
Seminggu sudah, keluarga Zidane dan Syahdàn di rumah Handoyo. Sekarang sudah waktunya mereka semua pulang ke tanah air. Sejak pagi Ken dan Joan hanya berbincang-bincang di taman. Semua barang-barang Ken dan Joan sudah rapi, siapa lagi yang merapikan, sudah tentu kedua orang tua mereka.
Ken dan Joan berjalan-jalan, menikmati pemandangan taman di bukit belakang desa untuk terakhir kalinya, sebelum mereka pulang siang nanti. Lelah berkeliling Joan dan Ken berdiri di pagar pembatas bukit.
"Jo," panggil Ken.
"Ehm," saut Joan.
"Kita menikah saja ya?" tanya Ken.
"Yang benar saja, Ken!" ucap Joan terkejut.
"Kenapa? kau tidak mau?" tanya Ken menatap tàjam ke arah Joan.
"Ya, aku tidak mau!" ucap Joan tegas.
"Alasannya?"
"Kita baru saja lulus SMA, kuliah saja belum mulai, aku tidak mau menjalani pernikahan dini, aku mau kita menikah saat kita sudah siap untuk menikah, dan saat ini, aku tidak siap."
__ADS_1
"Kalau begitu, maukah kau bertunangan denganku?" ucap Ken sambil mengeluarkan kotak cincin. Kemarin Ken diam-diam pergi dan membeli cincin. Joan hanya menatap Ken dengan senyum gembira.
"Aku mau, Ken."
"Aku hanya bercanda mengajakmu menikah, aku juga harus belajar memimpin perusahaan Papa terlebih dulu. Aku tidak mau menikah sebelum aku benar-benar matang dan siap untuk memimpin rumah tangga kita nantinya."
Ken mengambil jemari Joan dan menyelipkan cincin bermata biru yang indah di jarinya. Ken mengecup punggung tangan Joan, lalu mereka berpelukan.
"Sudah waktunya pulang, kita harus berpamitan. Ayo kembali dan bersiap untuk pulang!" ucap Ken mengulurkan tangan.
Mereka jalan bergandengan dengan senyum cerah, secerah matahari di langit Tokyo pagi ini. Sinar mentari di langit biru mulai meninggi menandakan telah bersiap menyambut siang. Kedua sejoli itu berjalan pelan menuju rumah Handoyo.
"Kalian hampir saja kami tinggalkan, jika kalian masih tidak kembali sekarang. Beruntung kalian sudah kembali!" goda Jhon.
Ken dan Joan hanya tersenyum canggung. Mereka pun melaju ke Bandara Internasional Tokyo. Seperti saat mereka di jemput dari Bandara dulu, saat diantar juga mereka sama seperti saat di jemput. Mereka diantar dengan dua mobil. Para orang tua diantar Handoyo, sedang anak-anak muda diantar oleh Rui dan Bidadari.
"Akhirnya datang juga saat seperti ini. Aku berharap kalian bisa di sini lebih lama, tetapi aku yakin kalian tidak akan bisa!" ucap Rui.
"Kami harus kuliah, Rui. Jadi maaf kita harus berpisah!" ucap Joan.
__ADS_1
"Kapan-kapan datanglah kembali ke Indo untuk bermain bersama kami!" ucap Ken.
"Aku harap saat kami menikah nanti, kalian bisa hadir," ucap Bidadari.
"Tentu saja! nanti aku akan membawa Andin bersamaku, jadi tidak hanya melihat kalian yang berpasangan."
"Haha," tawa mereka pecah seketika mendengar keluhan Jhon.
Mereka tiba di Bandara dan saling mengucapkan perpisahan. Terakhir Ken mengucapkan perpisahan dengan Bidadari. Ucapan perpisahan sebagai tanda perpisahan hati mereka. Mereka akan kembali ke hati maaing-masing pasangan mereka.
"Bie, selamat tinggal dan sampai jumpa. Mari kita berteman di masa yang akan datang!" ucap Ken.
"Selamat tinggal, Ken!" jawab Bidadari.
Mereka pun menghilang di balik pintu keberangkatan. Bidadari menggumam dalam hati.
"Selamat tinggal Ken, meski kau akan melupakanku, tetapi aku tidak akan melupakanmu seumur hidupku. Kau adalah cinta pertamaku Ken, padamulah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta."
Bidadari memang tak bisa begitu saja melupakan Ken, tetapi ia tetap ingin bersama Rui meski tak bisa sepenuhnya mencintai Rui. Tidak adil memang untuk Rui, tetapi Bidadari sudah berjanji dalam hatinya, ia akan menemani Rui sepanjang umurnyà.
__ADS_1