Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
26. Wawancara


__ADS_3

***


"Pagi, Din. Pagi, Om." Riko turun dari mobil dan menghampiri Syahdan dan Andin yang berdiri di halaman rumah Andin.


"Pagi, Rik. Om, kenalin, ini Riko. Temen sekampus Andin. Rik, ini Om Syahdan, papanya Ken." Andin memperkenalkan mereka berdua.


Riko mengulurkan tangan, Syahdan menyambut uluran tangan Riko sambil tersenyum.


"Ya, sudah. Om pergi dulu, takutnya kalian mau ngobrol sesuatu yang penting," ucap Syahdan. Ia masuk ke dalam rumahnya.


"Silahkan duduk, Rik." Andin mengajak Riko duduk di teras.


"Terima kasih. Kamu tidak berangkat kuliah?" Riko duduk di samping Andin.


Andin tersenyum menatap Riko, ya, karena penampilan Riko dan cara bicara Riko sangat berbeda dari biasanya. Andin bangun dan pamit masuk ke dalam, untuk membuatkan minuman. Sepuluh menit kemudian, Andin keluar dengan membawa dua cangkir teh.


Andin duduk kembali dan menjawab pertanyaan Riko.


"Aku sedang ingin libur. Kamu sendiri?" Andin balik bertanya.


Riko menggaruk kepala, yang sebenarnya tidak gatal. Andin tersenyum menatap Riko, yang menjadi salah tingkah. Andin tidak lagi bertanya, dan mereka hanya duduk memandang taman, tanpa ada ucapan yang keluar dari bibir mereka.

__ADS_1


Setengah jam berlalu dan Riko pun akhirnya pamit. Setelah mobil Riko sudah tidak terlihat, Andin masuk ke dalam rumah.


kriing kriing.


Andin menghampiri pesawat telepon yang tergeletak di meja ruang tamu. Suara penuh nada khawatir terdengar dari seberang telepon, saat Andin menyapa.


"Halo," ucap Andin.


"Halo, Andin. Kamu dimana, sayang?" ucap Marinka. Suaranya begitu panik.


"Maaf, Ma. Andin pulang kuliah langsung ke rumah Andin. Maaf, Andin tidak memberitahu Mama, dan membuat Mama khawatir," jawab Andin. Helaan nafas lega terdengar di telinga Andin. Andin tersenyum.


Sejak ia dicampakkan kedua orang tuanya, Andin justru mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari Lara dan Marinka. Meski awalnya Andin mengira bahwa mereka hanya kasihan pada Andin, tetapi ketulusan kasih sayang Lara dan Marinka, membuat Andin percaya bahwa masih ada seorang ibu yang benar-benar baik seperti mereka.


Andin menaruh kembali gagang telepon ke tempatny semula. Andin kemudian menyiapkan sarapan untuknya. Roti gandum ditambah selai kacang adalah kesukaan Andin. Andin sarapan dengan hati-hati, karena memar di pipinya terasa sakit saat ia mengunyah. Setelah sarapan, Andin meminum obatnya lalu duduk menonton televisi di ruang tengah.


***


Ponsel Riko bergetar di dashboard mobil. Riko mengambil ponselnya dan menekan tombol loudspeaker.


"Halo, Rik. Lo dimana sih? Lo katanya udah di jalan, tapi gak datang-datang. Untung aja ya, dosennya belum datang. Kalau Lo gak datang sekarang, dan keduluan sama dosen datangnya. Tamat Lo, Rik," ucap teman Riko.

__ADS_1


Riko tertawa lalu menutup panggilan telepon itu. Riko menambah kecepatan dan membawa mobilnya melaju ke kampus. Riko awalnya ingin menjemput Andin untuk berangkat kuliah bersamanya, tetapi Andin justru tidak masuk kuliah. Itulah sebabnya, Riko tidak menjawab saat Andin menanyainya tadi.


Andin pasti akan menyuruh Riko untuk segera pergi, jika Andin tahu Riko akan pergi ke kampus. Sedangkan Riko masih ingin lebih lama lagi bersama Andin. Keberuntungan berpihak pada Riko, karena Dosen Fakultas Seni terlambat datang. Riko berharap, ia bisa sampai di kelasnya sebelum dosennya tiba.


***


Seren memulai interview penerimaan karyawan baru bersama Fadil dan personalia 'PT. S.A'. Satu persatu calon kurir itu di wawancara. Hingga pukul sepuluh pagi, wawancara baru selesai. Seren dan personalia itu berunding, untuk memutuskan siapa saja yang akan mereka terima.


"Dari dua puluh peserta wawancara, hanya lima orang saja yang mengerti jalan dan cara menggunakan GPS. Sisanya hanya bisa menggunakan ponsel, tanpa tahu menggunakan GPS. Bagaimana menurut Mba Seren? Apakah yang lainnya juga akan di terima? Kita butuh sepuluh orang karyawan baru," ucap personalia.


"Kita terima sepuluh orang yang menurutmu bagus, untuk lima orang kurir yang lainnya ... kita cari lagi nanti. Lima orang yang mengerti jalan, kita terima sebagai kurir. Dan yang lima orang, kita tempatkan saja di bagian gudang," ucap Seren.


"Baik, Mba Seren. Saya akan pilih sepuluh orang, yang jawaban wawancaranya memuaskan." Personalia itu pamit undur diri dari ruangan Seren.


"Fadil, apa jadwal selanjutnya?" tanya Seren.


"Untuk hari ini, Mba ada acara makan malam bersama Tuan Elden. Harusnya Pak. Syahdan atau Ken yang pergi, tetapi saya tidak tahu menurut Mba. Apakah Mba bersedia menggantikannya?" Fadil memberitahukan rapat sambil makan malam dengan klien.


"Tidak apa-apa, saya akan pergi. Jam berapa undangannya?" tanya Seren.


"Jam tujuh malam, Mba." Fadil melihat buku agendanya.

__ADS_1


Seren mengangguk dan menyuruh Fadil kembali ke ruangannya. Seren kembali membuka laptopnya dan melihat performa perusahaan selama satu bulan terakhir. Sesekali Seren meregangkan otot pinggangnya dengan memutar pinggangnya ke kanan dan ke kiri.


Sudah lama, ia berhenti bekerja. Setelah menjadi Nyonya Indra Virgiawan, Seren hanya diam di apartemen. Terkadang menemani Irgi menghadiri undangan pesta dari kolega bisnisnya. Karena Irgi pergi mengurus pekerjaannya di luar kota, jadi Seren kembali bekerja untuk menghilangkan jenuh.


__ADS_2