
Happy reading 😘😘😘
"Ayah dan Bunda ingin membicarakan tentang perjodohan. Kami berkeinginan untuk menikahkan kalian berdua. Kalian bersedia 'kan?" tutur Abimana tanpa berbasa-basi.
Dylan dan Dara sangat terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abimana. Lantas, bagaimana tanggapan mereka? Apakah mereka akan menyetujuinya, di saat hati belum ada rasa cinta meski hanya setitik?
Keheningan menyelimuti ruangan. Tak ada kata yang terucap dari bibir Dylan maupun Dara. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga, Kirana yang sedari tadi diam kini ikut bersuara.
"Dylan, Dara, bagaimana? Kalian bersedia 'kan?" Kirana melisankan tanya sembari memindahi pandangan.
Dylan menghela nafas panjang lalu menjawab kalimat tanya yang dilisankan oleh ayah dan bundanya. "Ayah, Bunda, Dylan dan Dara hanya bersahabat. Di hati kami sama sekali tidak ada perasaan cinta. Jadi, bagaimana bisa kami menjalani pernikahan bila tidak didasari oleh rasa cinta? Lagi pula, Ayah dan Bunda tau 'kan, siapa gadis yang Dylan cintai?"
Entah mengapa, ulu hati Dara terasa nyeri kala mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Dylan. Dara sadar, Dylan hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih dan mungkin tidak akan pernah lebih. Bahkan, Dara cukup tahu diri. Siapa dia, dan siapa Dylan. Dia hanya seorang gadis yatim piatu yang sama sekali tidak memiliki harta apalagi tahta. Sedangkan Dylan, dia seorang putra pengusaha dan dokter obgyn yang bergelimangan harta. Dylan juga pewaris perusahaan yang dirintis oleh sang kakek 'Surya Group'.
"Benar apa yang diucapkan oleh Dylan, Om, Tante. Kami hanya bersahabat. Tapi itu dulu, sewaktu kami masih duduk di bangku SMA. Dan sekarang, Dara bukanlah siapa-siapa bagi Dylan. Hubungan persahabatan kami telah lama putus. Lagi pula, Dylan masih mencintai Milea. Insya Allah, sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan bagi Dylan untuk merengkuh cinta Milea."
Ucapan yang terlisan dari bibir Dara, sukses mencubit hati Dylan. Ia kembali teringat akan kesalahan yang telah dilakukannya. Memutus hubungan persahabatan demi gadis yang dicintai.
__ADS_1
Kirana mengulas senyum. Kemudian ia bertutur. "Dulu, Ayah dan Bunda juga sama seperti kalian. Kami sepasang sahabat yang sempat berpisah. Namun Allah Yang Maha Berkehendak, mempertemukan kami kembali di waktu yang tepat. Lalu, kami berniat untuk saling melengkapi dan menyempurnakan dengan menikah. Setelah ikrar suci terucap, benih-benih cinta pun tumbuh di hati. Hingga kini, cinta yang kami rasa tidak pernah terkikis oleh waktu. Bahkan, semakin indah terasa. Kamu pasti ingat 'kan Lan, mbak Khanza dan mas Rangga menikah tidak didasari oleh rasa cinta? Awalnya, mbak Khanza sangat membenci pernikahan mereka. Tetapi sekarang, kamu bisa melihat sendiri 'kan, mbak Khanza sangat mencintai suaminya? Mbak Khanza dan mas Rangga berbahagia atas pernikahan mereka, meski ujian berat sempat menyapa. Lan, asal kita ikhlas menerima takdir cinta yang telah digoreskan Illahi, insya Allah kebahagiaan akan menyentuh."
Dylan dan Dara bergeming. Keduanya berusaha menelaah kata-kata yang dituturkan oleh Kirana.
Kedua paruh baya itu mengerti apa yang tengah Dylan dan Dara pikirkan. Mereka juga memahami, bahwa tidak mudah bagi keduanya untuk mengambil keputusan.
"Dylan, Dara, kami tidak akan memaksa kalian. Lebih baik, kalian berdua menjalankan sholat istikharah terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan," tutur Abimana bijaksana, mengakhiri perbincangan mereka.
....
Rembulan tersipu malu tatkala menyaksikan dua insan yang saling bercumbu. Mereka ... Rangga dan Khanza. Keduanya melepas kerinduan dengan menyatukan raga, mereguk kenikmatan yang hakiki.
"Sayang, aku cabut ya?" tanya Rangga menggoda.
Khanza menggeleng pelan. Ia masih ingin merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Rangga tersenyum. Ia gemas melihat ekspresi wajah istrinya. Seolah, Khanza sangat menikmati penyatuan raga yang mereka lakukan. Rangga pun menuruti sampai akhirnya Khanza sendiri lah yang meminta untuk menyudahi.
"Mas, sudah." Khanza berucap lirih sebelum merasa terlalu lelah. Ia tidak ingin, penyatuan raga yang mereka lakukan menimbulkan resiko bagi janin di dalam rahimnya.
__ADS_1
"Baiklah, Sayang." Rangga mencium kening Khanza setelah mencabut miliknya.
Seusai melepas kerinduan dengan melakukan ritual penyatuan raga yang bernilai ibadah, Rangga dan Khanza merebahkan tubuh di atas ranjang. Kedua insan itu saling berpeluk, seakan mereka enggan terpisah ....
Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, "Siapa mereka itu?", "Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah 'Azzawajalla."
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf, UP nya segini dulu ya Sob. Si kecil minta berlibur 😅🙏
Maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤