Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Sesal


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Khanza sayang, ingatlah wejangan yang sering kali Bunda sampaikan! Bersikaplah sopan terhadap suamimu! Jangan mengucapkan kata-kata kasar! Patuhilah suamimu dan layanilah dia dengan keikhlasan!" tutur Kirana sebelum melepas kepergian Khanza dan Adithya ke Desa W.


"Insya Allah, Bunda. Khanza akan berusaha, meski rasanya teramat sulit --" Suara Khanza tercekat. Ia tak kuasa menahan himpitan rasa yang menyesakkan dada. Titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata, kini jatuh membasahi wajah cantiknya.


Kirana sangat mengerti perasaan Khanza. Tidak mudah bagi putrinya mengarungi bahtera rumah tangga tanpa adanya rasa cinta. Namun Kirana sangat yakin, keputusannya dan Abimana menikahkan Khanza dengan Adhitya bukanlah sebuah keputusan yang salah. Sebab ia dan suaminya sangat mengenal pribadi pria yang kini berstatus sebagai suami Khanza.


"Za, teruslah berusaha! Yakinlah bahwa Adithya ... imam terbaik pilihan Allah. Dialah jawaban setiap doa yang kamu panjatkan. Ayah dan Bunda selalu melangitkan pinta, semoga rumah tangga kalian berdua sakinah, mawadah, warohmah --"


Kirana memeluk putrinya dengan erat. Lantas mencium lama kening Khanza seraya mencurahkan cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada putrinya.


Perlahan Kirana melerai pelukan. Ia seka wajah putrinya yang telah basah dengan jemari tangan.


"Khanza sayang, Bunda percayakan Rumah Sakit ICPA kepadamu --" ucap Kirana sembari menatap wajah putrinya dengan intens.


"Rumah Sakit ICPA?" Khanza melisankan tanya diikuti kerutan di dahi.


"Iya sayang. Dua tahun yang lalu, Ayah dan Bunda membangun sebuah rumah sakit di desa W sebagai pengingat kisah cinta kami. Kisah cinta yang berawal dari hubungan persahabatan dan keinginan untuk saling membalut luka karena goresan takdir cinta yang tidak selaras dengan keinginan --" tutur Kirana seraya menjelaskan.


"Bunda berharap, kelak kisah cintamu dengan Adithya terangkai indah. Sekarang belum ada rasa cinta, tetapi siapa tau esok. Dari sebal dan benci, menjadi benar-benar cinta," imbuhnya. Ia menoel hidung mancung putri tercinta disertai senyuman yang mengembang.


Khanza tersenyum getir. Andai rupa Adithya setampan ayahnya, mungkin saja tidak akan sulit baginya untuk jatuh hati.


"Bunda, kami berangkat dulu," ucap Adithya sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Iya Dith. Bunda titip Khanza, ya! Luluhkan hatinya dan segera berikan kami cucu."


"Siap Bunda. Saya akan berusaha meluluhkan hati Khanza dan bersegera memberikan Ayah dan Bunda seorang cucu." Adithya membalas ucapan Kirana dengan melirik wanita yang berstatus sebagai istrinya.


Setelah berpamitan dengan seluruh keluarga, Adithya dan Khanza masuk ke dalam mobil yang telah dipersiapkan oleh Abimana. Pria tampan bermata teduh itu meminta Johan untuk mengantar putri dan menantunya ke desa W.


....


Sesampainya di desa W, Khanza dan Adithya disambut hangat oleh kepala desa beserta seluruh warga. Binar bahagia terlukis jelas di wajah mereka ketika Khanza memperkenalkan diri. Kedatangan Khanza di desa W bagaikan angin surga yang menyejukkan. Besar harapan mereka, dengan kehadiran Khanza ... desa W akan semakin maju.


Setelah berpamitan dengan kepala desa dan seluruh warga, Adithya memandu istrinya menuju rumah yang akan mereka tinggali. Langkah kaki kedua insan itu terhenti ketika tiba di depan rumah yang teramat sederhana. Rumah berbentuk joglo dengan lantai yang belum dikeramik.


"Za, ini rumah kita. Kamu nggak keberatan 'kan jika kita tinggal di rumah ini?"

__ADS_1


Khanza tersenyum simpul lalu menjawab pertanyaan yang terlisan dari bibir suaminya, "aku nggak keberatan, asal kita tidak tidur seranjang. Beri aku waktu, Dith. Jujur, aku belum bisa menerima hubungan kita ini."


Adithya memaklumi istrinya. Ia menyetujui permintaan Khanza untuk tidak tidur seranjang.


"Baiklah, Za. Kebetulan ada dua kamar --"


"Syukur dech. Jadi nggak perlu was-was ... dimodusin," sarkasnya sambil memutar bola mata malas.


Meski tersindir, Adithya malah tergelak lirih. Teringat olehnya ketika mencuri cium-an pertama dengan berpura-pura merem (memejamkan mata).


Adithya membuka daun pintu kemudian mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.


Khanza mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tergantung beberapa foto dirinya yang terbingkai figura. Khanza merasa heran, tidak ada satu pun foto Adithya. Hanya foto dirinya sewaktu masih SMA, kuliah, hingga ia mengenakan seragam putih khas seorang dokter.


"Dith, kenapa nggak ada fotomu?" tanyanya heran.


Adithya mengulas senyum lalu ia menjawab pertanyaan istrinya, "Wajahku kan jelek, kalau dipajang pasti cicak-cicak dan semut-semut di dinding akan pingsan."


Khanza tergelak mendengar jawaban suaminya. "Tumben kamu mengakui kenyataan, Dit?"


"Aku mengakui kenyataan demi untuk membuatmu tertawa, istriku."


Khanza mencebikkan bibir. "Issshhh, sok manis."


"Ck ... ck ... ck, PD banget," gumamnya.


Di dalam hati terselip tanya, dari mana Adithya bisa mendapatkan foto-fotonya.


"Dith ...."


"Ya?"


"Dari mana kamu bisa mendapatkan foto-fotoku? Dari Bunda atau dari Ayah?" cecarnya tanpa menatap wajah Adithya.


"Ingin tau banget, atau ingin tau bingitz?"


"Seterah ...."


"Bukan seterah, tapi terserah Za."

__ADS_1


"Biarin, mulut-mulutku," ketus Khanza.


"Sudah lupa ya wejangan Bunda Kiran?" sindir Adithya seraya menggoda istrinya.


"Sengaja dilupakan karena kamu jengkelin."


Adithya terkikik geli melihat raut wajah Khanza. Terlihat sekali jika istri comelnya itu teramat kesal.


"Emmm, baiklah ... akan ku beri tau, Za. Aku mendapatkan foto-fotomu dari hasil mencuri."


"Mencuri?" Netra Khanza membola kala mendengar jawaban dari Adithya.


"Aku mencurinya dari album yang tersimpan di kamarmu, Za."


"Apa? Kau berani sekali Dith --"


"Bukankah aku ini suamimu? Jadi nggak masalah 'kan jika aku mencuri fotomu? Bahkan mencuri cium-an pertama pun sangat diperbolehkan," tuturnya.


Emosi Khanza kembali terpancing kala mendengar ucapan suaminya. Namun ia berusaha menahannya dan memilih berlalu pergi dari hadapan Adithya.


...


Khanza berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Meski malam telah larut, netranya belum bisa terpejam.


Perlahan ia beranjak dari ranjang lalu berjalan ke luar untuk mengambil air minum.


Langkahnya terhenti ketika terdengar lantunan kalam cinta yang sangat merdu. Ia kembali teringat Rangga karena suara Adithya sangat mirip dengan teman sekelasnya itu.


"Rangga, sebenarnya kamu berada di mana? Sudah bertahun-tahun kamu menghilang tanpa memberi kabar. Maafkan aku Ngga! Maaf atas segala ucapanku yang selalu menyakiti hatimu --" Khanza bermonolog lirih. Ia teramat menyesal dengan sikap dan ucapannya terhadap Rangga beberapa tahun yang silam.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Beri komentar


Rate 5

__ADS_1


Gift atau vote jika berkenan mendukung author agar tetap berkarya


Trimakasih dan banyak cinta ❤😘


__ADS_2