
Ken benar-benar merasa kakinya tak bisa bergerak.
"Kamu gak apa-apa kan, Ken?" tanya Joan.
"Tidak, cuma aku harus duduk sedikit lebih lama di sini," ucap Ken sambil meluruskan kakinya satu persatu dengan dibantu tangannya. Joan duduk di samping Ken.
"Bukan hanya aku yang tahu, Rui juga tahu!" ucap Joan. Ken menatap wajah Joan.
"Kenapa kalian diam saja, jika tahu?" tanya Ken.
"Percayalah, aku sangat ingin menamparmu saat itu. Tapi Rui menahanku, dia bilang kalian harus bicarakan perasaan kalian lalu kalian harus mengakhirinya. Pertanyaannya, apa kau bisa mengakhiri perasaanmu pada Bie?" tanya Joan sedih.
"Semua butuh proses, aku akan berusaha semampuku. Perasaanku padamu lebih kuat, Jo!" ucap Ken.
"Kau tahu Ken? Jika pacarmu itu bukan aku, aku yakin kamu sudah dicakar. Kamu blak-blakan mengakui perasaanmu untuk orang lain. Sungguh menyakitkan bagiku, tapi lebih menyakitkan jika aku kehilangan kamu Ken!" Joan mendekat dan mencium bibir Ken sekilas. Ken tersenyum.
"Ini pertama kalinya!" ucap Ken.
"Pertama kali? Apa yang kau maksud?" tanya Joan.
"Ini pertama kalinya kamu nyium aku. Ini pertama kalinya kamu bicara jujur padaku tentang perasaanmu. Terima kasih kau sudah mencintai laki-laki brengsek sepertiku. Aku janji, aku akan menutup mataku untuk melihat wanita lain. Aku hanya akan melihatmu!" ucap Ken. Dia menarik Joan mendekat dan mencium bibir Joan dengan lembut.
Dari jauh, Rui dan Bidadari yang ikut mencari Ken akhirnya melihat mereka sedang berciuman dengan mesra. Meski hati Bidadari sakit, tapi dia bahagia melihat Ken dan Joan baik-baik saja.
"Syukurlah, mereka sudah bertemu.Mari kita pulang!" ucap Bidadari menarik tangan Rui.
"Apa kau mencintai Ken, Bie?" tanya Rui.
Bidadari berhenti berjalan dan menatap Rui.
__ADS_1
"Dia hanyalah angin yang berembus melewatiku. Tapi kamu adalah rumah yang selalu ingin ku tuju," ucap Bidadari.
"Kenapa aku merasa perkataanmu tidak tulus, Bie!" jawab Rui.
Bidadari mendekat pada Rui.
"Apa yang harus ku lakukan untuk membuktikan ucapanku?" tanya Bidadari.
"Kita lakukan itu sekarang!" pinta Rui.
"Apa? Lakukan itu! Aku tidak mau," jawab Bidadari tegas.
"Katanya cinta? Kok gak mau?" tanya Rui.
"Cinta kan bisa di ungkapkan dengan cara lain. Tidak harus melakukan... itu kan?" tanya Bidadari. Wajahnya memerah.
"Apa saja asal jangan hubungan intim!" ucap Bidadari tegas. Dan tawa Rui pecah seketika.
"Hei, maksudku dengan 'itu' maksudnya menikah. Kita menikah sekarang. Aku tidak menyangka pikiranmu langsung mesum mendengar kata 'itu', haha." Rui sengaja menekankan kata itu, sontak Bidadari berlari karena malu.
"Hei, Bie jangan lari, tunggu aku!"
Ditaman, Joan membantu Ken berdiri dan memapahnya berjalan. Kaki Ken masih terasa lemas karena selain berlutut lama, Ken juga belum makan dan minum sedari siang. Ken juga merasa pusing saat berdiri karena dehidrasi.
Semua orang berkumpul di teras menunggu Ken dan Joan pulang. Mereka malah melihat Bidadari dan Rui yang sedang berkejaran. Sampai di depan rumah, Bidadari dan Rui berhenti berlari dan berjalan mendekati mereka.
"Rui, Bie kalian lihat Ken dan Joan?" tanya Lara cemas.
"Mereka di belakang, tante!" jawab Bidadari.
__ADS_1
"Oh, syukurlah. Ya sudah kita tunggu di dalam saja!" ajak Syahdan. Mereka pun masuk dan menunggu di ruang tamu.
Tak lama Joan dan Ken masuk ke rumah dan melewati mereka yang berkumpul di ruang tamu. Melihat Ken di papah oleh Joan, mereka sontak khawatir dan berdiri menatap Ken.
"Ken kamu kenapa?" tanya Lara mendekati Ken.
"Ken jatuh, Ma!" jawab Ken.
"Itu bibir Joan biru, jatuh bareng Ken?" tanya Rui. Dia mendapat hadiah cubitan dari Bidadari.
Joan tertunduk malu, tak tahu mau menjawab apa. Joan dan Ken berlalu. Joan mengantarkan Ken ke kamarnya. Sampai di kamar, Joan memarahi Ken.
"Kamu sih, pakai gigit segala. Kan malu di ledekin Rui!" oceh Joan.
Ken hanya tersenyum geli saat dimarahi Joan. Joan keluar untuk mengambil makanan dan minum untuk Ken. Saat Joan ke dapur, Lara masuk dan menjewer telinga Ken.
"Awww, sakit...Ma!" ucap Ken meringis.
"Kamu ngapain gigit anak orang? Nakal!" ucap Lara.
"Hehe, Mama kan pernah muda. Masa gak maklum sih!" ucap Ken sambil mengusap telinganya yang di jewer Lara.
"Memang anak selalu meniru kebiasaan orang tua. Kamu tuh kaya Papamu, suka banget ngegigit. Kaya vampir aja!" omel Lara.
"Eh Papa juga gitu ya?" tanya Ken.
"Heh, malah bahas Papa! Awas kalau bikin malu!!" ancam Lara.
Lara keluar meninggalkan Ken. Dan tak lama Joan masuk. Dia hanya menaruh makanan dan minuman di nakas lalu pergi, karena Ken ternyata sedang mandi. Joan memang merasa sakit hati pada Ken. Tapi dia mencoba untuk mempercayai Ken, dan memberinya kesempatan kedua.
__ADS_1