
Ken kembali ke dalam rumah sakit setelah menelepon Andin. Ken kembali ke ruang UGD dan duduk bersama Lara, Syahdan dan Seren. Setengah jam kemudian, Dokter keluar dari ruang UGD. Mereka langsung berdiri dan Seren langsung menanyakan kondisi Irgi.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Seren.
"Pasien mengalami patah tulang ringan, serta beberapa luka robek di beberapa bagian tubuh, tapi tidak parah. Sepertinya luka itu akibat gesekan dengan jalanan aspal. Anda tenang saja, tidak ada luka serius. Kami akan menyiapkan ruang rawat untuk pasien," ucap Dokter itu.
"Tempatkan menantu saja di ruang VVIP, Dok" ucap Syahdan.
"Baik, Pak, kami segera mengurusnya. Saya permisi," ucap Dokter itu. Dokter itupun pergi setelah menjelaskan keadaan Irgi.
Seren memegangi dadanya, ia bisa sedikit bernapas lega. Untunglah tidak terjadi apa-apa pada Irgi, Seren merasa sangat lega. Awalnya ia ketakutan, ia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Irgi. Jika itu terjadi, bagaimana nasib ia dan calon bayi mereka. Pikiran itu berkecamuk dalam hati Seren. Namun sekarang ia tenang, Irgi tidak terluka parah. Meskipun Irgi sempat tidak sadarkan diri, tetapi keadaannya kini baik-baik saja. Hal itu sudah lebih dari cukup buat Seren. Setidaknya, bayangan kelam yang sempat menghantuinya tadi, kini telah hilang. Seren kembali duduk dan menunggu Irgi dibawa keluar dari ruang UGD.
Andin, Marinka dan Ronald tiba di rumah sakit. Mereka segera pergi ke ruang UGD. Marinka melangkah dengan terburu-buru, ia sangat cemas memikirkan nasib putra semata wayangnya.
"Itu, Tante dan Om, Ma." Andin menunjuk ke arah Lara dan Syahdan yang berdiri di depan Seren. Andin, Marinka dan Ronald menghampiri mereka.
"Lara, bagaimana keadaan Irgi? Bagaimana keadaan putraku?" tanya Marinka sambil menggenggam tangan Lara.
"Irgi terluka karena dikeroyok oleh beberapa preman, tapi dia tidak terluka serius. Kita berdoa saja, semoga Irgi cepat pulih kembali," ucap Lara sambil tersenyum.
"Huffh, syukurlah. Aku sangat khawatir. Memangnya Irgi pergi kemana larut malam seperti ini, sampai bertemu para preman?" tanya Marinka penasaran.
"Seren ngidam ingin makan martabak telur. Jadi, mereka pergi keluar untuk membelinya, siapa sangka mereka akan bertemu orang jahat," ucap Lara.
"Ngidam? Seren, hamil?" tanya Marinka dengan mata berbinar bahagia.
Lara menjawabnya dengan anggukkan pelan. Marinka melangkah menghampiri Seren dan memeluknya. Marinka mengucapkan selamat atas kehamilannya Seren. Marinka ikut bahagia untuk Seren dan Irgi yang akhirnya akan segera mempunyai anak. Anak yang sudah lama mereka nantikan dalam rumah tangga mereka. Kini keinginan Seren dan Irgi sudah terkabul, Marinka berdoa semoga bayi dalam kandungan Seren tetap sehat sampai nanti ia hadir ke dunia dan meramaikan keluarga kecil Seren dan Irgi, serta meramaikan keluarga besar Lara dan Syahdan, juga Marinka dan Ronald.
Pintu UGD terbuka, dua orang perawat mendorong Irgi di brankar. Dokter yang tadi pergi sudah menyiapkan formulir persetujuan rawat inap dan memberikannya pada Syahdan. Syahdan menandatangani formulir itu dan menyerahkannya kembali pada Dokter.
"Sus, bawa pasien ke ruang Edelweis no 112," ucap Dokter.
Dokter itu pergi memeriksa pasien lainnya di ruang UGD. Seren dan yang lainnya mengikuti perawat, Ken ikut mendorong brankar menuju ruangan perawatan Irgi. Irgi masih belum sadarkan diri, di punggung tangannya terpasang jarum infus. Mereka sampai di lantai dua ruang VVIP, ruang Edelweis no 112. Para perawat merapikan ranjang rawat, setelah selesai, mereka berdiri seperti menunggu seseorang.
"Ada apa, Sus? Kenapa Irgi tidak dipindahkan ke ranjang?" tanya Syahdan.
__ADS_1
"Kami sedang menunggu petugas pria, kami sudah menyuruh mereka menyusul. Tapi, hari ini, ada dua pasien di ruang UGD, sepertinya mereka belum selesai," jawab sang perawat itu.
"Oh, begitu. Biar kami saja yang mengangkat dan memindahkan Irgi kalau begitu," ucap Syahdan. Ronald dan Ken menghampiri. Dengan arahan dari perawat, mereka memindahkan Irgi ke ranjang. Perawat mengatur kecepatan cairan infus agar menetes perlahan, karena keadaan Irgi tidak terlalu parah dan tubuhnya sehat. Hanya luka luar dan patah tulang ringan saja.
"Ken, Andin, kalian pulang saja! Besok kalian masih harus kuliah. Lagipula, sudah banyak yang menemani Kak Irgi disini," ucap Marinka.
"Benar, kalian pulang saja," ucap Lara menambahkan.
"Ok, Ma. Ken dan Andin pulang kalau begitu," ucap Ken. Ken dan Andin berpamitan pada mereka semua. Setelah itu, Andin dan Ken keluar dari rumah sakit. Ken ke arah parkiran dan mengambil motornya. Ken pikir, Andin mengikutinya tetapi saat Ken menoleh ke belakang, Andin tidak ada. Ia celingukan mencari keberadaan Andin. Ternyata Andin sedang berdiri di gerbang rumah sakit sambil menengok ke jalan. Andin terlihat seperti menunggu seseorang.
Ken menghidupkan mesin motor dan menghampiri Andin.
"Andin, menunggu Jhon?" tanya Ken.
"Menunggu taksi," jawab Andin.
"Ini jam tiga dini hari, tidak aman jika kamu naik taksi. Aku antar saja!" ucap Ken.
"Tapi arahnya beda, aku mau pulang ke rumah Mama Marinka." Andin menolak tawaran Ken.
***
Pagi hari, Irgi terbangun dan kebingungan saat menatap jarum infus yang menempel di punggung tangannya. Irgi memejamkan mata dan mengingat kejadian semalam. Kemudian ia panik dan segera bangun untuk mencari Seren. Ia ingat Seren ditarik oleh Elden. Namun Irgi mengurungkan niatnya untuk turun dari ranjang saat ia melihat Seren tertidur di sofa panjang. Irgi bernapas lega melihat Seren baik-baik saja.
Marinka dan Lara serta Ronald masuk ke dalam ruang rawat Irgi. Mereka baru saja kembali setelah sarapan di kantin rumah sakit. Mereka mengajak Seren tadi, tapi Seren tidak mau ikut dan bilang hanya ingin tidur. Mereka menghampiri Irgi yang sudah terduduk di ranjang. Mereka menyapa Irgi sambil mengucap rasa syukur.
"Irgi, sayang. Syukurlah kamu sudah bangun," ucap Marinka.
"Ya, Ma. Seren dan kandungannya baik-baik saja, kan, Ma?" tanya Irgi khawatir.
"Tidak apa-apa. Seren baik-baik saja, dia hanya mengantuk. Lain kali, jangan keluar malam hari lagi," ucap Lara memperingatkan. Marinka setuju dengan ucapan Lara.
Seren seperti kemarin, jika pagi ia akan tidur sampai siang tanpa sarapan atau makan siang. Irgi sebenarnya khawatir jika lambung Seren akan bermasalah dengan kesehatannya. Namun mereka juga belum memeriksakan kesehatan kandungan Seren.
***
__ADS_1
Ken sudah rapi dan bersiap pergi kuliah. Ia melihat Andin sedang duduk di kursi teras dengan berkali-kali melirik jam tangannya. Ken menghampiri Andin.
"Ayo, Din!" ucap Ken. Biasanya Ken berangkat dengan Andin ke rumah Jhon sambil menjemput Joan, dan Andin akan berangkat dengan Jhon. Tetapi kali ini Andin tidak menunggu Ken, justru berkali-kali melirik jam tangannya. Andin sedang menunggu taksi yang sudah ia pesan. Namun selang beberapa menit, taksi online itu mengabari tidak bisa menjemput Andin karena bannya tiba-tiba kempes.
"Duluan saja, Ken. Aku harus ke rumah Mama, tugas melukisku tertinggal di rumah Mama," ucap Andin. Andin melangkah menutup gerbang rumah dan berjalan ke arah halte bus.
"Aku sudah berjanji akan mengantar kamu semalam. Jadi, ayo aku antar ke rumah Tante Marinka dulu." Ken memberikan helmnya pada Andin. Andin tidak menjawab lagi, ia mengambil helm itu dan memakainya lalu motornya melaju meninggalkan rumah Andin. Ken sebenarnya ada tugas juga dari fakultas bisnis. Tetapi ia tidak peduli jika harus telat beberapa menit saja, karena ia sendiri yang sudah berjanji pada Andin.
________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir juga di sini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏
__ADS_1