Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
27. Mencari cara


__ADS_3

Di kampus


Joan duduk di bawah pohon, di parkiran kampus. Joan menunggu Ken, untuk pulang bersama. Hari ini dosen fakultas pariwisata tidak hadir, jadi Joan pulang lebih awal. Mahasiswa dan mahasiswi fakultas pariwisata, hanya membahas soal festival seni dan budaya yang akan mereka ikuti. Setelah selesai berdiskusi, mereka pun pulang. Joan sudah menunggu Ken selama lebih dari satu jam. Namun, belum ada tanda-tanda kehadiran Ken.


Dari kejauhan, Joan melihat Riko yang masuk ke dalam mobil. Joan bangun dan berlari menghampiri mobil Riko. Joan mengetuk kaca mobil beberapa kali. Riko menoleh ke arah Joan, yang berdiri di samping mobilnya.


"Hei, bisakah kita bicara?" tanya Joan.


Riko mencoba mengingat Joan, dan Riko ingat, bahwa Joan adalah saudara kembar Jhon. Riko pun membuka pintu mobil dan keluar.


"Kamu, temannya Andin, kan?" tanya Joan.


"Kamu saudara kembar Jhon?" Riko malah bertanya balik.


"Ya, kau benar. Aku saudara kembar Jhon, aku Joan." Joan mengulurkan tangan. Riko menyambut uluran tangan Joan.


"Ada masalah apa? Kenapa mencariku?" tanya Riko.


"Bisakah, jika kau jauhi Andin? Kehadiranmu didekat Andin, membuat hubungan mereka semakin rumit," ucap Joan.


Riko tersenyum sambil memalingkan wajahnya sekilas, ke arah lain. Kemudian Riko kembali menatap Joan dan menjawab permintaan Joan.


"Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Hubungan cinta Andin dan Jhon, tidak ada hubungannya denganku. Aku suka berteman dengan Andin, dan tidak ada larangan untukku, harus menjauhi temanku," jawab Riko.


"Hubungan pria dan wanita, selalu diawali dengan kata teman. Aku tahu, kau menyukai Andin. Meski kau menutupinya dengan kata teman," ucap Joan.


"Jika kau tahu, lalu kenapa? Aku tidak peduli, permisi," ucap Riko sambil membuka pintu mobil. Riko pergi meninggalkan Joan, yang masih berdiri terpaku di parkiran.


Ken tiba di parkiran, ia melihat Joan melamun, di area parkir khusus roda empat. Ken berjalan menghampiri Joan dan menyapanya.


"Hei, sayang. Sedang apa?" tanya Ken.


Joan terperanjat kaget, karena Ken tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Dia tersenyum dan salah tingkah.


Ken lihat aku dan Riko tidak, ya? Tidak masalah jika Ken lihat, aku hanya khawatir, Ken salah paham.

__ADS_1


Joan menatap lekat kedua manik mata Ken. Dan senyuman yang tercetak di bibir Ken, membuat Joan juga tersenyum. Ada rasa lega, di hati Joan, karena Ken tidak terlihat marah.


"Kamu, kelamaan nungguin aku, terus kesambet penghuni pohon, ya?" goda Ken.


"Kamu jahat, sayang. Masa, aku dikatain kesurupan. Aku pulang sendiri aja, sebel lihat kamu," ucap Joan sambil melangkah meninggalkan Ken.


"Sayang, tunggu!" ucap Ken sambil mengejar Joan.


"Maaf, jangan marah, ya?" Ken merayu Joan.


Joan tersenyum dalam hati. Sebenarnya, Joan hanya berpura-pura marah. Joan sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak lagi bersikap kekanakan. Dia ingin selalu bersama Ken, selamanya. Hingga mereka bisa bersanding di pelaminan.


"Sayang," ucap Ken, masih mencoba merayu Joan.


"Apa?"


"Jangan marah!" ucap Ken.


"Aku tidak marah, tapi lapar. Makan siang, Yuk!" ajak Joan sambil merangkul lengan Ken. Ken menarik napas lega, karena Joan tidak marah. Mereka pergi menaiki motor Ken.


"Kamu itu selalu saja, mengikuti pesananku. Memangnya tidak ada sesuatu yang kamu inginkan, sayang?" tanya Joan. Seperti biasa, Ken hanya tersenyum, saat Joan bertanya seperti itu.


"Selalu tersenyum, tidak mau menjawab," ucap Joan merengut.


Pesanan mereka datang, pelayan itu mempersilakan dan menyajikannya di meja. Joan meminum jusnya, lalu berbicara serius dengan Ken.


"Sayang, bantu aku mencari ide, untuk membuat Andin dan Jhon baikan." Joan berbicara sambil memotong kentang panggangnya.


"Kita ajak mereka nonton. Kamu ajak Andin, aku yang akan membawa Jhon," ucap Ken.


"Baiklah, lusa, kan, malam minggu. Eh, sayang, lebih baik aku yang ajak Jhon. Lebih praktis, Andin tinggal di samping rumahmu, lebih baik kamu yang ajak Andin. Cari alasan yang masuk akal, supaya Andin tidak curiga," ucap Joan. Ken mengangguk setuju. Setelah makan siang, Ken mengantar Joan pulang. Setelah mengantar Andin, Ken pergi ke kantor.


***


Di kantor Syahdan.

__ADS_1


Seren baru saja selesai makan siang di kantin kantor. Seren malas pergi keluar, karena ia tidak membawa kendaraan. Saat hendak masuk ke ruang kantornya, Iis, sekretarisnya, memberitahu jika tadi, Irgi menelepon. Seren lupa membawa ponselnya.


Seren segera masuk dan mengambil ponselnya. Tiga kali panggilan tidak terjawab dari nomor ponsel Irgi. Seren segera menelepon Irgi kembali.


Lagu 'Valentin' nada sambung pribadi terdengar dari seberang. Seren menunggu dengan cemas.


"Lama sekali, apa Kak Irgi marah? Semoga saja, tidak," gumam Seren. Ia takut jika Irgi marah, karena Seren tidak menerima panggilan dari Irgi. Seren mencoba sampai tiga kali, tapi yang ketiga kalinya, Irgi mematikan daya ponselnya. Seren makin yakin, Irgi sedang marah.


Tok tok tok.


" Masuk!" ucap Seren saat pintu ruangannya diketuk.


"Selamat siang, Ibu Direktur," Ken melongok ke dalam ruangan Seren.


"Sudah pulang?" tanya Seren dengan wajah lesu.


"Baru sehari, sudah lesu begitu, haha," ledek Ken sambil tertawa.


Ken berhenti tertawa karena Seren sama sekali tidak bereaksi apa-apa, tidak tertawa ataupun marah. Seren berjalan ke jendela ruangannya. Ia berdiri menatap jalanan di depan gedung. Ken tahu, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran kakaknya itu.


"Apa ada masalah? Kakak melamun sedari tadi, sampai aku pun tidak dianggap ada," ucap Ken. Ken berdiri di samping Seren, menatap arah yang sama seperti yang Seren lihat.


"Kak Irgi, dia, tadi menelepon. Karena ponselku tertinggal, jadi aku tidak menjawab telepon darinya. Dia menelepon ke nomor telepon kantor dan menitipkan pesan pada Iis. Saat kutelepon balik, dia tidak menjawab, aku takut dia marah. Panggilan ketiga malah ponselnya dimatikan.


"Kakak, tidak perlu berpikir terlalu banyak. Bisa jadi, Kak Irgi sedang ada tamu atau sedang sibuk, atau mungkin juga sedang rapat." Ken mencoba membantu menghilangkan pikiran negatif Seren.


"Hem, semoga ucapanmu benar," jawab Seren. Dia berpikir, benar ucapan Ken. Irgi pergi ke luar kota untuk bekerja, lagipula Seren tahu, seberapa besar Irgi mencintainya. Tidak mungkin Irgi marah, hanya karena teleponnya tidak dijawab oleh Seren.


"Masih banyak pekerjaannya?" tanya Ken.


"Pekerjaan Kakak, kan, cuma membantumu memeriksa berkas, hanya tinggal kamu tandatangani," ucap Seren.


"Baiklah, terima kasih kakakku, padahal sudah ada Fadil kalau hanya memeriksa berkas. Sepertinya aku, membayar pengangguran," ledek Ken.


"Sini, kau!" Seren menghampiri Ken dan menjewernya.

__ADS_1


Ken mengaduh kesakitan dan meminta ampun. Seren melepaskan tangan yang menjewer telinga Ken, ia lalu duduk di sofa, menunggu Ken selesai menandatangani berkas di meja kerjanya.


__ADS_2