
Ken masih melaju di jalanan, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Namun Ken tidak mempedulikannya, ia tetap melaju di bawah guyuran air hujan yang turun. Untungnya ponsel Ken tipe anti air, dan tidak masalah jika basah terkena air.
Ia tidak peduli walaupun mungkin ponselnya akan mati dan rusak, ia hanya ingin untuk segera dapat menemukan Joan. Ia tidak peduli tubuhnya sudah mulai basah karena air hujan itu sudah menembus jaket yang dipakainya.
"Tunggu aku, Jo! Aku akan menyelamatkanmu," batin Ken.
Tak lama kemudian Ken sudah tiba di halaman sebuah rumah terbengkalai. Dua orang yang menculik Joan sudah menanti kedatangan Ken. Ken turun dari motor dan membuka helmnya. Ia menghampiri dua orang pria bertubuh besar, sedangkan satu orang yang berbadan kurus bertugas menjaga Joan.
"Berhenti di situ! Angkat tanganmu, jika kau berani melakukan perlawanan … gadismu akan lenyap," ucap salah satu dari mereka.
Ken menuruti perintah mereka karena ia belum melihat Joan. Ken takut jika mereka benar-benar melakukan sesuatu yang buruk pada Joan. Ken mengangkat tangannya tinggi dan dua penculik yang memakai jas hujan itu menghampiri Ken dan menelikung tangan Ken ke belakang punggungnya.
Salah satu diantara mereka membuka pintu gudang, dan pria yang memegangi Ken itu mendorong Ken untuk masuk ke dalam. Pria yang membuka pintu tidak ikut masuk tetapi berjaga di depan pintu gerbang. Ken dibawa masuk dan di dalam gudang, di bawah lampu terlihat satu orang pria lainnya. Pria itu menodongkan pistol di pelipis Joan.
Ken membelalak lebar saat melihat Joan dalam keadaan terikat dan di kepalanya menempel ujung pistol sang penculik.
"Siapa sebenarnya kalian? Jangan sakiti Joan! Jika kalian punya masalah denganku, maka biar aku saja yang menanggung. Jangan libatkan Joan!" Ken berteriak pada kedua penculik itu.
Penculik yang memegang pistol melangkah mendekati Ken dan menodongkan pistolnya di leher Ken. Joan sontak histeris dan berteriak.
"Jangan! Kumohon, jangan lukai dia!" Joan menghiba dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.
"Jo, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ken, memastikan keadaan Joan.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kamu datang? Dasar bodoh! Aku sudah menyuruhmu untuk tidak datang, kenapa kamu harus datang?!" Joan berteriak memaki Ken.
Ken dan Joan saling memohon, Ken memohon pada mereka agar melepaskan Joan dan Joan memohon untuk membebaskan Ken. Kedua penculik itu tersenyum misterius. Mereka lalu mendorong Ken hingga tersungkur di depan Joan yang terikat di kursi, lalu kedua penculik itu tertawa.
"Kalian saling meminta pengampunan untuk pasangan kalian. Sayangnya, bos kami menginginkan kalian berdua, hahaha," ucap penculik itu sambil tertawa.
"Nikmati waktu kebersamaan kalian, besok bos kami akan menemui kalian. Dan besok kalian akan tahu, siapa bos kami," ucap penculik yang lainnya.
Mereka lalu keluar dan meninggalkan Ken dan Joan dalam ruangan itu. Mereka menutup dan mengunci kembali pintu gudang. Setelah mereka pergi Ken segera memeriksa kondisi tubuh Joan.
"Jo, kamu sungguh tidak apa-apa, kan? Mereka tidak melukaimu? Aku bantu kamu melepaskan talinya," ucap Ken dengan khawatir. Ia mencari-cari alat yang mungkin bisa untuk membantu melepaskan tali kain yang mengikat tangan dan kaki Joan.
Ken mencari di antara tumpukan kardus yang berada di sudut gudang. Ken menemukan sebuah gunting, ia merasa heran, mengapa para penculik itu begitu ceroboh? Tapi Ken tidak mau memikirkannya lebih jauh, bukankah bagus untuknya. Dengan gunting itu, Ken bisa melepaskan ikatan Joan. Ken segera mengambil gunting itu dan menggunting tali kain yang mengikat Joan.
__ADS_1
Joan seketika bangun dari kursi dan mendorong Ken saat kedua tangan dan kakinya terbebas dari jeratan tali. Ken terjengkang ke belakang dan terduduk di lantai.
"Kita sudah putus, untuk apa kamu peduli padaku dan datang ke sini. Aku sudah menyuruhmu untuk tidak datang. Kamu bodoh!" Joan berteriak memaki Ken. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Ken. Ketika melihat Ken datang, perasaan Joan senang bercampur sedih. Joan senang karena Ken masih mempedulikannya tetapi ia sedih karena bisa saja Ken dianiaya oleh para penculik itu nantinya.
"Aku sayang kamu, Jo. Kamu pikir aku akan diam saja saat kamu diculik? Tidak, Jo. Aku tidak bisa melihatmu terluka," jawab Ken. Ken mundur dan duduk bersandar ke dinding gudang.
Joan terdiam mendengar penuturan Ken. Ia pun duduk di lantai dan bersandar di dinding yang sama dengan Ken tetapi sedikit menjauh dari Ken. Ken mendecih geli melihat Joan yang memilih duduk berjauhan dengannya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Kenapa kamu bisa diculik oleh mereka? Dimana mereka menculikmu?" tanya Ken. Ken mengajak Joan bicara agar ia sedikit tenang. Karena Ken melihat tubuh Joan gemetar ketakutan. Ken tahu seperti apa sifat Joan, dia terlihat kuat dan tegar di luar, tetapi sebenarnya hatinya rapuh dan lemah. Sama seperti wanita lain pada umumnya.
"Mereka menculikku di taman, saat aku berjalan untuk pulang," jawab Joan.
"Darimana?"
"Nonton." Joan melirik sekilas ke arah Ken. Ia melihat tubuh Ken yang basah kuyup, dari jaket dan celananya masih meneteskan air. Joan merasa terharu, Ken sampai rela menembus derasnya hujan demi dirinya. Pandangan Joan beralih kembali ke depan, kala Ken menoleh dan pandangan mereka beradu.
"Dengan siapa?" tanya Ken sambil menekuk kedua kakinya. Pakaiannya yang basah mulai membuatnya kedinginan. Ia memeluk kedua lututnya. Bibirnya mulai membiru, tubuhnya juga mulai menggigil.
"Dengan Radja … itu, kan, yang ada di pikiran kamu?"
"Bodoh. Kenapa jalan-jalan sendirian? Kamu bisa mengajak Andin atau temanmu yang lain," ucap Ken.
"Hem," jawab Ken singkat.
"Besok, bisa saja kita mati di tangan bos mereka. Bisakah kita selesaikan masalah diantara kita saat ini?" tanya Joan.
Ken diam tidak menjawab. Separuh hatinya menantikan penjelasan dari Joan, tapi separuhnya lagi Ken merasa takut untuk mendengar penjelasan dari Joan. Ia takut, jika seandainya Joan mengatakan kenyataan pahit bahwa hatinya memang sudah berubah.
Namun Joan tidak peduli, meski Ken tidak menjawab, Joan tetap menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Joan pun mulai bercerita.
***
*Satu hari setelah pulang dari Surabaya.
Setelah semalam Ken melihat Joan mengantar Radja sampai gerbang rumah, dan Ken melihatnya. Ken sedikit terlambat datang ke rumah Joan, karena harus mengantar Andin terlebih dulu ke rumah Marinka untuk mengambil tugas kuliah.
Saat Joan sedang menunggu Ken di pintu gerbang, Radja melewati rumah Joan.
__ADS_1
"Jo, belum berangkat kuliah?" tanya Radja dari dalam mobil. Radja menurunkan kaca mobil dan menyapa Joan.
"Belum, Pak. Sedang menunggu Ken," jawab Joan.
"Oh. Tapi ini sudah siang, kamu bisa terlambat kalau terus menunggu. Ikut saja dengan saya, bagaimana?" tanya Radja.
Joan melirik jam tangannya, memang akan sangat terlambat jika Ken tidak segera datang. Namun Joan takut untuk naik ke dalam mobil Radja. Joan takut jika Ken kembali marah padanya kalau sampai Ken tahu, Joan berangkat ke kampus bersama Radja.
"Kenapa? Takut saya makan kamu? Hahaha. Tenang saja, saya lewat di sini karena ingin menjemput tunangan saya, jadi kita akan berangkat bertiga. Tidak ada kesempatan untuk saya jika ingin memakanmu," kelakar Radja.
Joan tersenyum menanggapi ucapan Radja. Dan saat Ken datang, Ken hanya melihat senyum Joan dan melihat Joan masuk ke dalam mobil Radja lalu berangkat bersamanya.
_________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏