
Halo readers,
Aku minta maaf karena baru update
Berikan like dan vote kalian ya, buat yang suka dengan novelku aku ucapkan terima kasih dan buat yang tidak suka, aku minta maaf jika novelku tidak sesuai harapan dan keinginan kalian.
Author cuma manusia biasa, wajar rasanya kalau berbuat salah. Maaf jika author bikin kalian kecewa, mungkin dari alur atau dari update yang tidak tepat waktu. Author mohon dimaafkan.
Sudahlah sekarang kita lanjut kisahnya.
----------------------------------------------------
***
Di apartemen, Seren dan Irgi sedang sarapan. Irgi sudah rapi dengan setelan jas abu-abu, hari ini Irgi harus pergi ke Surabaya dan tinggal disana beberapa bulan. Perusahaan Irgi membuka cabang perusahaan konstruksi disana, dan Irgi sendiri yang mengatur konsep bangunannya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa, aku akan lama disana.”
“Kamu tidak akan pulang ke sini?” Seren mengaduk nasi goreng dalam piring, ia terlihat sedih.
“Aku pulang, tapi cuma bisa sebulan sekali. Kenapa tidak ikut saja kesana?”
“Aku tidak mau! Bolehkah jika aku minta izin untuk bekerja, agar aku tidak kesepian dan punya kegiatan.”
“Boleh saja, tetapi jangan terlalu capek, oke.”
“Terima kasih, Sayang,” ucap Seren tersenyum. Mereka menghabiskan sarapannya, setelah itu Seren mengantar Irgi keluar.
“Aku berangkat dulu, jaga kesehatanmu,Sayang,” ucap Irgi sambil mengecup kening Seren.
Seren menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu lift. Seketika dunianya terasa hampa, memang Irgi sering pergi ke luar kota, tetapi hanya beberapa hari. Namun kali ini Irgi pergi untuk delapan bulan. Seren kembali ke dalam apartemen, ia mencuci piring lalu membersihkan ruangan.
Dia duduk bersandar di sofa setelah selesai menyapu dan mengepel. Belum ada satu jam Irgi pergi, tapi apartemen itu terasa seperti padang pasir yang tandus. Seren merasa gersang tanpa kehadiran Irgi meski belum lama berpisah. Untuk mengalihkan rasa jenuh, Seren pergi ke rumah orang tuanya.
***
Di kampus
Jhon berdiri di parkiran, ia menunggu Andin datang. Sudah lebih dari tiga hari ini, Andin terus menghindari Jhon. Tak lama Jhon melihat Andin turun dari mobil Ichal, setelah mobil itu kembali melaju, John segera menghampiri Andin.
“Din, kita perlu bicara.”
__ADS_1
“Bukan kita, tetapi kamu. Selama ini selalu saja pembicaraan kita itu tentang kamu. Aku malas bicara sama kamu,” ucap Andin sambil melangkah meninggalkan Jhon, tapi Jhon mencekal tangan Andin saat melewatinya.
“Apa maksud kamu? Maksudnya aku egois, begitu maksud kamu?” Jhon mencengkram kuat tangan Andin hingga Andin meringis kesakitan.
“Lepaskan tanganku, sakit!” bentak Andin. Ia menarik tangannya, tetapi Jhon tidak mau melepaskannya.
Ken dan Joan yang baru tiba di kampusnya segera berlari. Riko yang memang selalu memperhatikan Andin itu juga berlari, ia menepis tangan Jhon dengan kuat sehingga tangannya terlepas dari Andin.
“Jangan kasar sama cewek, Bro. Lo gak malu apa dilihat banyak orang?” Riko menarik Andin agar berdiri di belakangnya.
Jhon memicingkan matanya, rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal. Emosinya tak terkendali dan dia menghajar Riko, tapi Riko menahan tangan Jhon, Jhon menjadi semakin geram. Ia menarik tangannya lalu mendorong Riko, kemudian Jhon kembali melayangkan tinjunya.
Bugh.
“Jhon, hentikan!!” teriak Joan.
Jhon mundur seketika setelah tangannya tepat mengenai pipi seseorang, dan itu bukan Riko melainkan Andin. Bibir Andin mengeluarkan darah segar, Andin memegang pipinya.
“Andin… aku… aku tidak sengaja. Kenapa kamu harus melindungi laki-laki ini, apa kau sungguh berselingkuh dengannya?” Jhon bukannya minta maaf, ia justru membuat Andin makin sakit. Bahkan sakit hatinya lebih parah dari luka memar di pipinya.
“Jhon, kamu keterlaluan! Meskipun kau saudaraku, tetapi aku tidak suka kelakuan egois kamu.”
Joan memeluk pundak Andin, Andin meneteskan airmata dan hal itu membuat Riko marah. Ia pun maju dan menghajar Jhon.
Bugh.
“Cukup!! Riko antar aku ke kelas.”
Riko mengantar Andin ke ruang fakultas seni. Ia mengacungkan telunjuk ke wajah Jhon, dan Jhon hanya berdiri terpaku melihat kepergian Andin. Ken dan Joan mendekati Jhon.
“Jhon, memang tidak bisa dibicarakan baik-baik? Cara kamu yang seperti ini malah membuat masalah semakin rumit,” ucap Ken. Jhon diam tak bergerak, ia bahkan tidak mendengar apa yang Ken ucapkan. Jhon hanya memandang lurus, melihat punggung Andin yang berjalan menjauh bersama Riko.
Ken dan Joan pergi ke ruang fakultas masing-masing, meninggalkan Jhon yang masih berdiri terpaku di parkiran. Dia mendecih kasar lalu pergi dengan motornya, entah kemanakah arah yang dituju oleh Jhon, ia hanya melaju cepat membawa motornya meninggalkan parkiran kampus. Dia tidak ingin belajar, karena pasti ia tidak akan bisa fokus.
***
Ting tong ting tong.
Seren menekan bel rumahnya, ia menggunakan taksi untuk sampai di rumah. Seren berdiri di depan pintu, sambil menatap halaman rumahnya. Ia tersenyum mengingat saat ia masih remaja dan bermain bersama adiknya, Ken. Pintu terbuka, menunjukkan wajah Lara yang pucat.
“Mama, mama sakit?” ucap Seren segera memeluk Lara dan memapahnya untuk duduk.
__ADS_1
“Mama tidak apa-apa,” jawab Lara tersenyum.
“Wajah Mama sangat pucat, masih bilang tidak apa-apa.”
“Cuma meriang biasa saja, kamu hanya terlalu khawatir.”
“Seren antar Mama ke rumah sakit, tidak ada penolakan. Ayo, Ma.” Seren memesan taksi online dan memapah Lara setelah taksinya datang.
Di rumah sakit, Lara dan Seren bertemu dengan Andin yang sedang mengantri obat. Lara menarik Seren untuk menyapa Andin.
“Andin, bukannya kuliah? Kenapa ada disini? Wajah kamu kenapa?” Lara memegang pipi Andin yang membiru.
“Tidak apa-apa, Tante,” ucap Andin tersenyum.
“Din, ini obatnya dah gue tebus,” ucap Riko menghampiri Andin yang berdiri tidak jauh dari loket obat.
“Sebenarnya kamu kenapa, sayang?” Lara mengusap pipi Andin.
“Andin terjatuh di kampus, Tante,” jawab Andin. Andin tidak mau membuat Lara khawatir, tetapi berbeda dengan Riko.
“Andin dihajar Jhon.” Riko menyanggah ucapan Andin.
“Dihajar? Benar, Andin?” Lara mengguncang pundak Andin.
Andin menatap Riko, dengan pandangan kecewa. Seharusnya Riko tidak berkata seperti itu, karena itu membuat Lara jadi khawatir. Ditambah lagi, orang yang Riko bicarakan adalah keponakan Lara. Andin diam tidak bisa membenarkan atau menyangkal. Namun kebisuan Andin sudah menjelaskan segalanya.
-----------------------------------------------
♡hai reader ♡
Ingat slalu untuk meninggalkan jejak ya
Silakan juga kalian klik akunku dan baca karyaku yang lain barang kali suka hehe
Sambil menunggu novel ini up,
Karena author sedang tidak bisa up rutin.
Smoga kalian tetap setia, stay terus disini
I ♡ reader. . .
__ADS_1
Maaf kalau author gak balas satu satu komentar kalian tapi author sangat suka dengan komentar kalian jadi author psti ksih jmpol
Apalagi komentar2 lucu ya kdng bikin author ketawa2