
Happy reading πππ
"Mulai saat ini, jangan pernah menemui Dahlia lagi! Dia tambang emas bagiku. Tidak ada satu orang pun yang bisa merebut Dahlia dariku, termasuk kamu. Rudi si pria cacat." Tawa Roy menggema hingga memekakkan telinga.
Bibir Rudi terbungkam. Untuk sekedar membalas ucapan yang terlontar dari bibir Roy, ia sungguh tak mampu.
Perlahan, Rudi menutup sepasang kelopak mata ketika ia merasakan ... seolah nyawanya terlepas dari raga ....
....
"Mas." Seorang wanita berusaha membangunkan Rudi yang masih saja belum sadarkan diri meski tubuhnya telah basah oleh air langit
"Mas, bangun Mas!" Wanita itu kembali berusaha membangunkan Rudi. Namun, usahanya gagal. Rudi tetap setia memejamkan netra.
"Waduhhh, piye iki Mbak Nisa? Mase nggak mau bangun-bangun," ujar si wanita yang sedari tadi membangunkan Rudi.
"Mungkin, ada baiknya jika saya menghubungi Abi saja Rum. Semoga, Abi sudah selesai memberikan tausiyah," sahut wanita yang bernama Annisa. Ia mengambil gawainya di dalam tas lalu segera menghubungi sang Abi.
Beruntung, panggilan telepon Annisa langsung diterima oleh pria yang merupakan abinya. Dia ... ustadz Ilham. Kakak satu-satunya yang dimiliki oleh Ayunda Kirana.
Ilham dan Kirana memiliki ayah yang sama. Namun berbeda ibu. Meski demikian, Ilham sangat menyayangi adiknya. Begitu pula dengan Kirana. (Kisah Ilham dan Kirana ada di novel author yang berjudul Istri Comel Pilihan Abi βΊ)
Okey, kembali ke cerita selanjutnya π
"Assalamu'alaikum, Abi."
"Wa'alaikumsalam, Nisa. Ada apa, Sayang?"
"Abi, saat ini Nisa dan Arum berada di jalan Gayam. Abi bisa 'kan menyusul kami?"
"Insya Allah, bisa Sayang."
"Segera ya, Bi!"
"Sebenarnya, ada apa Sayang? Kenapa, Nisa sepertinya terburu-buru?"
"Mmm ... tadi, Nisa dan Arum pergi ke swalayan. Di perjalanan pulang, kami melihat seorang pria yang tergeletak di pinggir jalan dan tidak sadarkan diri, Bi. Kasihan dia. Sedari tadi Arum berusaha membangunkannya. Namun pria itu tetap tidak bergerak, Bi."
"Baiklah. Abi akan segera menyusul kalian. Tunggu Abi ya Sayang!"
"Iya Bi."
Setelah mengucap salam, Annisa menutup panggilan teleponnya.
"Piye Mbak Nisa? Ustadz Ilham bersedia menyusul kita tho?"
Annisa mengangguk pelan dan menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Arum. "Iya Rum. Alhamdulillah, Abi bersedia menyusul kita."
"Alhamdulillah," ucap Arum dengan suaranya yang terdengar lirih.
__ADS_1
Arum memindahi pandanganya yang semula tertuju pada lawan bicara ke arah Rudi. Raut wajahnya nampak sendu saat ia menatap lekat-lekat wajah pria yang sedari tadi tak sadarkan diri itu. "Kasihan ya Mbak. Cakep-cakep kog awak'e babak bundhas."
"Iya Rum. Sebenarnya, apa yang terjadi pada pria ini ya?" Kalimat tanya yang terlisan disertai helaan nafas berat. Annisa teramat empati melihat kondisi tubuh Rudi yang dipenuhi oleh luka lebam. Terutama pada bagian wajah.
"Lah, kog tanya saya, Mbak. Lha saya ya ... meneketehek," sahutnya sambil mengendikkan bahu.
Dasar Arum. Di saat seperti ini, masih saja suka berceloteh.
Annisa menanggapi ucapan Arum dengan gelengan kepala dan senyuman setipis kertas.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, sosok yang ditunggu oleh Annisa dan Arum pun tiba. Seketika netra keduanya berbinar diikuti helaan nafas lega.
"Alhamdulillah ...." Annisa dan Arum berucap kompak.
Setelah keluar dari dalam mobil, Ilham segera memeriksa keadaan Rudi. Rasa iba memenuhi ruang batinnya tatkala melihat kondisi tubuh Rudi yang dipenuhi oleh luka lebam.
"Bantu Abi, membuka pintu mobilnya, Sayang!" pinta Ilham sembari mengangkat tubuh Rudi.
"Iya, Abi." Annisa mengangguk dan segera membuka pintu mobil.
Dengan sangat hati-hati, Ilham membaringkan tubuh Rudi di jok mobil bagian belakang.
"Sayang, duduklah di jok mobil bagian tengah bersama Arum!"
"Njih, Abi."
Annisa dan Arum menuruti titah yang dilisankan oleh Ilham. Keduanya masuk ke dalam mobil lalu mendaratkan bobot tubuh di jok bagian tengah.
"Abi, kita akan membawa pria itu ke mana?"
"Tentu saja ke rumah sakit, Sayang."
"Apa tidak sebaiknya, kita membawa pria itu ke pondok, Bi. Malam sudah semakin larut. Air langit juga belum reda. Pakaian kita dan pria itu ... basah kuyup, Bi. Nisa tidak ingin, Abi dan Arum masuk angin gara-gara tidak segera mengganti pakaian. Lagi pula, Nisa 'kan seorang dokter. Nisa akan memeriksa kondisi pria itu. Jika ada luka yang serius, paginya ... kita bawa pria itu ke rumah sakit, Bi."
Ilham nampak menimbang-nimbang ucapan Annisa. Setelah sejenak berpikir, ia menyetujui usul yang dilontarkan oleh putrinya itu.
"Baiklah, Sayang. Abi menyetujuinya."
Senyum terbit menghiasi wajah cantik Annisa saat mendengar ucapan abinya. "Alhamdulillah, terima kasih Abi."
"Iya Sayang."
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit, mobil yang membawa mereka tiba di pondok pesantren Al Hidayah.
Ilham mematikan mesin lantas keluar dari dalam mobil.
Annisa dan Arum bergegas menyusul Ilham. Kemudian mereka membantu pria paruh baya itu dengan cara membukakan pintu mobil bagian belakang.
Ilham meraih tubuh Rudi lalu mengangkat dan membawanya masuk ke dalam pondok.
"Siapa, pria yang Abi bawa? Dan, kenapa dia dibawa ke pondok, Bi?" tanya yang terlisan dari bibir Suci ketika ia menyambut kedatangan Ilham, Annisa, dan Arum.
__ADS_1
"Kami belum mengetahui siapa namanya, Mi. Tadi, Annisa dan Arum melihat pria ini tergeletak di jalan. Putri kita meminta, supaya dia dibawa pulang ke pondok."
"Loh, kog tidak dibawa saja ke rumah sakit?"
"Mi, malam semakikn larut. Hujan juga tidak kunjung reda. Pakaian kami basah kuyup. Nisa tidak ingin jika Abi dan Arum masuk angin gara-gara tidak segera mengganti pakaian," terang Annisa seraya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang ummi.
"Hmm, baiklah Sayang. Lebih baik, kalian segera berganti pakaian! Ummi akan meminta Hasan untuk membantu abi ... mengganti pakaian pria itu."
"Baik, Ummi." Annisa membalas ucapan umminya diikuti lengkungan bibir.
....
Ilham bergegas mengganti pakaian yang dikenakannya setelah ia merebahkan tubuh Rudi di atas ranjang.
Detik berikutnya, Ilham dibantu oleh Hasan, mengganti pakaian Rudi yang basah dengan pakaian miliknya.
"Assalamu'alaikum, Abi." Annisa mengucap salam sebelum masuk ke dalam kamar yang disediakan khusus untuk para tamu.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Masuklah!"
"Njih, Abi."
"Bolehkah, Nisa memeriksa pria itu sekarang, Bi?" tanya Annisa, ragu.
"Tentu saja boleh, Bu Dokter Annisa." Ilham menjawab pertanyaan sang putri dengan menerbitkan seutas senyum.
Setelah mendapat ijin dari abinya, Annisa mengeluarkan beberapa alat medis untuk memeriksa luka lebam yang memenuhi tubuh Rudi. Lalu ia mengenakan sarung tangan medis sebelum menyentuh tubuh pasiennya itu.
Annisa mulai memeriksa tanda-tanda vital yang meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah. Selanjutnya, ia memeriksa semua luka lebam yang memenuhi tubuh si pasien.
Helaan nafas lega terdengar, ketika Annisa tidak menemukan luka yang teramat serius pada tubuh Rudi.
"Bagaimana keadaannya, Sayang?" tanya yang terlisan dari bibir Ilham setelah putrinya selesai memeriksa Rudi.
"Alhamdulillah, tidak ada luka yang perlu dikhawatirkan, Bi. Namun jika Abi kurang yakin, besok pagi ... Abi bisa membawa pria ini ke rumah sakit."
"Baiklah Sayang."
"...."
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung .....
Mon maaf jika bertebaran typo ππ
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like π
Tekan β€ untuk favoritkan karya
Besok hari Senin, author meminta dukungan Vote ya kakak-kakak ter love. Author berharap, dengan perantara Vote yang diberikan oleh kakak-kakak, level karya Pernikahan Tanpa Cinta akan naik dan tentunya semangat author yang sempat down, bisa bangkit lagi hingga kisah ini end. βΊπ
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta πβ€