
*Delapan bulan kemudian*
"Sakit! Kak," ucap Seren dengan keras. Hari ini, Seren sudah memasuki hari kelahiran. Ia menjerit kecil terkadang memaki Irgi di ruang bersalin.
"Sabar, sayang. Aku di sini menemanimu. Sabar, ya. Nanti kalau bayi kita sudah lahir, sakitnya akan hilang," ucap Irgi sambil mengelus puncak kepala Seren.
"Sabar, sabar! Kakak tidak tahu seperti apa rasanya. Ini sakit sekali. Dasar pria, mau enaknya saja!" maki Seren.
Dokter dan perawat yang ada di ruangan itu tersenyum geli mendengar makian Seren pada sang suami. Irgi hanya tersenyum canggung melihat Dokter dan perawat menertawakan mereka.
"Ibu sudah siap? Tolong diatur napasnya, jika saya katakan ambil napas, Ibu ambil napas. Saat saya bilang dorong, Ibu mengejan ya," ucap Dokter yang sudah rapi memakai sarung tangan dan masker. Seren mengangguk.
"Ayo, sayang. Kamu pasti bisa," ucap Irgi.
"Ya, berisik! Ngomong melulu, aku sedang kesakitan. Ah, sakit, Dokter," ucap Seren. Ia mencengkram lengan Irgi dengan kuat.
"Ok, tarik napas! Satu, dua, tiga, dorong!" Dokter itu mulai memberi instruksi.
Seren dengan patuh mengikuti arahan sang Dokter. Jika hasil USG tidak salah, calon bayi mereka berjenis kelam*n perempuan. Seren dan Irgi sungguh tidak sabar menanti kelahiran putri pertama mereka. Seren terus mengikuti arahan sang Dokter dan Irgi dengan sabar menemani, menggenggam tangan Seren yang sedang berjuang melahirkan putri mereka.
Di depan ruang bersalin, Lara, Syahdan dan anggota keluarga dari Irgi juga hadir. Mereka sedang harap-harap cemas menunggu kehadiran anggota keluarga baru mereka. Tak lama kemudian, terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin. Mereka mengucap syukur, Seren sudah berhasil melahirkan anak pertamanya.
Dua hari kemudian, Seren sudah pulang ke rumah Lara. Seren tidak ingin merepotkan ibu mertuanya yang sudah merawat putri pertama Chika dan Ichal. Meskipun Marinka tidak merasa keberatan, tetapi seren merasa lebih nyaman tinggal bersama orang tuanya. Seminggu sekali Marinka akan menginap semalam untuk tidur bersama sang cucu.
Hari-hari berlalu begitu cepat, semua kebahagiaan dalam hidup Seren, membuatnya menjalani hari sebagai seorang ibu dengan bahagia. Bagaimana tidak? Setelah tiga tahun menanti, kini, ia bisa mewujudkan mimpi yang sudah lama ia harap menjadi nyata. Waktu berganti, bulan berlalu, tahun pun berganti.
Putri pertama Seren dan Irgi, Deandra Deviela Virgiawan , tumbuh dengan sehat. Ia menjadi anak yang sangat manja pada sang ayah, sama persis seperti saat Seren hamil. Terkadang Seren merasa cemburu pada Irgi. Bagaimana bisa putri mereka hanya bermanja-manja pada ayahnya, padahal Seren yang mengandung dan melahirkannya. Saat Seren merajuk seperti itu, Irgi hanya bisa tersenyum geli. Karena Seren cemburu putri mereka lebih dekat dengan Irgi.
__ADS_1
_____________________________
*Empat tahun kemudian*
Ken melirik jam tangannya berkali-kali. Padahal ia sedang di dalam ruang rapat. Ken, Andin, Jhon dan Joan lulus kuliah secara bersamaan. Mereka menyelesaikan studi masing-masing dengan lancar. Kini Ken sudah resmi menjabat sebagai Presdir PT. SA.
Ayahnya, Syahdan, kini sudah benar-benar lepas tangan dan tidak pernah berangkat bekerja. Syahdan hanya menghabiskan waktunya berdua bersama Lara di rumah. Terkadang sesekali mereka berjalan-jalan ke tempat-tempat wisata untuk menghibur hati mereka yang mulai kehilangan tawa anak-anak mereka yang telah tumbuh dewasa. Tetapi mereka tidak merasa kesepian, karena cucu mereka selalu menemani.
Ken semakin gelisah saat melihat jam sudah jam sebelas siang. Ken sudah berjanji akan menjemput Joan di bandara. Seminggu yang lalu Joan pergi ke Singapura untuk mencari spot wisata.
Joan membuat jasa tour travel, dan pekerjaan Joan adalah mencari spot wisata yang bagus untuk nantinya ia promosikan pada pelanggan. Hari ini adalah hari kepulangan Joan dan Ken sudah berjanji menjemput Joan di bandara. Namun Ken terhalang rapat yang cukup lama.
Fadil mengerti kegelisahan Ken, Fadil mempercepat rapat.
"Kalian atur semuanya dengan rapi, dan serahkan laporannya pada saya nanti. Cukup sekian untuk hari ini, rapat dibubarkan." Fadil merapikan berkas di meja Ken.
***
Di bandara, Joan duduk santai di kursi ruang tunggu bandara. Meskipun Ken sudah terlambat setengah jam dari waktu perjanjian, tapi Joan tetap duduk dengan sabar menunggu Ken. Joan yakin jika kekasih hatinya itu pasti datang. Karena Ken tidak pernah ingkar janji selama ini. Jadi Joan percaya, kali ini pun Ken pasti datang.
Setengah jam kemudian Ken sudah tiba di bandara, ia segera berlari mencari Joan di ruang tunggu. Ken langsung mencari Joan di sana, karena tempat itu sudah menjadi tempat pertemuan rutin mereka. Setiap kali Joan pergi ke luar negeri maka ia akan duduk di sana saat menunggu Ken menjemput. Joan mengerti jika Ken mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengurus perusahaan.
Ken menemukan Joan, ia berdiri sejenak untuk mengatur napasnya yang terengah-engah setelah berlari mencari Joan.
"Sayang, maaf aku terlambat. Tadi ada rapat dadakan. Kamu sudah lama menunggu?" tanya Ken sambil melangkah mendekati Joan.
"Tidak. Baru saja aku datang, pesawatnya terlambat," ucap Joan sambil bangun dari kursi dan tersenyum ke arah Ken. Padahal Joan sudah menunggu Ken sejak sejam yang lalu, tetapi Joan tidak ingin membuat Ken merasa bersalah karena terlambat. Ken menarik koper Joan dengan tangan kanan, lalu Ken mengulurkan tangan kirinya untuk menggandeng tangan Joan. Di jari manis mereka berdua tersisip cincin pertunangan. Setahun yang lalu, setelah lulus kuliah, Ken dan Joan bertunangan.
__ADS_1
Joan menyambut uluran tangan Ken dan mereka melangkah bergandengan tangan. Meninggalkan ruang tunggu bandara yang ramai dengan orang-orang seperti Joan, orang yang sedang menanti untuk dijemput. Ken membukakan pintu mobil untuk Joan. Joan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Ken masuk ke dalam mobil setelah Joan duduk dan Ken menutup pintu. Mobil Pun melaju meninggalkan parkiran bandara dengan kecepatan sedang. Setelah lulus kuliah dan bekerja, Ken sudah tidak lagi mengendarai motornya. Karena ia harus selalu tampil rapi di hadapan para klien. Apa jadinya jika Ken tiba di kantor dengan rambut kusut karena memakai helm. Jika ada waktu senggang, barulah Ken mengendarai motornya dan mengajak Joan berjalan-jalan.
__________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir juga di sini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏