
"Ma, Seren, kenapa?" tanya Irgi khawatir.
"Kamu itu kemana? Bikin anak kesayangan Mama, menangis seperti ini. Jelaskan sama Mama! Apa kalian bertengkar?" tanya Lara.
"Irgi tidak bertengkar dengan Seren. Irgi tadi pergi ke rumah Mama Marinka, dan Seren sedang tertidur. Irgi baru saja datang ke apartemen, karena tidak melihat Seren, jadi Irgi menelepon," jawab Irgi mencoba menjelaskan.
"Gie Gie," panggil Seren. Seren mencoba menahan tangis dan mengusap air matanya.
Irgi sedikit tersentak mendengar Seren memanggilnya Gie Gie. Sudah lama, Irgi tidak mendengar panggilan itu dari Seren. Itu adalah nama panggilan sayang saat mereka baru menjadi sepasang kekasih.
Seren bangun dari sofa dan melangkah pelan menghampiri Irgi. Seren memeluk Irgi dan tangisnya kembali tumpah. Irgi sungguh bingung dengan sikap Seren. Tidak hanya Irgi, Lara juga dibuat heran. Karena sejak datang ke rumah Lara, yang Seren lakukan hanya menangis. Awalnya Lara pikir, Seren dan Irgi sedang bertengkar. Namun melihat Seren yang memeluk dan menangis dalam pelukan Irgi, Lara menyimpulkan, mereka tidak sedang bertengkar. Lalu, apa yang membuat putrinya itu menangis hampir satu jam lebih.
"Sayang, sudah, ya. Jangan menangis, aku di sini, ok! Kamu ceritakan pada Kakak dan Mama. Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Irgi sambil mengajak Seren untuk duduk. Mereka duduk berhadapan dengan Lara, hanya meja yang memisahkan jarak diantara mereka. Seren menghentikan tangisannya, dengan suara masih terisak, Seren pelan-pelan mulai bercerita. Irgi dan Lara mendengarkan dengan seksama.
"Tadi, saat kamu pergi, aku terbangun. Aku memakan sarapan yang kamu buat. Karena aku penasaran dengan ucapan kamu semalam soal kemungkinan jika aku hamil, aku pergi sendiri ke rumah sakit. Aku takut kamu juga akan kecewa, jika kita pergi bersama ke rumah sakit seperti yang sudah-sudah. Aku menjalani beberapa tes, dokter itu bilang, hiks hiks hiks." Seren kembali menangis tersedu-sedu.
Irgi dan Lara paham situasinya sekarang. Hasil dari semua tes itu pasti tidak baik, karenanya Seren sedih dan menangis. Lara juga kasihan melihat Seren. Lara membatin, pasti Seren sangat sedih, kecewa. Namun Irgi dan Lara mencoba menguatkan Seren dan menghiburnya.
"Sayang, akan tiba saatnya nanti. Kamu juga pasti akan hamil, sabar, sayang," ucap Lara.
"Ya, sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja kita masih sedang berpacaran, jadi kita jalani kehidupan berdua saja juga tidak apa-apa. Belum hamil juga tidak masalah," ucap Irgi sambil memeluk Seren.
"Tapi aku hamil, Gie."
"Ya, aku tahu. Apa?!" Irgi awalnya menjawab dengan pelan, tapi seketika ia sadar apa yang ia dengar barusan. Irgi melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Seren.
"Kamu bilang apa barusan?" tanya Irgi ingin memastikan pendengarannya.
__ADS_1
"Dokter bilang, aku positif hamil. Usia kandunganku baru tiga minggu," ucap Seren sambil tersenyum dan menghapus sisa air mata di pipinya.
Lara mengucap syukur mendengar Seren hamil. Ia ikut bahagia dan tersenyum.
"Sungguh, sayang?"
Seren mengangguk.
"Terus kenapa mendapat kabar baik seperti ini kamu malah menangis?" tanya Irgi.
Dan pertanyaan Irgi dibalas kemarahan oleh Seren.
"Gie Gie jelek. Seren benci sama Gie Gie," ucap Seren, lalu ia pergi ke kamarnya dan mengunci pintu.
Irgi bertanya pada ibu mertuanya karena Seren malah ngambek mendengar pertanyaan darinya.
"Karena kamu juga aneh bertanya seperti itu. Seorang istri yang sudah dua tahun menanti kehamilannya, saat dia hamil dia menangis tersedu. Kamu pikir itu tangisan apa? Masih bertanya, tentu saja, itu adalah tangis bahagia. Saking bahagianya ia sampai menangis tersedu, paham," ucap Lara sambil berjalan pergi ke dapur, meninggalkan Irgi yang sedang merutuk dirinya sendiri.
"Ya, ampun. Apa karena aku terlalu kaget mendengar Seren hamil, sampai otakku ini tidak bekerja. Tentu saja itu tangis bahagia," gumam Irgi.
Irgi segera menyusul Seren ke kamar. Irgi mengetuk pintu kamar, tetapi Seren benar-benar kesal dengan Irgi. Seren memilih tidur saja. Kehamilan Seren merubah kelakuan Seren. Biasanya ia tidak bisa tidur di siang hari, juga tidak bisa tidur jika ada suara. Namun, suara ketukan pintu dari Irgi saja tidak bisa membangunkan Seren.
"Sayang, maafin kakak, ya!" Irgi meminta maaf di depan pintu. Irgi merasa sedih karena Seren tidak mau memaafkannya. Padahal Seren bahkan tidak mendengar kata-kata Irgi. Seren sudah terlelap dan berkelana di alam mimpi. Irgi duduk bersandar di depan pintu, ia akan menunggu disana sampai Seren memaafkannya. Irgi kembali tersenyum karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Irgi benar-benar sangat bahagia.
Lara di dapur sedang menyiapkan minuman untuk Irgi dan Seren. Lara juga membuatkan kopi untuk Syahdan yang sedang membersihkan halaman belakang. Sebenarnya mereka punya tukang kebun, tetapi Syahdan sudah tidak lagi bekerja di kantor dan ia tidak mau berdiam diri. Agar punya kegiatan untuk beraktifitas dan tetap bergerak, Syahdan membersihkan rumput di halaman belakang dan tukang kebunnya mengerjakan di halaman luar.
Lara menyodorkan segelas jus mangga pada Irgi yang sedang duduk bersandar.
__ADS_1
"Ini, minumlah, sambil menunggu Seren keluar," ucap Lara. Karena Seren tidak mau membuka pintu saat Lara memanggilnya, Lara membawa jus mangga dan kopi ke halaman belakang.
_________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏