Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
49. Putus


__ADS_3

Joan menyetop taksi dan menuju ke kantor Ken. Setiap pulang kuliah, Ken pasti ke kantor. Joan ingin memperjelas sikap Ken padanya barusan. Sepanjang jalan, Joan menatap dan menggenggam kalung yang Ken kembalikan. Setengah jam kemudian, Joan sampai di lobby kantor Ken. Saat Joan akan naik lift, Ken keluar dari lift yang lain. Joan tidak jadi masuk ke dalam lift dan mengejar Ken yang berjalan bersama Fadil.


"Ken, tunggu!" ucap Joan sambil mengejar Ken. 


Ken berhenti dan menyuruh Fadil masuk ke dalam mobil lebih dulu. 


"Ken, aku ingin bicara denganmu. Kamu harus memperjelas maksud kamu, aku tidak mengerti." 


"Lupakan saja, aku sibuk," jawab Ken. Ia melangkah meninggalkan Joan. 


Joan mengejar Ken yang berjalan cepat menuju parkiran. Joan sampai terjatuh, tapi Ken tidak peduli dan tetap masuk kedalam mobil lalu pergi meninggalkan Joan yang terjatuh bersimpuh di parkiran.


"Ken! Ken!" teriak Joan memanggil Ken. Namun sia-sia, karena mobil Ken sudah jauh meninggalkan parkiran kantor. Joan bangun dan dengan sedikit pincang, Joan keluar dari halaman kantor dan menyetop taksi. Joan memutuskan pulang. Sebenarnya, Joan bisa saja mencari Ken ke rumahnya. Namun mereka berdua sudah berjanji, jika ada masalah antara mereka atau seandainya mereka berdua putus, mereka tidak boleh membuat hubungan dua keluarga menjadi buruk. Apalagi Zidane dan Lara adalah saudara, meski hanya saudara angkat, tapi mereka sudah tumbuh bersama sejak kecil. 


***


 Jhon sampai di ruang rawat Irgi. Ia masuk dan mengobrol sebentar. Karena ia harus membantu Zidane di cafe. Jhon juga takut mengganggu Seren yang sedang tertidur pulas.


"Kak, Jhon pamit pulang. Papa sedang tidak enak badan, jadi Jhon harus menggantikan Papa untuk sementara di cafe. Salam buat  Kak Seren," ucap Jhon.


"Terima kasih sudah menjengukku, sampaikan salam Kakak buat Om Zid. Hati-hati di jalan," ucap Irgi. Jhon melambaikan tangan dan keluar dari ruang rawat Irgi. 


***


"Kalian bertengkar?" tanya Fadil.


"Sudahlah, Kak. Jangan membahas itu. Aku sedang tidak ingin membicarakannya," ucap Ken. 


Ken menatap keluar jendela mobil. Melihat gedung yang seolah berjalan membuat Ken sedikit pusing, karena otaknya sedang stress memikirkan Joan. Ken benar-benar kecewa karena Joan memberinya hadiah yang dibelikan oleh pria lain.


Fadil menatap Ken yang memejamkan mata. Fadil memang lebih tua dari Ken tetapi ia belum pernah memiliki kekasih ataupun jatuh cinta, jadi, Fadil sama sekali tidak tahu harus menghibur seperti apa. Fadil dan Ken akan pergi ke luar kota untuk melihat proses pembangunan kantor jasa ekspedisi di kota Cirebon. Jarak Jakarta-cirebon lumayan lama, sekitar lima jam dengan kendaraan pribadi. Jika menggunakan kendaraan umum, bisa enam sampai tujuh jam. Fadil menyetir sendiri dan kadang bergantian dengan Ken jika sudah lelah. Maklum saja, biasanya jika ke luar kota, mereka akan memakai sopir. Namun sopir mereka sedang sakit, jadi, Fadil menyetir sendiri. Ia jarang berkendara jauh, Ken juga begitu. Tidak ada cara lain, mereka hanya bisa bergantian. 


***

__ADS_1


Sore hari Seren terbangun dan hanya ada Irgi di ruangan itu. Seren bangun dan melangkah menghampiri ranjang rawat Irgi. Seren duduk di samping ranjang. Ia memperhatikan wajah Irgi. Seren pikir jika Irgi belum sadar. Sebenarnya Irgi baru saja terbangun dari tidur siangnya. Irgi sengaja berpura-pura masih tidur. 


"Gie Gie, katanya luka kamu tidak parah. Kenapa masih belum sadar? Bangun dong Gie," ucap Seren. 


"Kalau aku bangun, kamu mau kasih apa, sayang?" goda Irgi. Seren terperanjat dan hampir saja memukul lengan Irgi, tetapi Seren jadi berkaca-kaca melihat tangan Irgi yang memar dan lecet-lecet. 


"Hei, aku hanya bercanda, jangan nangis,ok!" Irgi mengangkat tangannya dan mengusap rambut Seren dengan senyuman. 


"Gara -gara aku, kakak jadi seperti ini. Maaf," ucap Seren sedih.


"Kakak baik-baik saja, kenapa kamu sedih, sayang? Lagipula bukan salah kamu," ucap Irgi. Irgi mencoba untuk duduk, tapi badannya sakit semua. Seren dengan sigap membantu Irgi untuk bangun. 


"Yang lain kemana?" tanya Seren. 


"Semuanya pulang," jawab Irgi. 


"Oh. Hem, Seren lapar. Seren pesan makanan online dulu," ucap Seren. Irgi tersenyum melihat Seren. 


Pak Sam'un, satpam rumah Syahdan masuk dan memberikan pakaian ganti. Lara menyuruh Sam'un mengantarkan pakaian untuk Seren. Karena Syahdan sudah lelah, jadi Lara tidak tega untuk mengajak Syahdan kembali ke rumah sakit. Setelah Seren menerima bajunya, Sam'un pamit pulang lagi.


Seren membersihkan diri di kamar mandi lalu mengganti bajunya. Tak lama, makanan pesanan Seren datang. Seren makan dengan lahap karena ia sudah melewatkan jam sarapan dan jam makan siang. Seren juga memesan bubur ayam untuk Irgi. Mereka makan bersama sambil sesekali bercanda.


***


Malam beranjak menyapa bumi. Sinar bulan malam ini begitu terang, tetapi seorang gadis memandang ke arah bulan dari jendela kamarnya dengan wajah suram. Seolah awan mendung menggelayut di wajah cantiknya. Joan menggenggam erat ponsel dan terisak. Joan sudah lebih dari dua puluh kali menghubungi nomor Ken, tapi Ken tidak menjawab panggilannya. 


"Kamu kenapa, Ken? Kenapa tidak memberi kesempatan untuk aku agar bisa menjelaskan semuanya, hiks hiks," lirih Joan. Sejak sore ia mengurung diri di kamar. Rina sudah memanggil Joan beberapa kali untuk makan malam, tapi Joan hanya menyahut jika dirinya tidak lapar. Rina tidak menaruh rasa curiga kenapa Joan mengurung diri di kamar. Karena Joan bilang banyak tugas.


Tring!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Joan. Ia melihat nama Ken sebagai pengirim pesan. Dengan hati berbunga, Joan melihat pesan itu. Joan berharap itu adalah pesan jika Ken menyesal dengan kejadian tadi siang dan meminta maaf. Namun harapan Joan runtuh, rasa hatinya bagaikan ia tertimpa sesuatu yang sangat berat. Sakit, sesak dan rasa tercabik-cabik bagaikan sebuah silet yang menyayat.


Itu bukanlah sebuah pesan permintaan maaf, melainkan pesan permintaan putus. Ken memutuskan Joan lewat pesan singkat. Ken mengakhiri hubungan mereka dan meminta Joan untuk tidak lagi mengganggunya. Joan segera berlari dan melemparkan tubuhnya di ranjang. Joan tengkurap, menenggelamkan wajahnya di bantal agar suara tangisannya tidak terdengar Rina, ibunya. Rina sedang merawat Zidane yang sakit sejak sehari yang lalu. Joan tidak mau menambah beban pikiran Rina.

__ADS_1


Bahunya bergetar turun naik, Joan sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak terdengar. Malam itu, Joan menangis hingga pagi hari. Joan tidak menyangka jika perjuangan cinta mereka berakhir dengan sebuah pesan singkat. Joan begitu mencintai Ken, begitupun sebaliknya. Namun amarah masih tetap menang dibanding cinta yang mereka miliki. Hati mereka masih selalu kalah oleh amarah dan kecemburuan.


***


Joan terduduk di lantai, bersandar pada tepian ranjang dan memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Air mata Joan sudah mengering, matanya membengkak karena tidak tidur semalaman dan menangis berjam-jam. Kini ia bingung untuk keluar, ia bingung untuk menjawab, jika seandainya Rina bertanya tentang matanya yang membengkak.


________________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga di sini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2