Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
7. Panggilan darurat


__ADS_3

hi all readers


aq datang


yuk ah kita cuss lanjutin kisah galau


Lara n Syahdan


ttap ya all


please like.koment.favorite


gak maksa kok..hehehe


selamat membaca smoga kalian suka


-----------------------------


Syahdan akhirnya berjalan menuju bagian administrasi. Lara mengusap air matanya agar tak terlihat Seren. Setelah yakin jika air mata sudah terhapus semua, Lara melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Seren.


Administrasi sudah selesai dan Syahdan pun sudah menebus obat untuk Seren. Ia kembali menuju ruang UGD. Saat di depan pintu, Syahdan menarik nafas panjang berulang-ulang. Menyiapkan hatinya untuk jangan menghiraukan Lara.


Syahdan pun melangkah masuk setelah menguatkan hatinya.


"Seren! Putri Papa tersayang, kita pulang, yuk!" ajak Syahdan sambil mengulurkan kedua tangan ke depan. Ia hendak menggendong Seren. Namun, gadis itu menggeleng pelan dan berkata.


"Selen mau digendong, Tante, aja Pa. Tante gendong Selen ya, " pinta Seren sambil menatap Lara.


 


Sebenarnya, Syahdan ingin sedikit menjauhkan Lara dan Seren. Ia tidak mau kalau Seren nanti terlanjur benar-benar menyayangi Lara. Baru satu hari kenal saja, Seren begitu sayang pada Lara.


Syahdan takut jika setelah beberapa hari nanti. Bagaimana jika Lara dilarang suaminya untuk mengasuh anak orang lain.


"Ya sudah. Ayo, Tante gendong kamu, Sayang," ucap Lara sambil bangun dari duduknya dan mengangkat Seren dari brankar dan menggendongnya.


"Pah! Ayo pulang. Selen mau main sama, Tante Lala," ucap Seren pada ayahnya yang diam mematung melihat Lara menggendong Seren dengan penuh kasih sayang.


 


"Ah iya. Ayo, Sayang," ajaknya pada mereka berdua.


Mereka sudah masuk ke mobil Syahdan. Lara duduk di depan sambil memangku Seren. Sepertinya Seren mengantuk, karena sejak tadi Seren diam saja. Lara mencoba menundukkan wajah untuk melihat Seren yang berada di pangkuannya. Wajah gadis kecil itu menghadap ke depan.


Dugaan Lara benar, ternyata Seren sudah tertidur. Dia merasa sangat tidak nyaman karena sedari tadi Syahdan diam saja.

__ADS_1


  


"Pak! Bapak marah sama saya ya? Sedari tadi, Bapak, diam saja," ujar Lara. Dia membuka obrolan lebih dulu.


 


"Tidak sama sekali.Oh iya La hari ini saya menunda kepergian saya ke kota B jadi malam ini kamu bisa pulang saja.tak perlu menginap"pinta Syahdan


 


Walau dalam hatinya menginginkan hal yang berlawanan dengan apa yang diucapkannya.Lara tidak tega meninggalkan Seren yang sedang terluka,tapi dia tidak punya hak apapun.


Akhirnya mereka sampai.Lara keluar tetap menggendong Seren.Dia langaung membawa Seren ke kamarnya dan membaringkannya dikasur.Syahdan mengikuti dari belakang


 


"Ehm Pak saya pamit kalo gitu"ucap Lara lesu


"Bisa gak kalo ga panggil bapak mulai sekarang,saya merasa dah tua beneran"pinta Syahdan pada Lara


 


"Lalu saya harus panggil apa?"tanya Lara


"Terserah kamu!!"jawab Syahdan


"Gapapa La,walaupun sebenarnya saya lebih berharap kalo kamu panggil saya sayang haha"candanya,membuat Lara memerah karena malu


"Sa..saya pamit pulang kalo gitu pak"Lara gugup karena ucapan Syahdan yang memintanya memanggil sayang


"Pak lagi aja"protes Syahdan


 


"Eh maaf maksud saya mas.Saya pamit mas"Lara langsung berbalik keluar dari kamar Seren dengan langkah cepat


 


Entahlah Lara merasa tidak bisa jauh dari Ayah dan anak itu.


"Lara kamu baru sehari kenal mereka.Udah merasa kaya istri diusir suami"celotehnya pada diri sendiri.Saat sampai halaman rumah Syahdan dia heran.


"kemana mobilku?"gumamnya


"Kamu lupa,kan mobil kamu ditinggal di parkiran rumah sakit tadi"Syahdan sudah berdiri di belakang Lara.Membuat Lara terkejut saat mendengar dia bicara

__ADS_1


"Hehe iya saya lupa mas"ucapnya sambil nyengir gaje."Ya udah kalo gitu saya naik taksi"Lara bekata sambil berlari.Karena dia melihat taksi yang lewat


 


Syahdan melambaikan tangan,meski sudah jelas Lara tidak melihat.Lara menuju ke rumah sakit dan mengambil mobilnya lalu melajukan ke arah caffe


 


***


Lara tiba di rumahnya dan langsung berbaring di sofa dengan kedua kaki menjuntai ke lantai.


Zidane ternyata ada di rumah. Heran melihat Lara yang sudah kembali, Zidàne bertanya pada Lara. Melihat wajah Lara yang kusut seperti kain baru dicuci belum disetrika.


"Eh, La. Lo balik lagi?" tanya Zidane.


"Iya, aku mau istirahat. Capek. Jangan ganggu aku, Zid!" Lara bangun dan melangkah ke kamarnya. Ia langsung melemparkan tubuhnya ke tengah tempat tidur.


Buk!


"Ah, nyamannya. Lebih baik aku tidur daripada kepikiran mereka mulu. Tapi, apa benar aku jatuh cinta pada Mas Syahdan?" Lara menutup wajahnya sambil senyum-senyum memikirkan Syahdan.


Tanpa terasa Lara tertidur dari jam tiga sore sampai jam delapan malam.


Drrttt! Drrttt! Ponsel Lara bergetar.


 


 


Lara setengah tertidur. Ia meraba-raba nakas untuk mencari ponselnya. Saat tangannya sudah menemukan yang dicari, dia menekan tombol menerima panggilan.


"Halo," ucap Lara dengan pelan, setengah ngelindur.


"Halo, Lara. Ini saya. Maaf mengganggumu malam-malam, tapi bisakah kamu datang kesini. Seren menangis. Sudah tiga jam dan tidak mau berhenti. Dia mencarimu," jawab Syahdan dari seberang telepon.


 


"Apa? Seren sudah menangis selama tiga jam dan, Mas, baru telpon saya. Ya sudah, saya kesana sekarang." Lara langsung bangkit dari ranjang, ia bergegas pergi tanpa berpikir dua kali. Dia pun segera menaiki mobilnya dan meluncur ke rumah Syahdan.


----------------------------


makasih buat yang setia menunggu


kisah duren Syahdan dan Lara

__ADS_1


jngn lupa author selalu berharap kalian suka dan memberi like buat author


makasih readers


__ADS_2