Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Liontin Dan Tasbih Biru


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Kak, jangan membahas perihal itu lagi. Khanza sungguh tidak suka. Lebih baik, kita berbincang mengenai yang lain."


"Mengenai apa Za?"


"Mengenai tempat-tempat yang romantis di Inggris, Kak. Siapa tau, setelah pulang dari Inggris, Khanza hamil."


Kedua wanita itu tergelak lirih. Meski Khanza dan Zahra pernah terlibat cinta segitiga. Namun keduanya tidak pernah saling membenci. Bahkan terlihat sangat akrab seperti sepasang adik kakak ....


Jam di dinding menunjuk pukul delapan malam. Rangga dan Khanza berpamitan setelah puas berbincang dengan tuan rumah, Albirru dan Zahra. Keduanya langsung kembali ke hotel sebab esok pagi Khanza ingin sekali pergi ke Cambridge Mosque Trust. Atau biasa dikenal dengan Masjid Hijau.


Masjid Hijau di kota Cambridge menjadi tempat bersejarah bagi Albirru atau Sean Willson. Sebab di masjid tersebut, seorang Sean Willson, pewaris satu-satunya Willson Corp mengucap kalimah syahadat dengan disaksikan oleh ratusan jamaah. Albirru yang dahulu tidak meyakini adanya Tuhan, kini menjadi seorang hamba yang taat beribadah semenjak hidayah itu hadir.


....


Rembulan berpamitan setelah sinarnya tak lagi terang. Berganti keindahan arunika yang menyapa para makhluk seisi bumi.


Setelah sarapan pagi, Rangga dan Khanza berangkat ke Masjid Hijau. Mereka menyewa mobil agar bisa lebih leluasa berkunjung ke tempat-tempat romantis yang berada di Inggris.


Setibanya di Masjid Hijau, Rangga dan Khanza disambut ramah oleh Abdal Hakim, salah seorang tokoh yang sangat berperan dalam pembangunan masjid tersebut. Mereka duduk santai di bangku taman dan berbincang mengenai awal mula berdirinya Masjid Hijau di kota Cambridge.


"Hijau merupakan warna kesukaan Nabi dan identik dengan Islam yang ramah lingkungan. Warna ini menjadi simbol kehidupan berkelanjutan. Hal ini lah yang menjadi inti dari pembangunan Masjid Hijau. Perpaduan Islam dengan teknologi ramah lingkungan," tutur Abdal Hakim seraya menjelaskan.


"Masya Allah. Kalau boleh tau, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun masjid ini, Mr. Abdal?" tanya yang terlisan dari bibir Khanza, dipenuhi rasa ingin tahu.


"Proyeknya memakan waktu hingga 10 tahun dan mulai dibuka tahun 2019, Mrs. Khanza," jawabnya disertai seutas senyum.


"Masjid Hijau memiliki pusat pembelajaran dan area multifungsi untuk semua orang dengan berbagai latar belakang berkumpul bersama. Jadi, masjid ini adalah tempat untuk semua komunitas, tidak hanya Muslim," sambungnya, menekankan bahwa Masjid Hijau bukan hanya diperuntukkan bagi muslim. Namun masjid tersebut juga bisa digunakan untuk semua insan. Tidak memandang suku, ras, dan agama.

__ADS_1


Rangga dan Khanza teramat kagum mendengar penuturan Abdal Hakim. Di dalam benak mereka terselip keinginan untuk membangun tempat ibadah seperti Masjid Hijau. Sehingga kerukunan umat tetap terjaga tanpa memandang perbedaan.


Di sela-sela perbincangan mereka, terdengar suara panggilan Illahi, menyapa para hamba untuk segera rukuk dan bersujud pada-Nya.


"Sudah adzan. Mari kita sembahyang dulu, Mr. Rangga dan Mrs. Khanza!" ajaknya sembari beranjak dari bangku, diikuti oleh Rangga dan Khanza.


"Mari, Mr. Abdal," sahut Rangga.


Setelah berwudhu, Abdal Hakim memandu Rangga dan Khanza menuju aula utama untuk sholat. Aula tersebut di desain seolah para jamaah berada di bawah pohon yang rindang. Dindingnya bernuansa warna-warna bumi. Dan di pintu masuk aula itu terhampar kebun serta hiasan desain khas geometri Turki.


Di kompleks masjid juga ada restoran, area belajar, aula serbaguna untuk acara besar seperti pernikahan hingga area pameran bagi seniman lokal. Selain itu, ada apartemen dengan empat kamar bagi imam dan direktur lembaga. Sungguh bangunan tempat ibadah yang sangat mengagumkan dan menginspirasi Rangga beserta sang istri.


Usai menjalankan ibadah sholat, Rangga dan Khanza berpamitan. Keduanya berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju London Eye. Namun di serambi masjid, mereka bertemu dengan Albirru.


"Rangga, Khanza, kalian berada di sini juga?"


"Iya Kak. Kami sudah berada di masjid ini sejak tadi pagi." Rangga menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Birru disertai seutas senyum.


Khanza hanya menggeleng-geleng kepala sambil menatap punggung suaminya hingga menghilang dari pandangan.


"Za, sudah makan?" tanya yang terlisan untuk mengusir keheningan.


"Sudah Kak, tadi pagi."


"Berarti belum makan siang donk?"


"Heem."


"Mau aku traktir rendang?"

__ADS_1


"Memangnya ada yang jualan rendang?"


"Ada, di restorannya Zahra."


"Jadi, Kak Zahra punya restoran?"


"Iya. Ngomong-ngomong soal rendang, aku jadi teringat masakanmu Za. Masakan seorang gadis belia yang teramat berani mengajakku nikah lari," ujarnya dengan tersenyum.


"Isshhh, jangan diingat lagi Kak. Aku khilaf saat itu." Wajah Khanza terlukis rona merah. Ia teramat malu jika mengingat masa yang telah lalu. Tepatnya saat ia mengajak Albirru untuk nikah lari.


"Andai aku bersedia, mungkin saat ini tidak begini keadaannya ya?" Albirru menghela nafas dalam, menghalau rasa sesak yang tiba-tiba hadir.


"Sudahlah Kak. Jangan diungkit tentang itu! Lagi pula, jika kita nikah lari, kasihan penghulunya." Khanza membalas ucapan Albirru dengan candaan. Ia tidak ingin larut ke dalam suasana.


"Kak, aku kembalikan liontin pemberian mu. Kak Zahra lebih berhak menerimanya ketimbang aku." Khanza mengeluarkan sebuah liontin dari dalam tas kemudian menyerahkannya pada Albirru.


"Tapi Za --"


"Kak, untuk menghempas setitik rasa yang tertinggal, kita harus membuang jauh-jauh kenangan masa silam. Salah satunya, dengan mengembalikan liontin ini padamu. Dan, Khanza minta ... kembalikan tasbih biru yang pernah Khanza berikan pada Kak Birru!" pinta Khanza tanpa menatap manik mata yang pernah membuatnya jatuh cinta.


"Baiklah Za. Jika itu mau mu, aku kembalikan tasbih biru ini. Jujur, setiap melihat tasbih ini, aku teringat padamu," tutur Birru sembari menyerahkan tasbih berwarna biru pemberian Khanza.


"Khanza berharap, setelah ini ... kita bisa lebih ikhlas menjalani takdir cinta yang telah digoreskan Illahi, Kak. Insya Allah, kita akan merengkuh sakinah, mawadah, warahmah bersama pasangan kita masing-masing ...."


Birru bergeming. Rasa sesak di dalam dada yang semakin menjadi membuat lidahnya serasa kelu untuk berucap ....


Cinta itu sesuatu yang sangat indah. Walau kadang harus berakhir dengan perpisahan. Karena cinta tak selalu harus memiliki.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2