
Joan membaringkan Jhon di dalam kamarnya, kemudian Joan, Ken dan Rina duduk di ruang tamu.
“Jelaskan pada Mama, ada apa?” Rina tak sabar untuk mengetahui masalah Jhon.
“Jhon, tadi pagi tidak sengaja memukul Andin,” ucap Joan.
“Apa!! Memukul Andin? Kok bisa dia memukul Andin?” Rina tak percaya mendengar Jhon memukul Andin, sebab Rina tahu betapa Jhon mencintai Andin.
“Sebenarnya tidak sengaja, Ma. Itulah sebabnya, Jhon menjadi kacau seperti itu.”
“Benar, Tante. Semua hanya kesalahpahaman. Mungkin jika Jhon sudah tenang, mereka baru bisa menyelesaikan masalah mereka,” ucap Ken menambahkan.
Rina hanya menghela nafas, memikirkan anak laki-lakinya itu kacau seperti itu.
“Sudah malam, Ken pamit pulang, Tante,” ucap Ken berpamitan.
“Hati-hati di jalan,” jawab Rina.
“Ya, Tante,” ucap Ken. Ia menyalakan mesin sepeda motornya dan melaju meninggalkan halaman rumah Rina.
“Kamu cepat tidur, sudah larut,” ucap Rina.
Joan pergi ke kamarnya dan membasuh tubuhnya sebelum tidur. Joan memakai piyama tidurnya, merebahkan tubuh lelahnya setelah berkeliling bersama Ken. Perlahan mata Joan tertutup, tertidur, pergi berkelana di alam mimpi-mimpi indah.
***
Pagi hari
__ADS_1
Andin menggeliat, meregangkan tubuh langsingnya dengan begitu lentur. Andin bangun dan mencuci muka, ia memakai setelan baju olahraga. Andin merasa malas untuk kuliah, ia berniat untuk pergi lari pagi. Menghirup udara pagi untuk menenangkan pikiran dan menyegarkan tubuhnya.
Andin memasang earphone di kedua telinganya lalu memutar musik untuk menemaninya berlari. Andin siap melangkah dan membuka pintu. Pandangannya terpaku ke sudut gerbang rumahnya. Jhon dengan rambut kusut dan mata berwarna merah, berdiri, bersandar di pagar rumah Andin. Hari masih sangat pagi, mentari pun bahkan belum menampakkan cahayanya.
Jhon masih memakai baju yang sama seperti kemarin, saat dia meninggalkan kampus dan pergi ke klub. Andin mengunci pintu rumahnya, ia berjalan melewati Jhon begitu saja. Meski hati Andin juga terasa remuk redam, melihat betapa kacau keadaan Jhon yang berdiri di gerbang rumahnya.
“Andin, maaf.” Jhon menghentikan langkah Andin beberapa meter darinya.
Andin berhenti sejenak, tapi ia tidak menoleh. Matanya berkaca-kaca, untuk pertama kalinya ia mendengar kata maaf dari mulut Jhon. Namun, Andin tidak bisa begitu saja memaafkan Jhon, Andin ingin agar John tahu bahwa ia salah selama ini.
"Untuk apa kamu minta maaf, kalau kamu tidak sadar salahmu dimana." Andin berlari meninggalkan Jhon yang diam terpaku.
Jhon meminta maaf hanya untuk kejadian kemarin. Dia memang masih belum menyadari dimana letak kesalahannya, dia pun berlari mengejar Andin dan mensejajarkan diri di samping Andin.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan maafmu?" Jhon bicara sambil berlari.
Jhon hanya berdiri menatapnya semakin menjauh. Dia menyadari bahwa ia salah. Empat pertanyaan Andin membuatnya sadar, selama ini Jhon memang tidak tahu apa yang disukai Andin, bahkan kapan mereka jadian saja, Jhon tidak ingat. Jhon pergi dan pulang ke rumah.
***
"Ma, Jhon kemana?" Joan melihat kamar Jhon kosong.
"Bukannya masih tidur?" Rina menghampiri Joan di kamar Jhon. Dia heran melihat kamar itu kosong. Seingat Rina, dia tidak melihat Jhon keluar dari kamar. Karena Jhon sudah keluar dari jam tiga pagi.
Tiba-tiba Jhon ada di belakang mereka, dan menyuruh Rina serta Joan untuk keluar.
"Ma, Jo, aku ingin beristirahat. Bisakah kalian tinggalkan aku?" Jhon menatap sendu.
__ADS_1
Dia ingin merenungkan kesalahannya, serta berusaha mencari jawaban atas pertanyaan Andin.
***
Di rumah Syahdan
Mereka sedang sarapan pagi bersama, menu roti gandum dengan selai kacang menjadi pilihan pagi ini.
"Ma, Pa, Seren ingin bekerja. Bisakah Mama dan Papa memberikan Seren pekerjaan?" ucap Seren setelah roti miliknya habis.
"Bukannya Kakak ingin di rumah saja setelah menikah, kenapa ingin kembali bekerja?" Ken menghabiskan roti serta jus jeruknya.
"Irgi pergi ke luar kota, dan kali ini sedikit lebih lama dari biasanya. Kakak butuh kegiatan di luar rumah, supaya tidak jenuh."
"Kalau begitu, bagaimana kalau jadi asisten Ken saja, karena Ken belum bisa fokus pada kerjaan kantor. Masa Direktur datang ke kantor satu kali dalam seminggu," ledek Syahdan.
"Haha, Direktur malas," sahut Seren.
"Bukan malas, Kak, tapi Ken cuma bisa ke kantor saat tidak ada jadwal kuliah," ucap Ken membela diri.
"Ya, sudah. Kakak akan membantumu selama kamu kuliah, saat kamu libur kuliah maka Kakak libur. Oke?"
"Baiklah, deal. Selamat bekerja kembali," goda Ken.
"Ya, ya, terima kasih karena sudah diterima bekerja, Presdir." Mereka semua tertawa.
Seusai sarapan, Seren bersiap pergi ke kantor. Ken seperti biasanya, ia menjemput Joan dan pergi kuliah.
__ADS_1