Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
38. Manja (2)


__ADS_3

Pesanan Radja, tiga cup es kopi sudah jadi. Radja memberikan dua cup pada Joan untuk mengganti yang tadi ia tumpahkan secara tidak sengaja. 


"Ini, mengganti yang tadi tumpah," ucap Radja sambil memberikan es kopi itu pada Joan.


"Seharusnya Bapak tidak perlu menggantinya, tidak apa-apa, karena saya juga salah," ucap Joan.


" Ambil saja! Kalau tidak kamu ambil, aku juga untuk apa beli tiga. Aku datang sendiri dan aku bisa kembung jika meminum semua es ini. Ambilah!"


"Terima kasih. Bapak kesini sendiri?"


"Ya, habis ada janji dengan teman. Em … pacarmu sepertinya sudah menunggumu," ucap Radja. 


"Ya, ampun, saya lupa. Saya permisi, Pak," ucap Joan.


Joan mengambil es kopi dari tangan Radja dan segera berlari kecil menghampiri Ken. Ken sudah berdiri dan menjinjing plastik yang berisi sosis bakar pesanan Joan. Saat Joan tinggal dua langkah, Ken segera pergi menuju parkiran, membuat Joan kembali berlari mengikuti Ken yang langkahnya lebih lebar dari kecepatan langkah Joan.


"Sayang, pelan sedikit jalannya! Aku pegal," ucap Joan.


Mendengar Joan mengeluh, Ken berhenti tiba-tiba, hingga Joan menabrak punggungnya. Joan mundur selangkah, dan mengeluh pada Ken.


"Kamu kenapa, sih, sayang?" tanya Joan.


"Sudah malam, buru-buru mau pulang," ucap Ken tanpa berbalik. 


Joan tidak bertanya lagi dan kembali mengikuti Ken yang melangkah kembali. Tiba di parkiran, Joan berdiri diam saat Ken memberikan helm padanya. Joan tidak mengambil helm itu dan hanya menatap tajam ke arah Ken. Ia tahu Ken menyembunyikan sesuatu. 


"Pulang saja sendiri sana!" Joan kesal dengan sikap Ken.


Baru beberapa saat yang lalu, Ken menyanyikan lagu romantis untuknya. Kini sudah mengacuhkannya. Ken menghela napas berat sebelum bicara.


"Sudah malam, kita harus pulang. Ayo naik!" Ken mendekati Joan untuk memakaikan helm.


"Kamu kenapa? Aku salah apa? Hiks hiks," Joan terisak. 


Ken memeluk Joan dan menghapus air mata di pipi Joan. Ken lalu memakaikan helm padanya. Joan hanya diam dengan sebuah pertanyaan yang belum mendapat jawaban dari Ken. Namun, malam memang sudah sangat larut. Jam sebelas adalah batasan untuk Jhon dan Joan jika mereka keluar rumah. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 22:45 WIB.

__ADS_1


Joan pun naik keatas motor. Ken melaju dengan kecepatan sedang, karena Joan tidak mau jika Ken mengebut saat memboncengnya. Setengah jam kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang rumah Zidane. Lebih lima belas menit dari batas jam malam Joan.


Di depan rumah, Zidane duduk di kursi teras. Ia baru saja menutup Cafe, dan Rina melapor jika Joan belum pulang. Karena itu Zidane duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi dan menunggu Joan. Joan turun dari motor Ken, membawa dua cup es kopi dan sosis bakar. Joan lupa tidak membuka helmnya, dan Ken tersenyum geli melihat Joan merajuk. Joan melangkah masuk ke dalam gerbang dan mengunci gerbang. Ken segera pergi karena Joan sudah mengunci gerbang. 


"Pa, maaf, Joan terlambat. Menunggu pesanan sosis bakar lama soalnya," ucap Joan menyapa Zidane. 


"Ya, sudah. Tapi ngomong-ngomong … kenapa helmnya tidak dibuka?" tanya Zidane sambil tersenyum geli melihat putrinya.


Joan memegang kepalanya dan ikut tersenyum geli. Joan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur, sementara Zidane pergi ke kamar dan beristirahat. Tubuh Zidane sudah sangat lelah mengurus pembukuan cafe seharian. Maklum sudah dekat ke akhir bulan, dan sudah waktunya menggaji karyawannya. 


Joan menaruh sosisnya di piring dan menaruh dua cup es kopi ke dalam lemari pendingin. Joan duduk di depan meja makan. Ia memakan sosisnya sambil melamun, sampai Jhon mengambil sosisnya pun ia tidak tahu. Saat Joan meraba piringnya, ia baru sadar. Joan membeli dua buah sosis bakar jumbo, tapi baru ia makan satu buah, piringnya sudah kosong. 


Joan menatap sekeliling dan Jhon mengagetkan Joan dari belakang.


"DOOR!" Jhon menepuk pundak Joan. Membuat Joan terkejut.


"Sialan, balikin sosisku!" Joan meraih sosis di tangan Jhon, tapi Jhon menjauhkannya sambil tertawa meledek. Joan duduk lagi dan cemberut dengan tangan bersedekap. Jhon mengembalikan sosis Joan dan mengacak rambut Joan.


"Jhon, nyebelin!" Joan meneriaki Jhon yang berlari masuk ke dalam kamarnya. Setelah menghabiskan sosisnya, Joan mencuci piring setelah selesai, ia pun masuk ke dalam kamar. 


***


"Sayang, tadi pagi kamu kenapa begitu membenci aku?" tanya Irgi. 


"Entahlah, aku juga tidak tahu, Kak."


"Em … Mama bilang, ada kemungkinan sikapmu aneh karena sedang hamil. Bagaimana kalau kita cek ke dokter besok?" Irgi merapikan anak rambut Seren yang berantakan.


"Tidak mau. Aku sudah seperti ini sebelumnya. Saat kita cek ke dokter, hanya gangguan emosional saja. Dan itu bukan sekali, kita sudah mengalaminya dua kali. Aku tidak mau kecewa untuk yang ketiga kalinya, Kak. Walaupun seandainya, ya, aku hamil, kita cek ke dokter saat perutku sudah terlihat membesar saja," ucap Seren. 


Irgi mengiyakan ucapan istrinya. Karena mereka memang pernah dua kali cek ke dokter, saat tiba-tiba Seren bertingkah seperti orang hamil. Seren muntah-muntah di pagi hari dan meminta makanan yang tidak biasa ia makan. Namun dua kali Seren bertingkah seperti itu, dua kali juga mereka periksa, dua kali pula lah mereka kecewa.


"Sudah tengah malam, sudah ngantuk belum?" tanya Irgi. 


"Ya," jawab Seren singkat. 

__ADS_1


"Mandi dulu sana, lalu tidur. Kakak mandi nanti setelah kamu," ucap Irgi.


"Gendong, malas jalan ke kamar mandi," ucap Seren.


Seren mengangkat kedua tangannya dan dengan manja meminta Irgi menggendongnya. Irgi tersenyum dengan sikap manja Seren yang berlebihan, tidak seperti biasanya. Irgi menggendong tubuh polos Seren ke kamar mandi dan menyalakan kran shower dengan suhu hangat.


"Mau sekalian dimandiin tidak?" goda Irgi.


"Tidak. Hush … hush … sana pergi!" Seren mengusir Irgi keluar dari kamar mandi seperti kucing.


Seren membasuh tubuhnya di bawah kran shower air hangat. Ia mengusap-usap perut datarnya dengan sedih. Ia berharap, semoga saja ia bisa segera hamil. Seren sangat memimpikan kehadiran seorang bayi dalam rumah tangganya. 


Seren selesai mandi dan berganti baju. Irgi menyelimuti Seren yang sudah berbaring di ranjang, lalu ia pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri, mengganti baju dan menyusul Seren naik ke ranjang dan tidur.


--------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2