Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
68. Liburan keluarga (END)


__ADS_3

Yup. akhirnya sampai juga di penghujung episode. sekali lagi author mengucapkan banyak2 terima kasih buat pembaca setia pengasuh cantik sang putri CEO.


i love pembaca setiaku 😘😘♥️♥️ kalian semua luar biasa 😍😍😍😍


--------------------------------------------


Mereka tiba di parkiran umum di depan pasar malam. Tempat pertama yang mereka tuju adalah kora-kora. Ken dan Jhon meninggalkan Joan dan Andin untuk membeli tiket. Jhon dan Ken membagi tugas, Ken membeli tiket kora-kora dan Jhon membeli tiket untuk masuk ke rumah hantu. Saat Andin dan Joan asyik mengobrol sambil menunggu suami mereka membeli tiket, dua orang pemuda menghampiri Andin dan Joan. 


"Hai, cantik. Berdua saja? Boleh kami temani?" ucap salah satu pemuda itu.


"Maaf, Mas. Kami, sedang menunggu suami kami." Andin menjawab dengan sopan.


"Hahaha, kalian ini pasangan penyuka sesama jenis, ya?" Pemuda yang satunya menyahut dengan ucapan merendahkan.


"Siapa yang suka dengan sesama jenis?" tanya Ken yang baru saja tiba setelah mengantri tiket. "Sayang, apa mereka mengganggu kalian?" tanya Ken pada Joan sambil menarik lengan kaosnya ke atas. Para pemuda itu mundur melihat otot lengan Ken.


"Tidak. Mereka hanya lewat, ya, kan, adek-adek?" Joan tersenyum mengejek kedua pemuda itu. Para pemuda itu, langsung menjawab dengan gugup.


"I-ya, kak. Ka-mi cu-ma lewat. Permisi," ucap pemuda itu sambil menarik pundak temannya untuk pergi. Jhon datang dan berpapasan dengan kedua pemuda itu. Jhon sempat menoleh karena melihat kedua pemuda itu berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan Joan, Ken dan Andin.


"Siapa mereka? Temanmu, Ken?" tanya Jhon. 


"Seandainya dia temanku, maka pulang dari pasar malam ini aku akan mendatangi rumahnya dan akan aku hajar habis-habisan." Ken emosi mengingat ucapan kedua pemuda itu yang mengatakan  Joan sebagai penyuka sesama jenis. Joan hanya tersenyum melihat kemarahan Ken.


"Kenapa tertawa?"


"Tidak, haha. Ayo kita naik!" Joan menarik tangan Ken, Andin dan Jhon mengikuti di belakang mereka. Mereka naik kora-kora berempat di bangku yang sama. Saat kora-kora mengayun semakin tinggi, Andin dan Joan menjerit sambil menutup mata. Jhon dan Ken tersenyum geli. Setelah sepuluh menit, kora-kora berhenti mengayun dan mereka berempat pun turun.

__ADS_1


"Mau langsung lanjut atau mau minum dulu?" tanya Jhon. Jhon melihat Andin masih terengah-engah napasnya setelah berteriak ketakutan. Jhon mengusap puncak kepala Andin. "Kalau takut, kenapa tidak menolak? Lihat! Wajahmu sampai pucat begini."


"Aku pergi membeli minum dulu." Ken pergi ke tempat penjual es bubble, ia memesan tiga cup es bubble rasa mangga dan satu botol air mineral untuk Andin. Ken sangat tahu apa yang disukai dan tidak disukai Andin. Karena Andin sudah seperti saudaranya, bahkan terkadang Ken iri pada Andin saat Lara lebih membela Andin daripada dirinya. Ya, Lara membela Andin karena memang Ken yang salah, Ken sering sekali menjahili Andin.


Pesanannya sudah siap, Ken membayar lalu kembali ke tempat Jhon, Andin dan Joan. Ken memberikan minuman pada mereka. 


"Kalau Andin ketakutan naik kora-kora, apa Andin bisa masuk ke rumah hantu?" tanya Ken khawatir.


"Enggak deh. Kalian saja, aku tidak mau ke rumah hantu. Meskipun aku tahu hantunya bohongan, tapi mereka mengagetkan saat muncul." Andin mengibaskan tangannya dan menolak untuk masuk ke rumah hantu.


Tiba-tiba di dekat mereka berempat berdiri, ada sepasang kekasih yang bertengkar karena si pria salah membeli tiket.


"Aku tidak mau naik bianglala, aku maunya ke rumah hantu. Tahu begitu, tadi aku yang membeli tiket." Si wanita marah-marah pada kekasihnya.


"Ya, maaf, aku salah. Tapi tiketnya sudah dibeli, sayang kalau dibuang." Si pria membujuk dengan lembut.


Jhon dan Andin saling berpandangan sambil tersenyum. Hanya dengan kontak mata, Jhon mengerti isyarat Andin. Jhon pergi menghampiri pasangan kekasih itu dan menukar tiket mereka. 


"Ya, sudah. Kami pergi kesana dulu. Kita berkumpul di tempat parkir setelah ini dan pulang, ok." Jhon dan Andin lalu pergi ke arah bianglala, sedangkan Joan dan Ken masuk ke dalam rumah hantu.


Waktu semakin malam, sudah jam sepuluh. Mereka sudah berkumpul di parkiran dan masuk ke dalam mobil. Ken pun melajukan mobilnya menuju apartemen Irgi. Tiba di basement apartemen, Jhon dan Andin keluar dari mobil Ken. 


"Ken, kami tidak mampir lagi. Kami harus pulang. Jangan lupa! Besok pagi jam 7 berkumpul di rumahmu. Kita akan pergi ke villa di Puncak." Jhon mengingatkan Ken dan Joan bahwa besok mereka akan mengadakan liburan keluarga. Sudah lima tahun mereka tidak melakukan liburan keluarga. Villa di Puncak yang pernah mereka sewa dulu itu sudah Syahdan beli. Karena keluarganya sangat bahagia saat berlibur di Villa mewah itu, jadi Syahdan membelinya. Terkadang Lara dan Syahdan tinggal beberapa hari di sana. Setelah motor Jhon meninggalkan parkiran, Ken dan Joan masuk ke dalam lift dan kembali ke apartemen. 


***


Keesokan pagi. 

__ADS_1


Mereka sudah berkumpul di depan rumah Syahdan. Seren, Irgi dan Die Die satu mobil. Jhon, Andin, Rina dan Zidane satu mobil. Chika, Ichal dan Kayla satu mobil. Sedangkan Syahdan dan Lara ikut dalam mobil Ken dan Joan. Keempat mobil itu pun melaju beriringan menuju Puncak. Dua jam perjalanan menuju Bogor itu ditempuh dengan lancar. Mungkin karena bukan hari libur, jalanan menuju ke Puncak yang biasanya sangat ramai itu sedikit sepi dan tidak ada kemacetan yang selalu menghiasi jalur Puncak.


Dua jam kemudian mereka tiba di villa. Karena villa itu bukan lagi villa sewaan tetapi milik pribadi, Syahdan-pun menyewa satu orang tukang kebun dan satu orang asisten rumah tangga untuk merawat dan menjaga villa itu. Saat mereka turun dari mobil, Kirman, tukang kebun langsung menghampiri Syahdan.


"Selamat pagi, Tuan."


"Pagi, Mang Kirman. Bi Iis mana?" tanya Syahdan. 


"Sedang belanja, Tuan."


"Oh. Pesanan saya sudah dicatat, kan? Perlengkapan untuk acara barbeque nanti malam."


"Sudah, Tuan. Begitu Tuan menelepon tadi pagi, saya langsung mencatat dan memberikannya pada Bi Iis."


"Baiklah, terima kasih ya Mang."


"Sama-sama, Tuan. Saya akan bawakan semua barangnya." Kirman membawa koper milik Syahdan dan Lara, yang lainnya membawa koper masing-masing. Syahdan telah merenovasi villa itu menjadi dua lantai dengan sepuluh kamar. Lima kamar di lantai bawah dan lima di lantai atas. Mereka mengambil kunci kamar masing-masing dan membawa koper mereka masuk.


*Malam hari.


Malam tiba, jam tujuh malam Kirman menyiapkan keperluan untuk acara barbeque. Alat pemanggang dan arang yang sudah dibakar. Setelah selesai menyiapkan semuanya, Kirman pamit ke dalam. Syahdan dan yang lainnya sudah menyalakan api unggun. Mereka berkumpul mengelilingi api unggun untuk mengusir hawa dingin pegunungan, sambil menunggu daging panggang mereka matang. Seren menatap lurus ke arah kebun teh. Ia tersenyum mengenang kembali pertemuan pertamanya dengan Irgi di kebun teh itu.


"Hari ini, kami kembali kesini. Tempat dimana pertama kami bertemu." (Seren)


"Di sinilah kami sekarang. Berkumpul bersama keluarga. Seperti tahun-tahun silam. Hanya saja, kini situasi dan keadaannya berbeda. Jika dulu aku, Ken, Jhon masih anak-anak. Saat ini, kami berkumpul dengan keadaan sudah menikah. Ya, kami telah dewasa dan menikah sekarang. Ken, yang dulu aku pikir tidak akan bisa aku miliki. Kenyataannya kini, dia sudah menjadi suamiku. Wajah-wajah ceria mereka saat ini, sungguh membuatku bahagia. Tawa dan canda yang tercipta, semoga akan tetap selamanya seperti saat ini." (Joan)


Joan menatap satu persatu wajah orang-orang yang berkumpul. Syahdan dan Lara yang tetap mesra dan harmonis meskipun sudah memiliki cucu. Seren dan Irgi yang sedang bercanda dengan putrinya, Die Die. Begitu juga Chika dan Ichal yang sedang bermain kejar-kejaran dengan Kayla, putri mereka.

__ADS_1


Andin dan Jhon serta Zidane dan Rina sedang membagi tugas. Andin dan Jhon yang memanggang, Rina dan Zidane yang menata piring di meja. Kirman mengeluarkan meja makan, dibantu Syahdan, Ken dan Ichal. Satu jam kemudian, makanan sudah siap disantap. Mereka makan bersama, di tengah-tengah acara, hujan turun. Mereka segera bangun dan berlari masuk ke dalam rumah, dengan tawa yang membahana menghias di bibir semua orang. Mereka semua masuk dan menutup pintu.


TAMAT


__ADS_2