina menatap iba pada Andin,dia teringat ucapan Joan di mobil dalam perjalanan tadi.
*flashback*
"Mah,,Andin kasihan banget deh ma!"
"Memangnya kenapa sayang?" tanya Rina
"Mama sama papa Andin bercerai dan menikah kembali tanpa memberitahu Andin.Mereka tinggal di luar negeri bersama keluarga baru mereka.Terus,Joan semalam melihat Andin menelpon mamanya tapi mamanya menutup telpon sebelum Andin ngomong!"
"Kasihan sekali,di usia belia harus hidup tanpa orang tua.Untung kakaknya anak yang baik dan menyayangi Andin!"
*flashback off*
__ADS_1
Andin menatap Joan,karena selama ini Joan tidak menyukai dirinya.Joan tersenyum menyapa Andin
"Sini,Ndin.Duduk dekat aku!" ucap Joan sambil menuntun Andin ke kursi.Setelah Andin duduk mereka pun mulai makan.Andin melihat betapa bahagianya keluarga Ken dan Joan.Tanpa sadar air mata Andin menetes melihat pemandangan yang selalu ada dalam impiannya.Impian sederhana Andin untuk bisa berkumpul dimeja makan bersama kedua orang tuanya dan Ichal.
"Andin,kenapa sayang?" tanya Lara yang melihat Andin menangis
"Tidak apa apa tante,,hikss..maaf Andin bahagia sampai menangis.Hehe..selama ini Andin hanya selalu makan berdua bersama kak Ichal.Sekarang bersama keluarga tante,Andin merasa impian Andin terwujud!"
"Sayang,,kan tante sudah bilang,anggap saja tante sebagai mama Andin!.Jangan sedih,suatu saat nanti pasti Andin bisa berkumpul dengan mereka!"
"Hem!" Andin hanya menjawab dengan deheman
(Lara tak pernah berubah.Hatinya selalu tidak bisa melihat anak anak yang bersedih.Dia penuh kasih sayang,saat dulu pertama bertemu dia juga sangat menyayangi Seren.Sungguh istri yang takkan pernah bisa ditemukan lagi dimanapun.Sungguh beruntungnya diriku!) gumam Syahdan
Selesai makan malam,mereka berkumpul di ruang keluarga.Berbincang sambil menonton televisi.
ting tong ting tong..
"Biar aku saja!"ucap Lara
ceklek
"Eh nak Ichal,nyariin Andin ya?" tanya Lara
"Iya!,masuklah nak Ichal!"
Ichal masuk kedalam mengikuti Lara.Ichal melihat Andin yang sedang tersenyum berkumpul bersama Joan,Jhon dan Ken.Hatinya merasa tenang
(Semoga saja Andin bisa melupakan masalah mama dan papa!,bertemu dengan Seren ternyata sungguh anugerah yang tak terhingga.Karena ingin mengejar Seren-lah yang membuatku jadi tinggal disini.Meski perasaanku berubah haluan,tapi setidanya aku tidak menyesal pindah kesini.Melihat senyum adikku yang tak pernah selepas ini selama ini.Sudah cukup untukku!) gumam hati Ichal
"Andin!" panggil Ichal.Andin menoleh dan menghampirinya
"Kak Ichal sudah pulang?"
"Sudah,kita pulang sekarang ya?" ajak Ichal.Andin mengangguk dan pamit
"Tante,om,semuanya Andin pamit pulang.Terima kasih buat makan malamnya tante!"
"Tak perlu berterima kasih.Tante senang kok kalau Andin suka masakan tante!"
Andin dan Ichal pun pulang.Ichal terus memperhatikan Andin yang terlihat sangat bahagia.Hati Ichal ikut bahagia melihatnya.
__ADS_1
Zidane,Rina dan duo kembar juga pamit pulang.Seren dan Ken juga sudah masuk ke kamar dan beristirahat.Lara mencuci piring dan gelas bekas teh dan cemilan saat menonton tv tadi.Bi Neni dan bi Eli sudah tidur di paviliun samping rumah.
Lara yang sedang serius membilas gelas terakhir yang dicucinya itu dibuat kaget dengan kelakuan Syahdan yang tiba tiba memeluknya dari belakang.
"Mas,,bikin kaget saja!"
"Kenapa kaget?"
"Karena aku sedang serius dan tak melihat mas!.Mirip hantu tiba tiba nongol!"
Syahdan mencium tengkuk Lara dengan lembut membuat Lara menggeliat geli.Lara menaruh gelas yang sudah dicucinya.Syahdan membalik tubuh Lara untuk menghadapnya.Syahdan lalu melumat bibir Lara
"Ummhh..masshh" Lara mendesah merasakan tangan Syahdan yang menyelinap kebalik bajunya dan mempermainkan kedua bukit kembarnya.Lara lalu mendorong Syahdan.
"Sayang,,ehmm mas kangen banget sayang!"ucap Syahdan ditengah tengah nafasnya yang memburu
"Aku tahu!,tapi tidak disini!,kalau anak anak lihat bagaimana nanti?"
"Hehe..tapi kita belum pernah mencoba bercinta didapur!" Syahdan mengangkat Lara dan mendudukannya di washtapel.Syahdan lalu melumat kembali bibir Lara.Lara terkejut dengan kenekatan Syahdan yang menurunkan CD Lara dan benar benar ingin melakukannya didapur dengan posisi Lara duduk di washtapel dan Syahdan berdiri.Lara mendorong Syahdan yang tersenyum mesum
"Mass..jangan gila kamu mas!,kalau anak anak kesini bagaimana!" Lara membentak Syahdan dengan suara pelan.Tapi Syahdan malah tersenyum lalu mencekal kedua tangan Lara kebelakang
"Makanya kita harus cepat dan jangan buang buang waktu,takut keburu ada orang yang mau kedapur!" Syahdan mencekal tangan Lara dengan satu tangan dan satu tangan yang lain menurunkan celananya dan mengeluarkan pusakanya.Syahdan melumat bibir Lara dan memasukan pusakanya pada gua Lara
"Ehmm..emm..hhh" Lara mendesah merasakan pusaka Syahdan yang bergerak maju mundur dengan lincah.Syahdan menurunkan ciumannya ke leher Lara dan menghisapnya kuat sambil terus bergerak maju mundur
"Aahhhh...aahhh..ahhhh..sshhhh..mas kamu benar be..nar mesum!" Lara mendesah tertahan karena takut terdengar oleh kedua anaknya.Saat Lara mencapai puncaknya dia menggigit pundak Syahdan untuk meredam erangan kenikmatannya
"Aahh..sayang!,dah sampe ya ehh ehh aku sebentar lagi sayang!. Aahhhh aahhh..nikmatnya!" Syahdan akhirnya mendapatkan puncaknya lalu segera mengeluarkan pusakanya dan menurunkan Lara dari washtapel.Syahdan menaikan kembali celananya begitupun Lara yang menaikan kembali CDnya.Lara lalu memukuli dada Syahdan
"Dasar gilaa!!,,Ehhmmm"
Syahdan melumat kembali bibir Lara agar tidak mengomel.
"Ternyata seru juga sayang,bercinta didapur.Seperti maling yang sedang dikejar polisi karena takut tertangkap.Meski buru buru tapi sungguh memuaskan.Kapan kapan lagi,ya?..Awww" Syahdan memekik karena Lara mencubit pinggangnya.
"Kamu tuh bikin aku deg degan tahu!,aku benar benar cemas tadi.Bagaimana kalau anak anak tahu kelakuan orang tuanya kaya gini!" Lara terus mengomeli Syahdan.Dan Syahdan lagi lagi hanya tersenyum geli.Lara mendorong Syahdan dan berlari ke kamar.Syahdan mengejar sambil berteriak
"Sayang,,tungguin dong.Lanjutin ya?,5× lagi!"
"Mass!!!"Lara membentaknya dengan kesal.Bagaimana bisa Syahdan selalu saja mengatakan hal hal mesum yang membuat wajah Lara memerah.Syahdan benar benar menunaikan niatnya melanjutkan permainan ranjang sampai berkali kali malam itu.Lara sampai lemas dan rasanya seluruh tulang Lara rontok.
__ADS_1
("Dasar gilaa..aku sudah tak semuda dulu tapi nafsunya masih sama seperti belasan tahun lalu.Masih sama seperti pertama kali aku menjadi istrinya") Lara menggumam sambil menaikan selimutnya untuk menutupi tubuh telanjangnya lalu terlelap dalam dekapan Syahdan.