Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Cemburu


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Khanza, Rangga, dan Keanu, berbincang di rooftop cafe sembari menikmati pemandangan yang tersuguh. Hamparan sawah menghijau dan kegagahan Gunung Merapi. Tiga cangkir wedang secang dan jamur krispi, menu spesial kafe K & R (Keanu dan Raina) menjadi teman mereka berbincang ....


"Mas Kean, sebenarnya kami berkeinginan untuk mendirikan kafe. Mas Kean bisa membantu kami 'kan? Terutama, membantu mencari tempat yang strategis --" tutur Khanza di sela-sela perbincangan mereka bertiga.


"Insya Allah bisa, Za. Kebetulan Mini Zoo milik Mas Ikhsan dan Kak Alyra sudah selesai dibangun. Kalian bisa mendirikan kafe di dalam Mini Zoo milik mereka --"


"Ada pandangan lain ngga' Mas? Kalau mendirikan kafe di dalam Mini Zoo milik si Mantan Bekantan pasti ngga' asik. Dia 'kan bicaranya suka asal njeplak. Ngga' dipikir dulu," sungut Khanza dengan mengerucutkan bibir. Ia sebal jika membicarakan tentang Ikhsan, si Mantan Bekantan. (Kisah Ikhsan dan Keanu ada di novel 'Mantan Jadi Besan').


Keanu dan Rangga tertawa geli menyaksikan raut wajah Khanza ketika membicarakan ... Ikhsan. Lucu dan menggemaskan.


"Khanza ... Khanza, kamu belum berubah ya. Masih suka sebel sama Mas Ikhsan. Sebenarnya, dia itu sayang banget lho sama adiknya yang comel ini," sahut Keanu sambil mencubit pipi adiknya yang sedikit chubby.


Bibir Khanza mencebik lantas ia mengusap pipinya yang sedikit memerah karena cubitan Keanu. "Isshh, sakit tau'. Dulu suka menjitak, ehhh sekarang sukanya mencubit --"


"Maaf Za. Tangan Mas Kean berasa gatal kalau ngga' njitak atau mencubit mu --," sahut Keanu tanpa memudarkan tawanya.


"Haissshhh alibi. Gatal ya tinggal di garuk aja Mas!"


"Iya-iya, nanti Mas garuk dech kalau gatal. Sekarang, kita kembali ke lepi. Maksud Mas Kean, kita kembali membicarakan tentang kafe yang ingin kalian dirikan."


"Heem. Jadi gimana Mas? Mas Kean ada ide lain nggak? Maksud Khanza, ada pandangan tempat lain ngga'?"


"Ada sich. Tempatnya bersebelahan dengan hotel milik Albirru --"


"Kak Birru memiliki hotel di Jogja?" Dahi Khanza mengernyit. Ia tidak percaya, Albirru ... pria yang pernah menjadi raja di hatinya, memiliki hotel di Jogja.


"Iya, Za. Sudah satu tahun, hotel milik Albirru berdiri."


"Jadi, Kak Birru sering berkunjung ke Jogja?"


"Yups. Setiap dua bulan sekali, Birru berkunjung ke Jogja. Selain karena bisnis barunya di Jogja, putra tiri Birru yang bernama Kevin ... mondok di Pesantren pimpinan pakdhe Ilham."


"Ooo begono --" Khanza manggut-manggut sambil memasukkan jamur krispi ke dalam mulutnya.


"Kak Birru ke Jogja bersama istrinya atau ngga', Mas?"


"Dia ke Jogja sendiri. Istrinya 'kan baru saja melahirkan, Za."

__ADS_1


Tanpa Khanza dan Keanu sadari, obrolan mereka tentang Albirru menyulut api cemburu di hati Rangga. Sebagai seorang suami, ia tidak rela istrinya membicarakan pria lain. Apalagi pria yang pernah menjadi cinta pertama seorang Saqueena Khanza Humaira, istri yang teramat dicintainya.


Tangan Rangga mengepal, netranya memerah karena luapan api amarah.


"Mas Kean, Khanza, Rangga pamit dulu. Sudah waktunya tukang ojek ini mencari orderan," ucap Rangga lantas beranjak dari posisi duduk.


"Ngga, jangan pergi dulu! Kita belum selesai berbincang lho --"


"Aku harus bekerja, Za. Mengenai kafe, di manapun kamu akan mendirikannya ... aku mendukung. Jika kamu mantap mendirikan kafe bersebelahan dengan hotel yang dimiliki oleh Kak Birru, silahkan! Itu hak-mu. Karena modal yang digunakan dari uang tabunganmu. Bukan dari hasil keringatku mencari orderan --" tuturnya dengan mengulas senyum setipis kertas. Setelah mengucapkan kata-kata yang sukses mencubit hati Khanza, Rangga memutar tumit lalu melangkah pergi dengan hati yang serasa ngilu karena cemburu.


Khanza dan Keanu bergeming. Mendengar ucapan dan melihat sikap Rangga, keduanya baru menyadari bahwa pria berambut gondrong itu terbakar api cemburu karena obrolan mereka berdua tentang Albirru.


"Za, susul suamimu! Mas Kean yakin, Rangga cemburu karena kita membicarakan tentang Birru," titah Keanu.


Khanza menghembus nafas kasar lantas beranjak dari sofa.


"Iya Mas. Salah Khanza juga sich, kenapa malah membicarakan Kak Birru."


"Syukurlah kalau kamu sadar. Buruan gih, suamimu itu disusul! Jangan sampai Rangga digoda ciwi lain."


"Isssh, Mas Kean. Sengaja memanas-manasi aku 'kan --"


"Rangga, tunggu! Ngga ...." Khanza berteriak sambil terus berlari.


Tiba-tiba Khanza menghentikan kakinya ketika mendapati sang suami sedang membopong seorang wanita cantik dan berpakaian minim. Wanita itu tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Rangga.


Khanza mengepalkan tangan. Ia teramat marah melihat adegan yang tersuguh di hadapannya.


"Rangga ...." Seketika Rangga menoleh ke arah asal suara. Ia sangat terkejut melihat raut wajah istrinya yang dipenuhi oleh amarah.


"Khanza," lirihnya.


"Segera turunkan wanita itu!" titah Khanza dengan meninggikan intonasi suara.


"Tapi, dia --"


"Kamu memilihku, atau memilih wanita itu?"


"Za, kamu pasti sudah tau 'kan jawabannya. Aku hanya ingin menolong wanita ini. Tidak ada maksud lain --"

__ADS_1


"Ckkk menolong katamu?"


"Za, wanita ini tiba-tiba pingsan di hadapanku. Oleh karena itu, aku akan membawanya ke klinik yang berada tidak jauh dari kafe ini."


"Cihhh, wanita itu cuma akting Ngga. Dia ngga' benar-benar pingsan."


"Masa sich?"


"Kamu terlalu polos atau memang ingin membopongnya, Ngga? Yang namanya orang pingsan, ngga' mungkin melingkarkan tangannya di lehermu sambil tersenyum --"


"Astaghfirullah --" Seketika Rangga menurunkan tubuh wanita berpakaian minim itu.


"Loh Mas, kog diturunin di sini sich?" protesnya dengan suara yang terdengar manjah.


"Heh Mbakyu, memangnya sampeyan ingin diturunin di mana, hah?" Khanza berkacak pinggang dan memasang wajah galak.


"Di hotel atau di apartemen --" jawabnya dengan enteng.


Khanza semakin geram. Tanpa ampun ia menjambak rambut si wanita penggoda dan menyeretnya. Kemudian ia mendorongnya hingga si wanita lucnut masuk ke dalam kolam ....


BYURRR


"Makan tuch ikan!" sarkas nya sambil berlalu pergi.


"Za, tunggu!" Rangga berusaha menahan Khanza. Namun Khanza tak acuh. Ia terus melangkah tanpa memperdulikan Rangga ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika akhir-akhir ini, tulisan si othor kurang dapet feelnya 🤧🤧🤧


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Klik ❤ untuk fav karya


Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya author 😉


Trimakasih dan banyak cinta ❤😘

__ADS_1


__ADS_2