Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
43. Tidak berubah


__ADS_3

Lara membawa nampannya dan menghampiri Syahdan yang sedang mengumpulkan dedaunan kering, yang berserakan di bawah pohon mangga. Di bawah pohon mangga yang rimbun itu terdapat sebuah kursi panjang. Lara menaruh nampan itu di kursi, lalu ia melangkah perlahan di belakang Syahdan.


Syahdan tersenyum melihat tangan yang melingkar di perutnya. Lara memeluk Syahdan dari belakang dan menyandarkan tubuhnya di punggung Syahdan. 


"Mas, aku punya berita bahagia," ucap Lara.


"Berita apa, sayang?" tanya Syahdan. Syahdan memeluk kedua tangan Lara. Tangan halus yang tidak pernah berubah, tangan yang selalu menggenggam tangan Syahdan di dalam susah dan senang. Tangan wanita yang telah menemaninya belasan tahun.


"Kita, akan segera menjadi Kakek dan Nenek," ucap Lara. Lara menarik tangannya dan Syahdan pun berbalik.


"Syukurlah, ini benar-benar berita yang sangat baik, aku sangat bahagia. Bagaimana keadaan Seren, apa dia masih menangis?" tanya Syahdan. 


"Tidak, setelah Irgi datang, Seren baru berhenti menangis dan menceritakan bahwa tadi pagi, Seren cek kehamilan ke rumah sakit seorang diri. Dan hasilnya positif. Saking bahagianya dia sampai langsung pergi ke sini dan menangis," ucap Lara bercerita.


"Aku pikir dia bertengkar dengan Irgi. Kita tidak mungkin salah memilih jodoh untuk Seren. Terbukti selama mereka berumah tangga, kita tidak pernah mendengar mereka bertengkar," ucap Syahdan. Syahdan menggandeng Lara dan duduk dibawah pohon. 


Lara memberikan kopi susu favorit Syahdan. Kopi susu tanpa ampas yang tidak terlalu manis. Sedangkan Lara meminum jus mangga yang awalnya Lara buat untuk Seren. Mereka memandang hijaunya rumput di taman belakang rumah. Lara menyandarkan kepalanya di bahu Syahdan, dan Syahdan memeluk pinggang Lara.


"Tidak terasa, ya, Mas. Kita sudah semakin tua, dan tidak lama lagi akan mempunyai cucu," ucap Lara. 


"Hem. Kita memang sudah bertambah usia, tapi siapa yang berani bilang kita ini tua? Kita tetap masih muda, masih bisa berpacaran seperti ini, seperti saat pertama kita berpacaran. Tidak ada bedanya antara saat dulu dan sekarang," jawab Syahdan sambil menggelitik pinggang Lara.


"Mas, jangan gelitik pinggangku! Geli, Mas," ucap Lara sambil menyingkirkan tangan Syahdan. Karena mereka terus bergerak, akhirnya kursi itu terguling bersama Syahdan dan Lara.


"Kau benar, Mas. Tidak ada yang berubah diantara kita, termasuk kemesuman kamu yang masih sama seperti dulu," ledek Lara.


Syahdan dan Lara terbaring di rumput dengan posisi Syahdan menimpa tubuh Lara. Syahdan menelusuri wajah Lara dengan jari telunjuknya. Lara tersenyum melihat kelakuan suaminya, yang sudah akan menjadi seorang kakek, tetapi kelakuan mesumnya tetap saja tidak berkurang.


"Sayang," panggil Syahdan. 


"Hem," jawab Lara.


"Kita pernah melakukannya di dapur, pernah juga di kantor, sepertinya kita belum pernah melakukan itu di halaman. Mumpung sedang sepi, bagaimana kalau kita coba?" Syahdan mengerlingkan matanya dengan nakal.


"Mas, jangan macam-macam!" Lara mendorong tubuh Syahdan tapi Syahdan malah mencekal tangan Lara dan menahannya diatas kepala. 

__ADS_1


"Mas, jangan bikin aku kesal. Bagaimana kalau Seren dan Irgi kesini? Bagaimana jika Ken tiba-tiba datang?" tanya Lara sambil melihat sekeliling.


"Ah, tidak seru. Kamu ini tidak bisa diajak nakal sedikit, hahaha," ucap Syahdan. Ia melihat Lara yang terus celingukkan menatap sekeliling halaman belakang. Syahdan bangun dari atas tubuh Lara, kemudian duduk bersila di atas rumput. Ia mengulurkan tangan dan membantu Lara untuk bangun. Lara duduk berselonjor. Syahdan lalu berbaring dan merebahkan kepalanya diatas pangkuan Lara.


"Aku pikir kamu beneran mau melakukan itu disini, Mas," ucap Lara menarik napas lega. 


"Kenapa? Kecewa, ya?" Syahdan berbaring telentang dengan wajah menatap ke atas. Menatap wajah Lara yang bersemu merah. Mereka telah hidup bersama selama belasan tahun, tapi Lara masih saja merasa malu mendengar ledekan mesum dari sang suami.


"Enak saja! Siapa yang kecewa? Aku, tuh, takut kalau kamu benar-benar mengajakku melakukan hal seperti itu di tempat terbuka seperti ini," ucap Lara cemberut.


"Aku juga tidak akan mungkin melakukannya. Nanti kulit mulusmu ini bisa gatal, kecuali jika kita bawa tikar disini, baru aku akan melakukannya. Aw," ucap Syahdan. Dan karena ucapan nakalnya itu, Syahdan mendapat cubitan di pinggangnya.


"Mas, ish! Sudah mau jadi kakek masih saja berkata mesum," ucap Lara sambil membelai rambut Syahdan. Syahdan menarik tengkuk Lara dan mengecup bibirnya sekilas.


"Terima kasih, telah menemaniku selama ini. Aku berharap kita akan bersatu tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak," ucap Syahdan.


 Lara tersenyum. Senyuman yang masih sama manisnya seperti saat Syahdan baru pertama bertemu dengan Lara.


***


Irgi sudah menghabiskan satu gelas jus dan pintu kamar Seren masih belum terbuka. Irgi memutuskan pergi mencari Syahdan di halaman belakang, mungkin Irgi bisa membantu Syahdan membersihkan halaman belakang. Namun, saat Irgi sampai di pintu belakang, ia mengurungkan niatnya karena Syahdan dan Lara sedang bersantai. Syahdan berbaring dengan kepala diatas pangkuan Lara.


Lara sudah masuk dan memasak di dapur. Ia menyiapkan sup ayam makaroni kesukaan Seren untuk makan malam.


"Irgi, Seren masih belum keluar?" tanya Lara. 


"Belum, Ma," jawab Irgi lesu.


"Ya, sudah, nanti Mama coba bangunkan Seren," ucap Lara sambil melangkah pergi ke kamar Seren. Baru saja Lara menaiki tangga, Seren sudah keluar dari dalam kamar dan melangkah turun.


"Seren, Mama baru mau bangunin kamu. Samperin Irgi sana! Sedari tadi dia nungguin kamu, sedih sekali sepertinya," ucap Lara. 


"Sedih? Kenapa?" tanya Seren tidak mengerti.


"Ya, karena kamu ngambek," jawab Lara.

__ADS_1


"Oh."


Seren menghampiri Irgi di ruang keluarga. Irgi berbaring tengkurap di sofa panjang. Irgi langsung bangun dan duduk saat melihat Seren di hadapannya sedang berdiri. Ia meminta maaf pada Seren soal tadi siang. Seren hanya menjawab dengan menarik tangan Irgi dan membawanya ke ruang makan. Mereka duduk dan mulai makan, Seren celingukan mencari Ken. 


"Ken, belum pulang, Ma?"


"Tadi dia sms Mama, katanya mau makan malam bareng Joan," jawab Lara.


Seren hanya mengucap 'oh' dan kembali makan dengan lahap. Ia tidak merasa mual saat makan, ia hanya suka tidur di siang hari, tetapi terbangun di malam hari. Kemarin Irgi masih bingung kenapa Seren jadi suka tidur siang. Kini ia tahu alasan dibalik semua perubahan Seren karena janin yang ada di perut Seren saat ini.


Irgi belum menelepon Marinka untuk memberitahukan kabar gembira ini. Irgi akan membawa Seren ke rumah Marinka besok. Mereka ingin memberitahukannya secara langsung, tidak melalui telepon. Irgi yakin, sang Mama juga akan sangat bahagia mendengar Seren hamil. Irgi juga ingin meminta izin pada ayahnya agar ia tidak ditugaskan lagi di luar kota. Irgi ingin mendampingi Seren selama kehamilannya hingga Seren melahirkan nanti.


______________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2