
Happy reading 😘😘😘
Hening ... tiada sahutan dari Khanza yang masih saja tenggelam dalam pikirannya. Ia merasa gamang dan dilema. Antara mengijinkan Rangga atau menahan suaminya itu agar tidak memenuhi undangan Fariz ke Bandung.
"Mi, jika Mommy tidak mengijinkan papi pergi ke Bandung, papi nggak akan pergi kog. Mungkin, memang belum rejeki para driver untuk menerima bantuan sepeda motor listrik," ucap Rangga memecah keheningan. Ia rengkuh tubuh Khanza dan membawanya ke dalam pelukan.
"Pi, entah mengapa ... mommy merasa ada sesuatu dibalik niat baik om Fariz," lirih Khanza mengutarakan apa yang tengah dirasa.
"Wajar Mommy merasa seperti itu karena om Fariz ... ayahnya Nadia. Lebih baik, Mommy berpikiran positif. Lagi pula, papi sudah menjadi milik Mommy seutuhnya. Nggak akan ada yang bisa merebut papi dari Mommy," tutur Rangga meyakinkan Khanza. Ia tatap manik mata kekasih hatinya itu dengan tatapan yang meneduhkan.
Khanza membalas tatapan Rangga dan berucap, "mommy akan berusaha untuk berpikir positif, Pi. Tapi berjanjilah untuk selalu menjaga kepercayaan mommy. Sekali Papi mengkhianati kepercayaan mommy, lebih baik kita pis--"
Seketika Rangga memangkas ucapan Khanza dengan menempelkan jari telunjuk di bibir istrinya itu.
"Ssstttt ... jangan mengucapkan kata itu, Mom. Percayalah, cinta papi hanya untuk Mommy seorang. Tidak ada bahkan tidak akan pernah ada wanita yang mampu menggantikan posisi Mommy."
Rangga mengangkat dagu Khanza dan melabuhkan kecupan singkat.
"Pi --" Khanza memekik saat tangan Rangga mulai nakal. Memainkan squishy yang sukses membuat tubuh dokter cantik nan comel itu seketika meremang.
Sebelum melanjutkan aksinya, Rangga menerbitkan senyum dan membisikkan kata cinta tepat di telinga Khanza. "Aku mencintaimu Saqueena Khanza Humaira. Teramat sangat mencintaimu."
Tubuh Khanza semakin meremang kala merasakan hembusan nafas suaminya. Ia pasrah saat Rangga mulai menjamah seluruh lekuk tubuh.
Perasaan aneh membuat kedua insan itu mengerang lembut. Irama mulai teratur dan mengalun indah ketika raga mereka bersatu.
"Trimakasih, Mom ...," ucap Rangga sembari memeluk erat tubuh istrinya yang bermandikan peluh.
Khanza mengangguk pelan dan menghiasi wajahnya dengan seutas senyum yang menyiratkan makna.
Keduanya saling berpeluk seolah tak ingin terpisahkan.
....
__ADS_1
Keesokan paginya, Rangga berbincang dengan Abimana dan Kirana. Ia meminta saran kepada kedua mertuanya itu, untuk memenuhi undangan Fariz atau menolaknya.
"Menurut bunda, kamu penuhi saja undangan tuan Fariz, Ngga. Namun dengan syarat ... Idam dan om Johan harus selalu berada di sisimu. Bukan karena bunda berpikiran buruk pada tuan Fariz. Tapi, ada baiknya jika kamu tetap berhati-hati. Apalagi tuan Fariz adalah ayah Nadia. Perempuan yang pernah memiliki perasaan terhadapmu," tutur Kirana menanggapi ucapan sang menantu.
"Iya Bund. Saya akan meminta Idam dan om Jo untuk selalu berada di sisi saya. Saya yakin, Nadia sudah tidak memiliki perasaan terhadap saya. Karena menurut informasi, Nadia sudah menikah dan memiliki seorang putri," sahut Rangga meyakinkan.
"Syukurlah jika benar Nadia sudah menikah. Bunda berharap, tuan Fariz benar-benar tulus dan tidak ada ulet bulu dibalik sepeda motor listrik," ucap Kirana diikuti helaan nafas dalam.
"Ulet bulu dibalik sepeda motor? Apa maksud Bunda?" Abimana yang sedari tadi menjadi pendengar setia, kini ikut membuka suara.
"Masa Ayah tidak mengerti maksud bunda sih?"
"Sumpah, ayah benar-benar tidak mengerti Bund?"
Kirana memutar bola mata malas. Ia heran dengan Abimana yang biasanya mampu berpikir cerdas tiba-tiba saja pilon seperti penulis kisah ini.
"Yaa Allah Yah. Bunda heran, kenapa Ayah tidak mengerti maksud bunda. Hmmm, bunda yakin. Ini gara-gara Ayah kebanyakan makan micin, ya 'kan?"
"Bukan kebanyakan makan micin, Bund. Tapi karena ayah meriang. Merindukan kasih sayang. Sudah satu minggu, bunda tidak memberi jatah," ujar Abimana tanpa merasa malu. Seolah ia terlupa bahwa mereka tidak hanya berdua.
"Ayah, Bunda, Mas Rangga --" Suara Khanza mengalihkan atensi ketiganya. Seketika mereka merotasikan kepala ke arah sumber suara.
"Mari kita sarapan dulu! Yang lain sudah menunggu di ruang makan," sambung Khanza seraya mengajak suami dan kedua orang tuanya untuk sarapan bersama.
Abimana, Kirana, dan Rangga menanggapi ajakan Khanza dengan menerbitkan seutas senyum. Mereka beranjak dari posisi duduk lantas mengikuti langkah Khanza menuju ruang makan.
....
Suara denting senduk yang bersentuhan dengan piring mengiringi ritual sarapan pagi. Tidak ada kata yang terucap selama mereka menikmati hidangan yang tersaji di atas meja.
Usai sarapan pagi, Abimana, Keanu, Rangga, Dylan, dan Alif bercengkrama di gazebo. Sedangkan Kirana, Raina, Dara, Khanza, dan Chayra, bekerja sama membersihkan peralatan makan sembari mengobrol tentang dunia pernovelan.
Semenjak menikah dengan Abimana, Kirana mulai mencintai dunia literasi. Bahkan, sudah lima novel yang ia tulis di salah satu aplikasi.
Meski belum memperoleh hasil berupa sejumlah uang, Kirana tetap bersemangat melanjutkan tulisannya. Hingga kelak, mungkin dia akan berhenti ketika sampai di titik lelah.
__ADS_1
Nah kan, othornya malah curuhat 🤦♀️
.....
Bumi berputar begitu cepat. Tanpa terasa hari telah berganti. Tiba saatnya Rangga berangkat ke Bandung. Ia ditemani oleh Idam dan Johan.
Khanza merasa berat melepas kepergian suaminya. Entah mengapa, ia tidak rela jika Rangga pergi ke Bandung memenuhi undangan Fariz. Seonggok daging yang bersemayam di dalam dada tiba-tiba terasa nyeri meski tanpa sebab.
"Pi, sering-sering vidio call ya! Sesampainya di Bandung, langsung memberi kabar. Jangan lirak-lirik wanita lain! Jaga kepercayaan mommy!" titah Khanza memasang wajah sendu.
Bibir Rangga melengkung, hingga terbitlah seutas senyum khas yang menawan. "Mom, papi akan sering menghubungi Mommy. Sesampainya di Bandung, papi akan langsung memberi kabar. Kedua netra ini nggak akan lirak-lirik wanita lain, karena bagi papi tidak ada wanita secantik dan sesempurna Mommy."
Rangga mencium kening istrinya, mencurahkan rasa yang senantiasa memenuhi ruang batin. Rasa cinta seorang Adam terhadap pasangannya.
"Ayah, Bunda, saya titip Khanza dan kedua buah hati kami. Rangga berjanji akan segera kembali," ucap Rangga sembari mencium punggung tangan Kirana. Lantas ia berganti mencium punggung tangan Abimana.
"Ayah dan Bunda akan menjaga Khanza dan kedua buah hati kalian, Ngga. Semoga Allah senantiasa memberi keselamatan dan melindungimu dari segala kejahatan," tutur Kirana. Ia usap rikma sang menantu dengan penuh kasih sayang.
Setelah mengucap salam, Rangga masuk ke dalam mobil. Dadanya berdesir kala pandangan netranya tertuju pada wajah cantik Khanza yang terbingkai air mata. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh sang belahan jiwa dan mendekapnya dengan erat. Namun, itu tidak mungkin untuk saat ini. Sebab ia harus segera berangkat ke Bandung untuk menjemput rejeki para driver yang bekerja di bawah naungan Go Sukses.
Di dalam benak, Rangga melangitkan pinta, semoga pengorbanannya menjadi Lillah ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf jika bertebaran typo
Jangan lupa meninggalkan jejak like 👍
Beri rate 5 ⭐
Klik ❤ untuk favoritkan karya
Beri dukungan author dengan memberi gift atau vote seikhlasnya (geratis kog) 😉
__ADS_1
Trimakasih dan lope lope sekebon 💗