
Malam hari tiba, mereka makan malam bersama di meja makan panjang yang cukup untuk dua puluh orang. Bidadari duduk tepat dihadapan Ken. Mereka terkadang saling mencuri pandang, dan berpaling saat tak sengaja pandangan mereka bertemu. Tanpa mereka sadari, kelakuan mereka diperhatikan oleh Rui dan juga Joan.
"Bagaimana jika setelah ini kita main ke taman di bukit belakang desa ini?" tanya Rui.
"Apakah jauh dari sini?" tanya Joan kembali.
"Tidak terlalu, hanya sepuluh menit berjalan kaki!" jawab Rui.
"Kita pergi ya, Ken!" ajak Joan.
"Baiklah, kita pergi," jawab Ken.
Bidadari sebenarnya tidak semangat untuk pergi kemanapun, apalagi besok adalah acara pertunangannya bersama Rui. Bidadari ingin beristirahat dan mempersiapkan tenaga untuk esok hari. Tapi apa daya, Rui memaksanya untuk ikut.
Setelah makan malam, mereka pun berjalan santai menuju taman di bukit belakang desa Rui. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di taman dan berdiri di pagar pembatas bukit. Melihat pemandangan lampu kota yang terlihat beraneka warna. Malam ini langit juga sangat bersahabat, dengan barisan gugusan bintang-bintang yang membuat langit seolah bermandi berlian berkilau.
"Aku lupa untuk membeli minuman dan cemilan. Joan bisakah kau ikut denganku?" tanya Rui.
"Baiklah," jawab Joan.
"Ken, aku beli minuman dulu bareng Rui!" pamit Joan pada Ken. Ken mengangguk.
Joan berlari mengejar Rui yang sudah berjalan lebih dulu. Joan mensejajarkan langkahnya di samping Rui.
"Rui, kau buta atau berpura-pura buta? Kau tahu dengan jelas, diantara mereka ada sesuatu yang aneh. Menurutku, mereka memiliki rasa satu sama lain, dan kau membiarkan mereka berduaan!" ujar Joan dengan kesal.
"Aku tahu, sejak lama malah. Sejak kami akan berangkat ke sini. Tapi, aku ingin mereka menyelesaikan perasaan mereka hari ini. Karena Bidadari akan bertunangan denganku, aku ingin jika mereka punya perasaan, maka biarkan mereka ungkapkan dan akhiri malam ini juga!" jawab Rui.
"Bagaimana jika sebaliknya, mereka malah bersatu? Aku tidak bisa kehilangan Ken!" ucap Joan dengan mata berkaca-kaca.
"Cinta tidak bisa dipaksakan, Jo! tidak akan baik. Jika mereka ingin bersatu, maka ikhlaskan mereka!" ucap Rui.
"Tidak, Rui. Aku tidak bisa, hiks!" Joan terisak dengan langkah yang mulai melamban. Rui memeluk Joan, dan mengusap punggungnya. Rui juga sebenarnya tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan Bidadari. Tapi sama seperti saat dia melepaskan Joan untuk Ken dulu, meski dengan terpaksa tapi Juan belajar ikhlas.
Setelah tangisan Joan mereda, mereka lanjut berjalan ke arah minimarket.
Ken dan Bidadari berdiri dengan canggung di pagar pembatas bersama dalam kebisuan. Sampai Ken membuka suara terlebih dulu.
"Apa kabarmu, Bie?" tanya Ken.
"Baik, dan kau?" Bidadari balik bertanya.
__ADS_1
"Baik juga," jawab Ken.
"Bagaimana hubunganmu dan Joan? kalian sudah mendaftar kuliah?" tanya Bidadari.
"Kami berempat mendaftar di kampus yang sama!" jawab Ken.
"Oh, baguslah. Aku doakan kalian bisa mencapai cita-cita kalian!" ucap Bidadari.
"Lalu bagaimana dengan cita-citamu? Apa kau tidak ingin mengejar cita-citamu?" tanya Ken.
"Cita-citaku sudah tercapai! Apa lagi yang ingin kukejar!" ucap Bidadari.
"Apa cita-citamu?" tanya Ken.
"Tinggal bersama orang yang mencintaiku!" jawab Bidadari.
Ken menatap wajah Bidadari yang sedang memandang lurus ke depan. Ken mencintai Joan tapi melihat Bidadari, perasaan yang Ken rasakan tidak bisa dia artikan. Ken merasa hatinya sakit saat mengingat bahwa Bidadari akan bertunangan dengan Rui.
"Apa kau bahagia, Bie?" tanya Ken.
Bidadari menatap Ken dengan pandangan penuh rasa sakit. Bidadari sakit harus melepas perasaannya pada Ken. Tapi Bidadari adalah Bidadari, dia tidak ingin menyakiti hati siapa pun.
"Ken, kenapa mereka lama sekali? Haruskah kita menyusul!" Bidadari berbalik akan pergi tapi Ken mencekal tangannya.
"Aku bahagia selama orang yang di sekitarku bahagia!" jawab Bidadari. Dia menarik tangannya tapi Ken memeganginya dengan kuat.
Di balik pohon tak jauh dari Ken dan Bidadari, Joan dan Rui berdiri memperhatikan mereka. Joan mengepalkan tangannya dengan kuat. Hatinya serasa di iris-iris, melihat Ken yang menggenggam tangan Bidadari. Joan akan menghampiri, Rui segera menahannya.
"Jo, tunggulah sebentar lagi!" ucap Rui.
"Kenapa? Mereka mungkin akan menyatakan perasaan mereka dan bagaimana jika mereka memutuskan untuk bersama!" isak Joan.
Bidadari menjawab dengan senyuman, meski di hatinya terlukis kesedihan.
"Bagaimana jika aku bilang, aku tidak bahagia?" tanya Ken.
Bidadari menarik tangannya dengan kuat hingga terlepas dari tangan Ken.
"Itu hanya perasaan sesaat, Ken! Percayalah, semua akan baik-baik saja. Seperti saat kalian belum bertemu denganku. Kau dan Joan akan bahagia selamanya. Lepaskan perasaan sesaat kamu, dan biarkan aku juga melepaskan dirimu Ken!" ucap Bidadari.
Rui mengusap air mata Joan, lalu mengajaknya menghampiri mereka.
__ADS_1
"Hai, Ken. Sorry lama, kasirnya ngantri sekali!" ucap Rui. Dia menyenggol bahu Joan yang diam merenung.
"E, iya Ken! parah ngantrinya," ucap Joan sambil tersenyum.
Mereka duduk sambil meminum soft drink yang Rui beli bersama Joan. Setelah malam semakin larut, mereka pulang dengan menggandeng pasangan masing-masing. Sampai di rumah, mereka langsung masuk ke kamar dan tidur agar tidak kesiangan untuk acara besok.
**************
Pagi hari
Semuanya sudah siap dengan dandanan yang menjadi favorit masing-masing. Acara yang akan berlangsung jam sepuluh pagi itu sudah mulai ramai oleh tamu undangan. Hanya satu orang yang masih betah di kamarnya.
Ken sebenarnya sudah memakai setelan jas biru, tapi Ken merasa malas untuk turun.
Tok tok tok
Lara mengetuk pintu kamar Ken, karena acara sudah akan dimulai.
"Ken, acara tukar cincinnya akan di mulai. Masa Ken mau mempermalukan Mama," ucap Lara.
Ken membuka pintu, "Maaf, Ma. Ken kesiangan, baru selesai mandi. Ayo kita turun!" ajak Ken.
Saat Ken turun, Rui sudah memakaikan cincin di jari manis Bidadari. Kemudian Rui dan Bidadari menoleh ke arah Ken yang baru bergabung. Bidadari tersenyum lalu menatap Rui dengan tersenyum dan memasangkan cincin di jari Rui.
prokk prokk prokk
Riuh tepung tangan mewarnai berakhirnya acara tukar cincin. Para tamu undangan maju memberikan ucapan selamat satu persatu. Terakhir keluarga Zidane dan Lara yang memberikan ucapan selamat. Ken dan Joan juga memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya, Bie, Rui!" ucap Jhon.
"Terima kasih, Jhon!" jawab Bidadari dan Rui berbarengan.
"Selamat," ucap Ken.
"Terima kasih," jawab Bidadari.
"Selamat," ucap Joan.
"Terima kasih," jawab Bidadari.
Dan setelah memberikan ucapan selamat, para tamu menikmati hidangan yang tersedia. Kecuali Ken yang memilih pergi ke lantai atap rumah Rui. Syahdan menghampiri Ken yang menyendiri.
__ADS_1
"Di sini memang indah! Tapi jangan lupa kampung halaman," ucap Syahdan berdiri di samping Ken. Ken hanya tersenyum getir. Ayah dan anak itu duduk bersantai di atap berdua sambil menatap langit biru kota Tokyo di siang hari.