
Ken berangkat kuliah bersama Joan. Sedangkan Seren pergi ke kantor diantar ayahnya, Syahdan. Setengah jam kemudian mereka baru tiba di kantor, karena terjebak kemacetan. Sampai di depan ruang kantor Direktur, Syahdan dan Seren disambut Fadil, asisten pribadi Ken.
"Selamat pagi, Pak. Syahdan. Selamat pagi, Mba Seren. Tumben Mba Seren ikut?" ucap Fadil meledek Seren. Fadil adalah putra Bandi, mantan asisten Syahdan dulu. Bandi sudah pensiun dan digantikan oleh Fadil.
"Mulai hari ini, kamu akan bekerja bersama Seren. Om ini sudah tua, ingin duduk santai di rumah seperti Papamu. Jadi tolong bantu Seren dengan baik," ucap Syahdan.
"Oh, baik, Om. Apa Ken tidak akan ke kantor lagi?" tanya Fadil sambil membuka pintu ruangan Seren.
"Aku hanya ke kantor sampai dengan hari Kamis saja, Jum'at dan Sabtu tetap Ken akan ke kantor. Aku hanya menggantikan selama Ken kuliah, sedang semua kekuasaan tetap Ken yang pegang," jawab Seren.
"Baiklah, kalian bekerjalah dengan baik. Seren, Papa pulang dulu, Papa akan carikan supir untukmu nanti," ucap Syahdan.
"Pa, tidak perlu. Seren akan pulang naik taksi, dan besok, Seren bawa mobil sendiri." Seren tersenyum sambil menggandeng sang ayah, ia mengantar Syahdan sampai ke parkiran. Setelah Syahdan meninggalkan parkiran, Seren kembali ke ruangannya.
Fadil membawakan berkas pelamar pekerjaan yang akan mereka wawancarai. Hari ini PT. SA expedisi berencana menambah karyawan untuk posisi kurir. Seiring banyaknya online shop yang menggunakan jasa ekspedisi PT. SA, terkadang kurir mereka harus pulang malam untuk mengantar paket ke konsumen.
Selain jasa ekspedisi, Syahdan juga membuka usaha penginapan di Bandung, tidak jauh dari cafe Lara dan Zidane. Seren memeriksa satu persatu berkas lamaran itu. Fadil meninggalkan ruangan Seren, untuk menyiapkan ruang interview.
***
Di rumah Joan
"Yuk!" ajak Joan, saat Ken tiba.
__ADS_1
"Lama menunggu?" tanya Ken sambil membantu Joan memakai helm.
"Tidak, aku baru saja keluar dari rumah. Masih ada waktu satu jam sebelum kelas dimulai. Kita bisa berangkat lebih santai, aku ingin membahas sesuatu sama kamu, sayang," ucap Joan.
"Ok," jawab Ken singkat.
Joan naik di belakang Ken, dan kedua tangan Joan melingkar erat di pinggang Ken. Ken tersenyum. Semakin lama, Joan semakin bertambah dewasa, kini Joan tidak lagi egois dan keras kepala seperti dulu. Joan juga membuat Ken semakin nyaman, karena Joan tidak lagi cemburuan dan lebih pengertian.
Hubungan Joan dan Ken, ibarat bunga yang mekar di musim semi. Ken dan Joan hanya merasakan kebahagiaan, diantara merekahnya bunga-bunga cinta dihati mereka. Ken menjalankan motornya dengan kecepatan rendah, agar mereka bisa mengobrol selama perjalanan ke kampus.
"Sayang, apa sih yang mau kamu bahas?" Ken bertanya setelah motornya lumayan jauh meninggalkan rumah Joan.
"Begini, Sayang. Aku ingin membantu Jhon dan Andin agar mereka baikkan. Bagaimana caranya, ya," ucap Joan.
"Tapi aku gak bisa, sayang. Kamu lihat kan sehancur apa Jhon tanpa Andin," ucap Joan.
Ken tak bisa menjawab, ia hanya diam. Ken sudah melihat sendiri, memang Jhon sangat kacau tanpa Andin. Ken mempercepat laju motornya, agar bisa segera sampai di kampus.
***
Jhon keluar dari kamarnya dan siap pergi ke kampus. Rina segera menghampiri Jhon.
"Jhon, bukannya tadi mau tidur?" tanya Rina.
__ADS_1
"Tidak, Ma. Jhon berangkat kuliah saja."
"Jhon, Mama tidak tahu ada masalah apa, antara kamu dengan Andin, tapi satu pesan Mama, selesaikan apa pun masalah kalian dengan baik-baik. Ok," ucap Rina.
Jhon terdiam sejenak, kemudian ia pamit dan pergi ke kampus. Jhon berangkat sendiri, ia merasa sedih menatap jok belakangnya. Biasanya, di sana Andin duduk sambil tersenyum. Motor Jhon melaju dengan kecepatan tinggi, karena ia sudah hampir terlambat ke kampus.
***
Andin memegang selang air dan berdiri menyirami pohon bunga di halaman depan rumah. Andin melihat mobil Syahdan berhenti di depan gerbang rumahnya. Syahdan menurunkan kaca jendela mobil dan tersenyum melihat Andin, Andin membalas senyuman Syahdan. Syahdan memarkir mobilnya di garasi, kemudian ia menghampiri Andin.
"Selamat pagi, Om. Bagaimana keadaan Tante Lara, sudah baikkan?" tanya Andin.
"Pagi, Andin. Tante sudah sedikit membaik, hanya masih perlu banyak beristirahat. Oh, ya, Andin tidak kuliah atau sedang libur?" Syahdan bicara sambil menatap pipi Andin yang masih membiru.
"Hehe, libur sendiri, Om."
"Om dengar dari Ken, kamu dipukul Jhon, benar itu?" Syahdan tak henti melihat pipi Andin, bekas pukulan itu memang sangat terlihat di sana.
"Hanya salah paham, Om." Andin tetap menanggapi dengan senyum.
Tid tiidd
Suara klakson mobil mengalihkan perhatian Syahdan dan Andin. Mereka menoleh ke arah gerbang secara bersamaan. Menatap sosok pria yang keluar dari mobil dengan bibir tersenyum.
__ADS_1