
"Masuklah! Aku dulu atau kamu dulu yang mandi?" Jhon dan Andin sudah berada di dalam kamar Jhon yang dihias untuk kamar pengantin. Jhon merasa canggung di dalam kamar berdua dengan Andin. Begitupun sebaliknya, Andin gugup saat ditanya oleh Jhon.
"Em, ka-mu saja du-lu-an," ucap Andin dengan terbata. Rasanya seolah udara semakin menipis dalam kamar itu. Suara Andin pun semakin sulit untuk keluar dan tercekat di tenggorokan.
"Kamu saja duluan. Kamu pasti capek kan? Mandilah lebih dulu," sahut Jhon.
"A-ku harus menghapus riasanku dan aksesoris ini." Andin menunjukkan hiasan sanggul dan wajahnya.
Tanpa banyak bicara, Jhon maju dan menuntun Andin untuk duduk di depan meja rias. Dengan senyuman yang terus tercipta di bibir, Jhon membantu Andin melepaskan hiasan sanggul yang lumayan banyak. Andin semakin gugup, wajahnya kian merona. Dengan hati-hati Jhon melepas satu persatu jepit rambut lidi yang menempel di rambut Andin. Sementara Andin menghapus make up yang menempel di wajahnya. Ia juga melepas bulu mata palsunya. Semua jepit berhasil dilepaskan oleh Jhon, kini rambut panjang milik Andin pun terurai.
Jhon mendekatkan bibirnya dan mencium rambut Andin. Ada gelenyar aneh yang menjalari setiap sisi tubuhnya, bulu-bulu halus di tengkuknya seakan berdiri. Ini bukan pertama kalinya Jhon mengecup rambut Andin, tapi entah kenapa malam ini apapun yang Jhon lakukan pada tubuhnya sungguh membuat Andin gugup dan salah tingkah.
"Mandilah! Sanggulnya sudah terlepas. Mau aku bukakan bajunya sekalian?" tanya Jhon dengan senyuman menggoda.
"Ti, ti-dak perlu." Andin segera berlari menjauhi Jhon dan masuk ke dalam kamar mandi. Andin bersandar di balik pintu kamar mandi, ia mencengkram baju di bagian dadanya. Jantungnya berdebar dengan cepat bagai ombak yang bergemuruh saling berkejaran. "Jangan gugup, Ndin. Jangan gugup." Andin berusaha menekan rasa gugupnya dengan bergumam pelan meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi, aku tidak bisa untuk tidak gugup." Andin tetap tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya. Andin memutuskan untuk mandi saja dulu. Selesai mandi dia memakai handuk kimono. Saat keluar dari kamar mandi Andin melihat Jhon sudah membuka kemeja putihnya dan bertelanjang dada. Andin segera membalikkan badannya.
"Sudah selesai?"
"Ya," jawab Andin singkat. Ia tidak berani melihat ke arah Jhon.
"Kenapa membalikkan badan? Bentuk tubuhku jelek ya?"
__ADS_1
"Tidak, bagus kok." Andin memukul pelan mulutnya yang keceplosan mengatakan tubuh Jhon bagus. Jhon tersenyum lalu melangkah mendekati Andin dan memeluknya dari belakang.
Deg!
"Benarkah tubuhku bagus?" tanya Jhon di telinga Andin.
Bergetar tubuh Andin merasakan embusan napas Jhon menyapu daun telinganya. Tangan Jhon melingkar sempurna di perut Andin. Semerbak harum sabun terkuar dari tubuh Andin, menelusup indra penciuman Jhon. Jhon menempelkan dagunya di pundak Andin dan memejamkan matanya, meresapi wangi menenangkan dari sabun aromaterapi yang Andin pakai untuk mandi. Sementara Andin hanya terdiam kaku tidak bergerak atau merespon tindakan Jhon. Hanya detakan jantungnya dan embusan napas berat yang membuat dadanya turun naik.
"Aku mandi dulu. Istirahatlah, kamu pasti capek. Ini juga sudah tengah malam, tidurlah lebih dulu." Jhon mengecup rambut di atas telinga Andin lalu pergi ke kamar mandi.
"Ha, bagaimana ini. Jantungku seperti mau copot setiap Jhon menyentuhku. Dia menyuruhku tidur, kan? Lebih baik aku segera pakai baju dan tidur. Aku rasa, aku belum siap untuk ritual malam pertama." Andin segera mengambil baju tidurnya, setelah ia memakainya ia pun berbaring di ranjang yang sudah dihias dengan kelopak bunga mawar pink dan putih. Andin berbaring miring menghadap nakas. Saat Jhon keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai boxer, Andin tidak melihatnya karena posisi tidurnya yng membelakangi. Jhon berbaring di samping Andin dan sesekali melirik ke arah Andin yang membelakangi dirinya.
***
"Sayang sekali karena kamu malah tertidur." Ken membaringkan Joan di ranjang. Ken mengambil bajunya di lemari. Kamar itu sering ia pakai saat menginap jadi lemari itu diisi baju-baju Ken, agar saat Ken menginap dia tidak perlu membawa pakaian. Karena sebelumnya tidak ada rencana untuk tinggal di sana, Joan tidak membawa baju ganti di mobilnya. Di lemari itu juga hanya ada pakaian Ken. Ken merasa lapar, setelah mandi ia pergi ke dapur dan melihat isi kulkas. Ken terperangah melihat isi kulkas.
"Wah, Kak Seren dan Kak Irgi sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Bahkan kulkas juga sudah penuh dengan makanan. Kapan mereka menyiapkan ini semua? Ah, masa bodoh. Lebih baik aku menghangatkannya." Ken melihat mesin penanak nasi juga sudah terisi dengan nasi matang. Ken mengambil satu kotak masakan dan menghangatkannya. Ken tidak suka memakai baju jika hendak tidur. Ia hanya memakai celana panjang longgar dan bertelanjang dada. Tubuh kekarnya terekspos sempurna dengan sixpack yang tergambar jelas di perutnya.
Ken selalu berlatih tinju di sela aktivitasnya yang padat. Ken merasa perlu memiliki setidaknya satu cabang ilmu bela diri agar dirinya bisa melindungi orang-orang yang disayang. Seperti kasus Seren dan Irgi lima tahun lalu saat Seren diganggu oleh Elden. Untung saja ia sigap mengikuti Seren dan Irgi malam itu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Seren dan Irgi.
Di dalam kamar, Joan terbangun karena mendengar suara peralatan masak yang beradu. Ia melihat sekeliling kamar dan menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Kamar itu dihias begitu indah dan ia malah tertidur. Ia merasa bersalah pada Ken, karena ia tahu kalau Ken sangat menantikan malam pertama mereka.
__ADS_1
"Bodoh banget sih. Kenapa aku malah ketiduran. Ken marah tidak ya?" Joan menceracau dengan gelisah. Ia sadar kalau Ken tidak ada di kamar, dengan hati-hati ia melangkah keluar dari kamar dan mencari keberadaan Ken. Mendengar suara dari arah dapur membuat Joan penasaran dan mencari Ken di dapur. Joan menemukan Ken di dapur. Joan berdiri lima langkah di belakang Ken, ia menatap punggung polos Ken dengan senyuman. Ken sangat perhatian, ia rela memasak sendiri daripada harus membangunkan Joan. Joan sangat bersyukur memiliki suami yang sangat baik seperti Ken.
--------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
__ADS_1
-Aunty Opposite Door I Love You
I Love you, readers ♥️♥️♥️