
Andin duduk di samping Riko yang sedang fokus menatap jalanan di depannya.
"Kamu mau ngapain nyulik aku kaya gini?" Andin menatap tajam.
"Nyulik apa sih? Gue cuma mau makan sama lo, terus nanti gue antetin lo pulang!" jawab Riko.
"Mengajak makan, kamu bilang? ini sih namanya penculikkan,"
"Ya udah, iya. Gue nyulik lo buat nemenin gue makan siang!" kata Riko.
"Turunin aku disini, aku mau pulang!!" bentak Andin.
""Gak mau, gue mau makan dan lo harus temenin!" jawab Riko dengan tatapan tajam.
Andin merasa tatapan tajam Riko seolah merupakan tanda, bahwa ia akan melakukan sesuatu yang buruk jika Andin tetap menolak.
"Dia ini kenapa sih, perasaan masalah tadi pagi kan aku sudah minta maaf. Masa iya, dia masih mau balas dendam?" pikir Andin.
Mobil Riko menepi dan berhenti di parkiran sebuah restoran Jepang. Riko keluar dan menarik tangan Andin, ia memegang pergelangan tangan Andin dengan kuat hingga Andin meringis kesakitan.
"Aww, lepasin tanganku, sakit."
Kedua teman Riko juga keluar dari mobil. Riko melihat Andin kesakitan lalu ia mengendurkan sedikit pegangannya.
"Lo berdua gue kasih uang, dan biarin gue makan berdua sama Andin. Terserah kalian mau makan dimana, sekalian juga gue kasih kalian ongkos taksi tuh!" ucap Riko pada kedua temannya.
"Ok, siap bos. Selamat makan siang!" jawab salah satu dari temannya.
Riko mengajak Andin masuk. Mereka duduk di dekat jendela. Riko masih mencekal tangan Andin karena takut dia lari. Ia memesan dua porsi Sushi dan satu porsi besar tiram saus asam manis.
__ADS_1
"Bisa lepasin tanganku, tidak?" Andin menarik tangannya tetapi Riko tidak mau melepaskannya.
"Boleh, tapi lo harus janji gak boleh kabur."
"Iya, aku janji!" jawab Andin.
Riko melepaskan tangannya. Pesanan Riko pun sudah tersaji di meja. Andin menatapnya dengan merinding.
"Ayo makan, kenapa? Lo gak suka? Padahal ini enak loh, apalagi kerang ini mirip sesuatu kan, haha."
Wajah Andin memerah mendengar gurauan Riko.
"Ni cowok mesum banget sih! Apa coba maksudnya bilang kerang itu mirip sesuatu," pikir Andin.
"Lo mau makan apa? Gue pesanin yang lain!" ucap Riko menawarkan.
"Aku cuma mau kamu cepat habiskan makanan kamu, karena aku mau pulang!" jawab Andin dengan kesal. Riko tersenyum melihat tingkah Andin saat kesal dan marah.
***
Joan dan Ken sedang duduk di taman sambil memakan siomay. Mereka duduk disamping gerobak penjual siomay.
"Jo, boleh kan kalau aku panggil kamu ... sayang?" Ken menatap Joan dan Joan seketika tersedak karena ucapan Ken.
"Uhukk, uhukkk."
"Pelan-pelan," ucap Ken sambil menyodorkan air mineral dalam botol, yang ia beli di minimarket tadi.
"Kamu sih, orang lagi makan juga. Buat apa sih tanya kaya gitu?" tanya Joan.
__ADS_1
Ken melihat peluh menetes di kening Joan. Sepertinya karena siomay yang terlalu pedas. Ken mengusap keringat Joan dengan ujung tangan kemeja panjang yang dipakainya. Joan menatap kedua mata Ken lalu mereka saling melempar senyum.
Ken dan Joan melanjutkan perjalanan mereka. Sepanjang jalan Ken, dan Joan hanya tersenyum. Tak terasa mereka sudah sampai di gerbang rumah Joan. Ken membantu Joan melepas helm, dan Joan masuk ke dalam gerbang.
"Sayang, masa langsung pergi!" ucap Ken.
"Terus aku mesti ngapain?" Joan tersenyum.
"Kasih ciuman sedikit, hehe," ucap Ken dengan suara pelan.
Wajah Joan memerah dengan ucapan Ken. Joan takut dilihat orang, ia menggeleng.
"Kalau begitu nanti malam kita jalan, aku jemput jam tujuh, bye sayang!" Ken menjalankan motornya. Joan tersenyum setelah Ken pergi.
***
Jhon berada di rumah Ken, ia menunggu Andin pulang. Setelah satu jam menunggu, Jhon melihat sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah Andin. Jhon menghampiri dan seketika emosinya meluap, saat melihat Andin keluar dari mobil bersama pria pemilik mobil.
Bugh
Jhon langsung menghajar wajah Riko. Andin langsung menarik Jhon menjauh.
"Jhon, kamu apa-apaan sih? Riko sebaiknya kamu pulang sekarang!" ucap Andin. Riko menurut dan pergi secepatnya dengan mobil hitamnya.
"Kamu pergi ninggalin aku di kampus, buat ngedate diam-diam sama selingkuhan kamu, iya?" Jhon melepas tangan Andin.
"Udah ngomongnya, kalau sudah aku mau masuk. Aku capek!" ucap Andin melangkah dan langkahnya terhenti saat Jhon mengatakan hal menyakitkan.
"Capek? Habis ngapain bisa capek? ngamar?" Jhon berucap dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Andin menoleh, menatap Jhon dengan perasaan terluka. Bagaimana bisa Jhon mengucapkan hal seperti itu, sungguh Andin sakit hati. Air mata Andin menetes dan ia tak mampu lagi berkata-kata. Ia segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Jhon merasa bersalah, tetapi egonya menahannya untuk meminta maaf. Jhon menaiki motornya dan pergi dari halaman rumah Andin dengan kesal.