Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
52. Terlambat pulang


__ADS_3

Joan merasa lelah setelah duduk di dalam gedung bioskop selama lima jam. Ia membeli dua tiket film dengan judul berbeda. Setelah film pertama diputar, Joan keluar dan masuk kedalam gedung bioskop yang lain. Meskipun ia menatap layar di depannya, tapi pikiran Joan berkelana entah kemana.


Ia membayangkan kembali, bagaimana perjalanan cintanya bersama Ken. Joan menolak perjodohan lama antara dirinya dan Rui demi bisa bersama dengan Ken. Namun Ken mengkhianati cintanya dan menyimpan nama wanita lain dihatinya. Joan menyimpan rasa sakit hatinya serapat mungkin. Ia mencoba tetap bertahan meski itu sangat menyakitkan.


Joan tidak mengerti, kenapa Ken harus semarah itu karena sebuah tuduhan yang tidak jelas. Joan mencoba menjelaskan semuanya dari awal, ia tidak mau Ken terus menuduh Joan selingkuh. Namun Ken tidak memberikan kesempatan sedikitpun untuk Joan. 


Tanpa disadari, film sudah berakhir. Lampu yang sedari tadi gelap, kini telah menyala kembali. Joan tersadar dari lamunannya ketika lampu dalam gedung bioskop itu menyala. Cahaya menyilaukan dari lampu di langit- langit gedung itu menyapa mata Joan, membuat Joan mengedipkan kedua matanya.


"Jam sebelas, ternyata sudah malam. Ah, semoga saja saat sampai di rumah bisa langsung tidur," gumam Joan sambil melirik jam di ponselnya. Joan merasakan ngilu di pinggangnya akibat terlalu lama duduk. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja dulu, jika sudah merasa lelah berjalan baru ia mencari taksi.


Joan berjalan menyusuri trotoar dengan langkah pelan. Ia melangkah sambil sesekali menoleh ke arah gedung-gedung perkantoran yang ia lewati, terkadang ia berhenti hanya sekedar melihat lampu-lampu jalanan. Suasana malam di Ibukota tidak seramai biasanya. Malam itu jalanan sedikit lengang dan tidak banyak yang lewat, sepertinya karena bukan malam minggu.


Saat melewati jalan di depan taman, Joan merasa bulu kuduknya berdiri. Joan merasa gelisah, jantungnya berdebar sangat cepat karena ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Suasana taman yang sangat sepi itu menambah rasa takut dalam hati Joan. Saat Joan mempercepat langkahnya, dua orang pria yang sejak tadi mengikuti Joan pun berlari dan menangkap Joan.


"TOLONG …. Lepaskan aku! Kalian mau apa? Lepaskan!" Joan memberontak, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kedua lelaki yang mencekal kedua tangan Joan. 


Salah satu diantara mereka mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat. Laki-laki yang memegang sapu tangan itu segera membekap mulut dan hidung Joan hingga Joan lemas dan tidak sadarkan diri. Sebuah mobil segera menghampiri mereka. Ternyata mereka tidak berdua melainkan bertiga dengan salah satunya mengikuti dengan mobil, setelah melihat kedua temannya berhasil membius Joan, barulah pria yang mengemudikan mobil menghampiri dan membuka pintu mobil. Mereka memasukkan Joan ke dalam mobil. Mobil melaju cepat meninggalkan jalanan taman yang sepi. 


***


Jhon menutup cafe setelah semua karyawannya pulang. Ia pulang ke rumah dan melihat Rina sedang mondar-mandir di teras depan rumah. Jhon menutup pintu gerbang lalu melangkah mendekati Rina.


"Ma, kenapa di luar?" tanya Jhon yang melihat raut kecemasan di wajah Rina.


"Joan belum pulang, Jhon. Ini sudah setengah dua belas malam, Joan tidak pernah telat sampai jam segini." Rina merasa sangat khawatir karena nomor Joan tidak dapat dihubungi. Rina tahu Joan tidak pernah lupa dengan batasan waktu dari kedua orang tuanya. Bahkan meski dengan Ken, Joan tetap hanya terlambat satu atau dua menit dari jam sebelas malam.


"Sudah telepon Ken? Mungkin Joan sedang bersamanya?" Jhon pikir kemungkinan itu bisa saja terjadi, karena mereka sedang bertengkar. Mungkin saja Joan di rumah Ken, karena Ken selalu menghindar di luar rumah.

__ADS_1


"Sudah, nomor Ken tidak bisa dihubungi. Mama telepon ke Tante Lara, dan katanya Joan tidak ada di sana. Ken juga sudah tidur sejak pulang dari kantornya," jawab Rina.


Jhon baru ingat, tadi sore Joan berpamitan untuk jalan-jalan. Jhon menelepon nomor Andin, siapa tahu Joan benar-benar pergi dengan Andin. Namun Andin sudah tertidur pulas di kamarnya. Saat Jhon menelepon, Andin menjawabnya dengan mata setengah terbuka. Ia menjawab bahwa ia tidak melihat Joan dan tidak tahu Joan pergi kemana. Kini Jhon sangat cemas tapi ia tidak boleh membuat orang tua mereka khawatir. Jhon pun berbohong pada Rina.


"Ma, Jhon baru ingat. Tadi sore Joan pamit pada Jhon kalau setelah main, dia mau pergi menginap di rumah temannya Irene," ucap Jhon.


"Benarkah?" tanya Rina memastikan.


"Ya, maaf Jhon lupa, Ma." Jhon mengajak Rina masuk ke dalam rumah.


 Jhon masuk ke kamar setelah Rina masuk ke dalam kamarnya. Ia mondar-mandir sambil berpikir bagaimana caranya ia keluar tanpa ketahuan Rina, Jhon harus mencari Joan. Jhon kemudian mengendap-endap lewat pintu belakang, Jhon mendorong motornya pelan-pelan agar tidak membangunkan Rina. Setelah melewati cafe, Jhon menghidupkan motornya dan segera melaju cepat menyusuri jalanan yang sepi. Sudah jam dua belas malam, dan Jhon merasa sangat khawatir padanya.


Drrttt! Drrttt!


Ponsel Jhon bergetar di saku kemejanya. Ia menepi dan melihat ID pemanggil. Jhon mengernyit heran, ia tidak mengenal nomor itu. Namun saat mendengar pria dari seberang telepon bicara. Jhon seketika pergi menuju alamat yang disebutkan pria itu.


***


"Tolong! Siapa saja, tolong aku!" teriak Joan. Tubuhnya berkeringat ketakutan. Ia mencoba menarik tangan dan kakinya, tetapi ikatannya begitu kuat. Joan tidak bisa melepaskan diri. 


"Tolong!" Joan terus berteriak.


Kreett!


Pintu gudang itu terbuka, bergeser perlahan. Pergesekan antara pintu besi dan lantai menimbulkan suara berderit. Napas Joan memburu, dadanya turun naik dengan cepat. Tampak sekali ketakutan di wajah cantiknya. Tiga orang pria masuk ke dalam gudang, mereka menggenggam ponsel Joan dan melangkah mendekat.


"Kalian si-apa? Kenapa kalian mengurungku? Aku tidak punya masalah de-ngan kalian." Joan memberanikan diri bertanya dengan suara terbata.

__ADS_1


"Hai, Nona manis. Tidak perlu takut, kami hanya ingin mengundang pacarmu Ken untuk datang kemari." Salah seorang pria bertubuh pendek dan gempal menjawab pertanyaan Joan sambil tersenyum misterius. Ia menunjukkan ponsel Joan dan membuka menu di ponsel Joan. Pertama kalinya Joan mengerti, mengapa banyak orang yang memakai kunci pengaman pada ponselnya. Karena Joan tidak memakai kata sandi di ponselnya, pria itu dengan mudah mencari nomor ponsel Ken di kontak telepon.


________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.

__ADS_1


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2