Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
33. Pulang


__ADS_3

Andin melangkah ke arah yang berbeda dengan Jhon. Jhon ke arah parkiran motor dan Andin ke arah halte. Andin berniat pulang dengan taksi, tapi baru beberapa langkah, Jhon mengejarnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Jhon.


"Ke halte, cari taksi," jawab Andin.


"Sudah malam, bahaya kalau naik taksi. Aku antar kamu pulang," ucap Jhon.


Jhon menarik tangan Andin agar ikut dengannya. Andin tersenyum karena setidaknya, Jhon masih punya rasa khawatir akan diri Andin. Jhon membantu Andin memakai helm, seperti saat mereka pergi ke kampus bersama. Andin naik di belakang Jhon dan Jhon pun menyalakan mesin motor lalu melaju dengan kecepatan tinggi.


Andin memegang pinggang Jhon tetapi hanya jaket Jhon yang Andin pegang. Andin sudah tidak berani memeluk Jhon, karena mereka sudah memutuskan untuk berteman. Tiba-tiba di tengah perjalanan turun hujan yang begitu lebat. Jhon membelokkan motornya ke depan sebuah kios yang sudah tutup, karena memang sudah malam dan kios-kios sudah tutup.


Andin dan Jhon turun dari motor dan berteduh di depan kios itu. Andin mengelap lengannya yang basah dengan telapak tangan. Hujan bercampur angin itu membuat Andin kedinginan. Andin tidak menyangka akan turun hujan, karena itu dia hanya memakai dress tanpa lengan dan tidak membawa jaket.


Melihat Andin memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan, Jhon melepas jaket jeans yang dipakainya dan memakaikannya pada Andin.

__ADS_1


"Pakai ini!" ucap Jhon sambil memakaikan jaket di tubuh Andin. Andin terpaku menatap wajah Jhon. Jhon selesai memakaikan jaket itu dan tiba-tiba.


*Jedaarr.


"Akhh ...." Andin berteriak ketakutan saat petir menggelegar dan diikuti lampu yang tiba-tiba padam. Gelap dan pekat di tempat Andin dan Jhon berteduh, karena aliran listrin di daerah itu mati. Andin menutup telinga dan menunduk ketakutan.


Jhon menarik tangan Andin agar bangun. Setelah Andin berdiri, Jhon memeluknya dengan erat.


"Jangan takut, ada aku disini," ucap Jhon.


Andin membalas pelukan Jhon dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jhon.


Andin bergumam dalam hati, ia sungguh masih berat melepaskan Jhon. Cinta Andin masih milik Jhon seutuhnya, hatinya tidak bisa berpaling dari Jhon.


Jhon mendekap erat tubuh Andin dalam pelukannya. Jhon tidak bisa lagi menahan keinginan hatinya untuk menyatakan apa yang ia rasakan.

__ADS_1


"Andin," ucap Jhon pelan sambil tetap memeluk Andin.


"Hem," jawab Andin singkat.


"Bolehkah, jika aku mengatakan sesuatu?" tanya Jhon.


"Katakan saja!" ucap Andin.


"Dengarkan ucapanku sampai selesai, setelah itu kau baru jawab! Aku minta maaf atas sikap egoisku selama ini. Aku tahu, selama ini aku tidak pernah tahu tentang dirimu. Apa yang kau sukai dan apa yang tidak. Kapan kita jadian, bahkan kapan aku jatuh cinta padamu saja, aku juga tidak tahu. Tetapi ada satu hal yang sangat aku tahu... aku selalu mencintaimu. Kita sudah putus satu jam yang lalu, dan aku ingin menyatakan perasaanku kembali padamu. Aku mencintaimu, selalu hanya mencintaimu. Maukah kau menjadi pacarku... lagi? Memulai hubungan denganku dari awal lagi? Aku janji akan lebih memperhatikan kamu, sekarang bicaralah!" Jhon selesai berbicara dan menyuruh Andin menjawabnya.


Andin masih terdiam tidak mau berbicara. Dengan perasaan cemas dan tegang, Jhon masih setia menunggu Andin bicara. Jhon berharap, perasaan Andin masih sama seperti dulu. Namun, setelah beberapa menit berlalu, Andin masih terdiam. Jhon jadi makin gelisah.


"Jhon, aku... mencintaimu, tetapi juga benci padamu. Aku benci karena kamu begitu terlambat untuk memahamiku, tapi aku tetap saja mencintaimu. Mari kita mulai lagi dari awal, Jhon," ucap Andin.


Jhon tersenyum menatap lekat wajah Andin, perlahan tapi pasti, Jhon memajukan wajahnya dan mengecup bibir Andin yang mulai membiru karena kedinginan. Andin memejamkan mata, merasakan bibir hangat Jhon mengecap dan menghisap bibirnya dengan lembut. Andin mengalungkan tangannya di leher Jhon kemudian membalas ciuman Jhon.

__ADS_1


Setelah puas berciuman, merek kembali berpelukan. Menunggu hujan reda sambil berpelukan dengan rasa penuh kebahagiaan. Satu jam kemudian, hujan mulai mereda, tidak selebat tadi. Perlahan-lahan rintik air hujan mulai hilang dan hujan benar-benar berhenti. Jhon membantu Andin memakai helm kembali dan mengantarkannya pulang. Kali ini Andin melingkarkan tangannyadi pinggang Jhon.


Jhon mengantar Andin ke rumah Marinka, sampai di pintu gerbang rumah Marinka. Setelah melihat Andin masuk ke dalam rumah, Jhon baru pergi meninggalkan rumah Marinka. Jhon tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Kegundahan hatinya selama seminggu terakhir, kini telah hilang dan berganti kembali seperti dulu. Jhon sudah bertekad untuk berubah, berubah untuk lebih mengerti Andin dan lebih memperhatikan serta menyayanginya.


__ADS_2