Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
39. Ken marah


__ADS_3

Pagi hari, Seren terbangun tanpa Irgi disampingnya. Ia bangun dan pergi ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Setelah berdandan rapi, Seren mencari Irgi di setiap ruangan apartemen tetapi Irgi tidak ada di manapun. Seren menelepon Irgi.


["Halo, sayang, aku sudah di depan pintu."]


"Hah, di depan pintu? Darimana pagi-pagi begini?" tanya Seren. Ia melangkah menuju pintu dan membukakan pintu apartemen. 


Irgi tersenyum melihat Seren membuka pintu. Seren melihat kedua tangan Irgi yang menenteng dua kantong plastik besar.


"Itu, apa?" tanya Seren menunjuk kantong plastik. 


"Ini sayuran dan ikan. Kulkas kita kosong, tidak ada yang bisa aku masak," ucap Irgi sambil melangkah masuk ke dalam apartemen. Irgi langsung ke membawa belanjaannya ke dapur. Seren mengikuti Irgi dan menggelayut manja di punggung Irgi. Kedua tangannya melingkar erat di perut Irgi.


Seren benar-benar manja sekali sejak semalam. Irgi berbalik menatap wajah Seren. Hari ini wajah Seren sedikit berubah, wajahnya lebih bercahaya dan segar. Namun Seren kembali menguap dan mengantuk, padahal ia baru saja bangun dan mandi. Seren menyandarkan tubuhnya di dada Irgi.


"Kak, hoam. Seren ngantuk, gendong ke kamar," ucap Seren dengan mata yang setengah terbuka. 


"Kamu, kan, baru bangun. Masa sudah mau tidur lagi? Tidur di pagi hari itu tidak baik, lho, sayang," ucap Irgi. 


"Tapi, aku ngantuk, Kak. Gendong ke kamar!" Seren mengalungkan tangannya di leher Irgi. Mau tidak mau, Irgi menggendong Seren ke kamar dan membaringkannya di ranjang perlahan-lahan. Aneh bagi Irgi, karena Seren langsung tertidur lelap.


"Aneh sekali, kenapa dia jadi tukang tidur seperti ini. Hari ini, bukannya dia mu pergi ke kantor? Kenapa malah tidur lagi? Apa aku harus bicara lagi dengan Mama?" Irgi kebingungan sendiri melihat istrinya. Meskipun Seren pernah bertingkah aneh sebelumnya, tapi kali ini berbeda. Seren yang biasanya tidak bisa mendengar suara sepelan apapun saat tidur, kini justru dengan mudah tertidur pulas. Irgi mencoba memanggil Seren, dari suara pelan sampai sedikit kencang, Seren sama sekali tidak bereaksi.


"Ah, sudahlah, mungkin dia memang sedang lelah. Aku masak saja kalau begitu," gumam Irgi. Ia pergi ke dapur dan memasak sarapan. 


***


Tok! Tok! Tok!


"Jo, sayang. Ada Pak Radja di ruang tamu, kamu sudah siap belum?" tanya Rina di depan pintu kamar Joan.


"Sudah, Ma. Suruh tunggu sebentar, Joan sedang mencari tiketnya dulu." Joan kebingungan mencari tiket pesawat yang kemarin siang diberikan Kepala Dosen di kampus. 


"Kemana tiketnya?" Joan mengacak lemari, tas dan juga kopernya. Ia tidak menemukannya, ia panik melihat jam di dinding. Pesawat mereka take off jam delapan pagi, tetapi sudah jam tujuh lewat dua puluh menit mereka malah masih di rumah. Joan menyerah, ia berpikir sepertinya tiketnya terjatuh entah dimana. Ia keluar dari kamar dan menemui dosennya.


"Jo, sudah siap? Ayo berangkat! Kita sudah terlambat, semoga kita masih keburu mengejar pesawat kita," ucap Radja.

__ADS_1


"Pak Radja, maaf. Sepertinya … tiket saya hilang. Saya sudah mencarinya dari tadi, tapi tidak ada. Bagaimana ini?" tanya Joan. 


"Kalian begitu pakai mobil Mama saja! Daripada pesan tiket lagi, lama." Rina memberi solusi.


Mereka setuju dengan ide Rina. Radja mengambil kopernya dari dalam bagasi taksi, yang awalnya mereka akan naik taksi ke Bandara, gagal dan mereka memakai mobil Rina. Saat mobil itu keluar dari rumah Zidane, Ken baru saja datang membonceng Andin. Niatnya ingin melihat Joan sebelum Joan pergi ke Surabaya. Ken justru melihat Joan pergi satu mobil dengan Radja.


"Eh, Ken, Andin. Kalian mau berangkat kuliah, ya?"


"Ya, Tante. Jhon sudah bangun?" tanya Andin. 


"Sudah, dong." Jhon keluar dari rumah dan mengambil motornya di garasi.


"Joan, bukannya mau naik pesawat ya, Tan. Kok, jadi pakai mobil?" tanya Ken penasaran. 


"Tiket pesawat Joan hilang, jadi, Tante suruh bawa mobil Tante," jawab Rina.


"Oh, begitu. Ken pamit ya, Tan," ucap Ken.


"Ya. Kalian hati-hati di jalan, belajar yang rajin," ucap Rina.


Ken memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ia kesal, marah, dan cemburu. Masalah semalam masih membayangi pikiran Ken, ditambah pagi ini harus melihat guru itu bersama Joan. Jhon dan Andin hanya menggelengkan kepala melihat Ken melewati motor mereka dengan kecepatan tinggi.


***


"Ada apa?" tanya Ken setelah menekan tombol menerima panggilan.


[....]


"Ok. Aku ke kantor sekarang," ucap Ken.


Ken kembali menaiki motornya dan pergi ke kantor. Orang yang tadi menelepon Ken, ternyata Fadil, asistennya di kantor. Ia memberitahukan kabar bahwa Seren tidak datang ke kantor dan ada rapat dadakan dengan 'PT. ELDEN'. Karena Seren sakit, maka Ken-lah yang harus memimpin rapat.


"Direktur itu pasti ingin menggoda Kak Seren dengan dalih rapat. Dasar hidung belang, kita lihat reaksimu saat melihat siapa yang rapat denganmu nanti!" gerutu Ken saat tiba di parkiran gedung 'PT. S.A'.


Fadil menyambut Ken di lobby kantor. Mereka membicarakan rencana rapat sepanjang langkah mereka menuju ruangan Ken. Pikiran Ken yang sedang terbakar cemburu kini bertambah terbakar amarah karena Direktur Elden. Tiba di ruangannya, Ken menghempaskan tubuhnya di sofa, sementara Fadil berdiri di samping sofa. Fadil melihat wajah Ken yang merah padam menahan amarah.

__ADS_1


"Darimana si Elden buaya itu tahu, jika Kak Seren bukan tunanganku? Padahal jelas-jelas saat rapat di resto beberapa hari lalu, aku memperkenalkan Kak Seren sebagai tunangan," ucap Ken dengan nada kesal.


"Menurut hasil penyelidikanku, dua hari lalu, Direktur Elden datang ke kantor kita dan mencari informasi dari salah satu karyawan di kantor kita. Jadi, harus kita apakan dia?" tanya Fadil.


"Cari kelemahan dia, tidak boleh terlihat sedikitpun! Agar kita bisa membuatnya menuruti peraturan kita dan tidak berani berbuat macam-macam. Suruh salah satu anak buahmu untuk mengikuti semua kegiatan bandot tua itu!" Ken menyuruh Fadil keluar dan Ken masuk ke ruang ganti di kantornya.


Ruang ganti itu berisi barisan setelan jas dan dasi serta sepatu. Ia membuat ruang ganti itu untuk keadaan darurat seperti saat ini. Saat ada rapat mendadak dan Ken memakai baju yang biasa ia pakai ke kampus sehari-hari, maka Ken akan mengganti bajunya di kantor.


Fadil masuk ke ruang rapat dan menyampaikan keterlambatan Direktur Ken karena Ken baru saja tiba ke kantor. Beberapa orang mengembuskan napas kecewa. Yang paling kecewa adalah Direktur Elden, karena ia tahu yang akan memimpin rapat adalah Ken, bukan Seren. Fadil pun hanya bisa tersenyum melihat raut wajah Direktur Elden yang sangat ingin mendekati Seren, tetapi rencananya gagal.


_____________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.

__ADS_1


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


mampir jg disini "Bride" from Mayn Ur Rizqi. jngn lupa ksih like dn dkung author ♥️


__ADS_2