Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
18.Sayatan tak terlihat


__ADS_3

Malam itu Andin pergi ke rumah Chika, karena kakak iparnya itu selalu bisa menenangkan Andin, di saat Andin lelah menghadapi sikap egois Jhon. Entah kenapa Andin kali ini sangat sakit hati dengan ucapan Jhon. Marinka juga sangat baik bagaikan ibu kandung Andin. Ia merasa beruntung walaupun kedua orang tuanya mencampakkannya, tetapi ia memiliki Ichal, Chika, Marinka, teman-temannya juga selalu baik terhadap Andin. Hanya ada satu orang yang selalu meninggalkan sayatan-sayatan kecil dihatinya, Jhon.


Andin melamun di kamar bekas Irgi. Sejak Irgi menikah, kamarnya dipakai oleh Andin ketika ia menginap. Andin duduk di ranjang dengan dua lutut ditekuk, ia menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut. Ia terus terisak merasakan sakit di hatinya.


Ngamar? Dia pikir aku wanita seperti apa? Kenapa dia tak pernah sekalipun menyadari kesalahannya? Kenapa dimatanya selalu diriku yang salah. Aku lelah, lelah menghadapi sikap egoisnya, lelah selama ini mengalah, aku selalu diam. Bukan karena aku tidak mampu menjawab, tetapi karena aku terlalu mencintaimu. Mungkin aku bodoh, bodoh karena selalu mencintaimu meski kau terus menyakitiku. Aku lelah, Jhon.


Hati Andin meratap pilu, mengenang kisah cintanya yang tak seindah orang lain. Selama ini Jhon selalu memamerkan kerukunannya bersama Andin kepada Ken dan Joan. Jhon tidak pernah sadar, jika kerukunannya adalah karena Andin selalu mengalah.


Tok tok tok.


Andin segera menghapus air matanya dan membukakan pintu.


"Mama, Mama belum tidur?" Andin memalingkan wajahnya dari Marinka.


"Bagaimana bisa Mama tidur, kalau putri Mama masih menangis, hum."


Marinka memeluk Andin dan mengusap punggungnya. Seketika tangis Andin pecah, ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Marinka.


"Keluarkan semua tangismu, menangis diam-diam dan tertahan itu bisa membuatmu makin merasa sesak. Menangislah, Mama akan menunggu sampai Andin bisa lebih tenang. Setelah merasa lega, kita akan bicara, ok!" Ucap Marinka, seraya terus mengusap punggung Andin.


Tangisan Andin terdengar sampai ke kamar Ichal dan Chika. Tangisan Andin kali ini benar-benar menyayat hati, siapa pun yang mendengarnya pastilah akan menangis. Tidak terkecuali Ichal, sang kakak tengah duduk di kamarnya dengan tangisan tertahan. Chika mengusap bahu Ichal dan memeluknya dari samping.


"Apa yang terjadi dengan Andin? Kenapa tangisannya begitu memilukan?" Ichal mencengkram seprei.


"Aku tidak tahu, Kak! Semoga saja Mama bisa menenangkan Andin." Chika mencoba menghibur Ichal yang sedih memikirkan Andin.


***


Di kamarnya, Jhon hanya berbaring sambil memegang ponselnya. Ia ingin menelepon Andin, tetapi hatinya bertolak belakang dengan pikirannya.


"Sudahlah, nanti juga Andin menelepon lebih dulu."


Jhon menaruh ponselnya di nakas, ia kemudian mencoba untuk tidur.


***


"Cerita sama Mama, ada apa lagi? Jhon lagi?" Marinka menuntun Andin ke ranjang, mereka duduk di tepi ranjang.


"Ma, Andin lelah, Ma!" Ucap Andin.


"Sayang, sebuah hubungan harus didasari saling pengertian, jika pasangan kita selalu egois dan tidak mau menyadari kesalahannya, maka untuk apa dipertahankan?" Marinka menangkup kedua pipi Andin, mengusap air mata Andin dengan kedua ibu jarinya. Andin mencoba tersenyum lalu kembali memeluk Marinka.


Marinka kemudian membaringkan Andin lalu menyelimutinya. Marinka mengusap-usap rambut Andin hingga ia tertidur. Setelah Andin tertidur, Marinka mematikan lampu dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


***


Sementara Jhon tidak bisa tidur, ia terus berguling ke kiri dan ke kanan. Hingga tengah malam, Jhon tetap tidak bisa memejamkan mata. Ia berulang-ulang melihat ponselnya, berharap Andin mengiriminya pesan seperti biasanya. Pagi hari Jhon terbangun dengan lesu, ia hanya tidur satu jam sebelum berangkat kuliah.


Jhon menunggu Ken datang, tetapi saat Ken datang Jhon kecewa. Andin tidak ikut bersama Ken.


"Pagi, Jhon," sapa Ken.


"Lo, gak sama Andin?"


"Andin tidak ada di rumah, waktu aku telepon katanya menginap dirumah Kak Chika dari semalam. Mungkin bakal lama menginapnya," jawab Ken.


"Dia bilang gak, kenapa dia harus menginap lama di sana?" Jhon penasaran.


"Dia bilang, dia pengen main sama keponakannya. Lihat bayi Kak Chika menggemaskan, dia jadi malas pulang. Oh, ya, Joan mana?" Ken celingukan karena tak melihat Joan.


"Lo kaya gak tahu aja, dia kalau dandan lama!" Ucap Jhon sambil tersenyum. Ia tersenyum tetapi hatinya gusar.


"Ken, Andin mana?" Joan keluar dari rumah dan menghampiri Ken.


"Nginap," jawabnya singkat.


"Ya, sudah, kita berangkat."


"Loh, tumben belum beeangkat? Ini sudah siang, nanti kamu terlambat. Papa kan sudah bilang, ambil kuliah siang saja. Lihat kan, malas kalau berangkat pagi-pagi!" Ucap Zidane.


"Ini mau berangkat kok, Pa," jawab Jhon. Ia lalu melaju ke kampus dengan pikiran yang melayang entah kemana.


***


"Andin, berangkat kuliah tidak?" Marinka mengetuk pintu kamar Andin.


ceklek.


"Berangkat, Ma," jawab Andin yang sudah rapi memakai dress hitam dan menenteng tasnya. Marinka tersenyum menggandeng Andin untuk sarapan. Di meja makan, ternyata sudah ada Ichal, Chika, Seren, dan Irgi.


"Kak Seren, Kak Irgi, kapan datang?" Andin menarik kursi dan duduk di depan mereka.


"Baru saja. Tadinya cuma mau lihat Mama, eh malah ditarik buat sarapan. Andin menginap di sini?" Irgi balik bertanya pada Andin.


"Ya," jawab Andin.


Merekapun sarapan bersama, karena arah kampus Andin dan kantor Irgi searah jadi Andin berangkat bersama Irgi. Seren pulang ke apartement dengan menggunakan taksi.

__ADS_1


***


Di kampus, Riko dan kedua temannya sudah berpindah tempat duduk. Mereka menukar kursi mereka dengan kursi di samping Andin. Riko tersenyum setelah menaruh tasnya di kursi sebelah Andin, Riko pergi ke kantin sebelum kelas di mulai.


Jhon menunggu Andin di parkiran, ia mondar mandir dengan gelisah menunggu Andin. Jhon tidak melihat saat Andin turun dari mobil Irgi, karena Amira memanggil Jhon.


"Jhon, sedang apa?" Amira berdiri di samping Jhon.


"Gak ngapa-ngapain, udahlah gue mau ke kelas," Ucap Jhon.


Setelah melihat Jhon pergi dari parkiran, barulah Andin masuk ke gerbang kampus dan langsung menuju fakultas seni.


Joan berada di ruangan Dosen, ya, karena ulahnya kemarin, Joan dihukum Asisten Dosen.


"Ini materi hari ini, kamu bawa dulu ke kelas dan suruh mereka mengisi tugas itu dulu. Saya akan masuk satu jam lagi," ucap Dosen.


"Baik, Pak. Saya permisi," jawab Joan sambil membawa selembar kertas ke ruang fakultas pariwisata. Meski dengan hati jengkel, tetapi Joan bersyukur karena Dosen itu tidak menyuruhnya yang macam-macam.


***


Andin duduk di kursi dan merebakan kepalanya di meja sambil menutup mata. Ketika ia membuka mata, ia terkejut karena di depan wajahnya ada wajah Riko.


"Kamu!!"


"Ya, ini gue. Kenapa tidur di kelas? Gak bisa tidur ya semalam? Pasti mikirin gue," ucap Riko dengan percaya diri.


Andin bangun dan menenteng tasnya, ia bermaksud pindah tempat duduk. Sialnya bagi Andin, karena di sisi yang lain dihadang temannya Riko. Dosen masuk ke kelas, dengan terpaksa Andin segera duduk. Ia duduk ditengah-tengah Riko dan temannya, mahasiswi lain kasak kusuk bergosip tentang Andin.


--------------------------------------


Dkung author terus ya genks..


dengan cara


LIKE, COMENT, STAR, VOTE jg ya


semoga kalian tetap setia sm author


meski author upnya gaje, kdng up kdng enggak.


harap maklum karena author ada kesibukan lain


love you readers muachh

__ADS_1


__ADS_2