Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
58. Pantai


__ADS_3

Dua jam kemudian, Ken sadar dan membuka matanya. Joan tersenyum lega melihatnya. 


"Ken, kamu sudah sadar?"


"Hem. Dimana ini?" tanya Ken sambil melihat sekeliling.


Ken terbangun di kamar dan ranjang yang asing. Jelas itu bukanlah kamarnya, ataupun ruangan rumah sakit. Joan memberikan segelas air putih pada Ken, Ken mengambil dan meminum air itu meski cuma seteguk.


"Ini, kamar tamu di rumah Pak Radja. Ternyata gudang tempat kita disekap berada di belakang rumah Pak Radja. Apa masih terasa pusing?" tanya Joan. Joan mengecek suhu badan Ken dengan telapak tangan ditempelkan di dahi Ken. Ken menarik pelan tangan Joan dan menggenggamnya. Joan tersenyum dan mengecup tangan Ken. 


Andin, Jhon dan Radja masuk ke dalam kamar. Mereka meledek Joan dan Ken yang baru saja berbaikan. 


"Ekhem …. Sudah baikan saja, lupa sama yang lain," ledek Andin.


"Andin, aku boikot kamu jadi saudara ipar!" Joan membalas ledekan Andin. Semua tertawa terbahak-bahak. 


Andin membawakan bubur yang ia masak sendiri di dapur Radja. Joan mengambil mangkok bubur dari tangan Andin lalu menyuapi Ken. Radja menyerahkan kartu undangan pada Ken. 


"Kami akan menikah di Semarang, tapi aku sangat berharap kalian semua bisa hadir. Jika kalian sibuk, tidak apa-apa. Mulai sekarang, jangan lagi cemburu padaku. Karena Joan-mu ini masih bau kencur, aku tidak suka kencur," goda Radja. Dan Joan menjulurkan lidahnya ke arah Radja. Radja tertawa melihatnya. Sikap Joan saat merajuk sama persis seperti adiknya. Radja melihat sosok adiknya di diri Joan, karena itulah ia menyayangi Joan seperti ia menyayangi adiknya.


***


Di rumah Zidane, Rina masih khawatir pada Joan karena ia masih tidak bisa menghubungi Joan. Tidak lama kemudian sebuah panggilan masuk ke ponsel Rina. Dengan terburu-buru Rina menerima panggilan itu.


"Halo, Jo. Kamu kemana sayang? Kenapa menginap di rumah teman tidak bilang-bilang sama Mama? Dan kenapa ponselmu tidak aktif, Mama jadi khawatir," ucap Rina panjang lebar. 


[Maafin, Jo, Ma. Jo tidak izin dulu sama Mama. Ponsel Jo kehabisan baterai.]


"Oh. Mama lega kalau begitu. Ya, sudah, Mama tutup teleponnya. Papamu belum sarapan," ucap Rina. Ia menutup panggilan dari Joan dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. 


***


Ken, Joan, Andin dan Jhon berpamitan pada Radja. Hari ini mereka libur dari kegiatan kuliah.


"Pak Radja, maafkan saya yang sudah berprasangka buruk pada Bapak. Dan juga terima kasih, karena Bapak sudah meluruskan kesalahpahaman diantara kami." Ken mengulurkan tangannya sebagai tanda permintaan maaf.

__ADS_1


"Tidak masalah, saya sudah menganggap Joan seperti adik saya. Jadi, kebahagian Jo adalah kebahagiaanku juga," ucap Radja sambil menyambut uluran tangan Ken. Mereka berjabat tangan dan saling melempar senyum.


Satu persatu, mereka berpamitan pada Radja. Ken dan Jhon mengambil motor mereka dan membonceng pasangan mereka. Sebelum pergi, mereka merencanakan liburan dadakan. 


"Hei, bagaimana kalau kita pergi ke pantai?" tanya Jhon. 


Joan, Ken dan Andin tampak berpikir sejenak.


"Ok." Joan dan Andin menjawab bersamaan. Namun, Ken masih diam. Joan menatap wajah Ken.


"Kalau kamu masih sakit, kita pulang saja. Kita bisa ke pantai lain kali," ucap Joan. 


"Bukan itu. Masalahnya, celanaku masih basah. Tidak nyaman rasanya," ucap Ken memberikan alasan.


"Kukira masalah apa. Apa Presdir Ken ini sudah bangkrut? Kenapa pusing masalah itu, kau bisa beli di jalan. Apa harus aku belikan juga?" tanya Jhon. Pertanyaan yang lebih masuk ke dalam kata ejekan. 


Ken pun akhirnya setuju dan mereka berempat pergi  meninggalkan halaman rumah Radja. Mereka melambai pada Radja, Radja membalas lambaian tangan mereka dan tersenyum manis. Radja telah berhasil menyelesaikan misinya. Meskipun misi penyatuan cinta Joan dan Ken terbilang ekstrim. Untung saja Joan tidak mengalami syock. Naura menggamit lengan Radja dan mengajaknya masuk untuk sarapan.


***


Mereka tiba di pantai setengah jam kemudian. Di perjalanan, mereka sempat berjenti dan mampir di toko pakaian. Tiba di parkiran, Joan dan Andin turun dan melangkah pergi lebih dulu. Sementara Jhon dan Ken sedang menunggu nomor parkir.


"Hai, cantik. Boleh kita temani?" tanya salah satu pemuda itu.


"Maaf, mereka milik kami. Tidak perlu kalian temani, biar mami saja." Ken dan Jhon menghampiri gadis mereka masing-masing dan merangkul pundak.


Joan dan Andin tersenyum. Kedua pemuda itu tersenyum canggung dan pergi meninggalkan mereka berempat. Setelah kedua pemuda yang merayu Andin dan Joan pergi, mereka bermain air dan berenang sambil berkejaran. Tawa mereka begitu renyah bak crepes hangat yang baru saja diangkat dari cetakan, tipis, renyah dan manis.


Kerikil-kerikil kecil terkadang hadir dan menghalangi langkah sebuah cinta untuk menemukan tempatnya. Kerikil itu datang diantara hubungan Ken dan Joan, juga Jhon dan Andin. Namun, jika cinta sudah memilih tempatnya, jangankan sebuah kerikil kecil, gunung tinggi sekalipun tidak akan bisa menghalangi. Cinta Joan telah menemukan tempatnya yaitu di hati Ken. Dan cinta Andin telah memilih Jhon untuk menetap.


Mereka berlarian di tepi pantai dalam keadaan basah. Joan dan Ken saling menarik ke tengah dan berlomba berenang. Sementara Jhon dan Andin sudah lelah berkejaran dan memilih duduk dan beristirahat di bawah sebuah pohon kelapa. Joan dan Ken menyusul dan duduk di depan Andin dan Jhon. 


"Jam berapa ini?" tanya Jhon. 


"Jam sepuluh," jawab Andin sambil melihat jam di ponselnya.

__ADS_1


"Sudah siang, kita ganti baju terus cari sarapan. Lapar nih," ucap Jhon.


"OK." jawab Ken dan Joan.


Mereka pergi membawa pakaian ganti dan mencari toilet umum. Setelah berganti pakaian, mereka berkumpul di sebuah kedai makan di tepi pantai. Mereka sarapan dengan sesekali mengobrol dan bercanda. Tertawa bersama setelah badai berlalu dari kisah cinta mereka. Mereka menatap ombak di lautan yang berarak maju mundur. 


Masa-masa pacaran mereka telah melalui bermacam cobaan dan godaan. Dari Andin yang marah pada Jhon dan memutuskan hubungan lalu kembali bersama, karena mereka sadar, mereka saling membutuhkan layaknya sepasang sepatu. Mereka tidak bisa jika terpisah di kaki yang berlainan orang. Sepatu akan terasa lengkap jika keduanya dipakai oleh orang yang sama.


Joan dan Ken juga sudah mengalami banyak cobaan dalam kisah cintanya. Diawali labilnya hati Ken yang menyimpan dua cinta dalam hatinya. Ken menyimpan nama Bidadari Cantika diantara nama Joan. Joan tetap bisa bersabar hingga saat Ken cemburu kepada orang yang salah. Ken memutuskan Joan tanpa perasaan iba sedikitpun. Namun, rasa sayang yang kuat di dalam hati mereka mampu mengalahkan ego yang merajai hati.


Entah, apakah akan ada lagi kerikil-kerikil yang lebih besar yang menghadang jalan kisah cinta mereka. Semua hanya waktu yang bisa menjawab. Mereka pergi meninggalkan pantai di TIJA. Mereka mengendarai motornya dengan tujuan berlainan. Ken mengantarkan Joan dan Jhon mengantar Andin pulang. Senyum cerah terpancar dibibir mereka berempat. Seperti pelangi yang nampak setelah hujan badai.


_____________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2