
Happy reading 😘😘😘
"Please Yah, jangan buat bunda takut! Ayah, bangun Yah! Bangun! Buka matamu Yah!" Kirana mengguncang-guncang tubuh Abimana. Namun, pria yang teramat dicintainya itu seolah tengah larut di alam mimpi, hingga enggan membuka mata.
Tubuh Kirana seketika lemas seiring air embun yang menetes dari telaga bening.
Mungkinkah, tiba saatnya mereka terpisah oleh maut? Hanya Illahi dan penulis skenario yang tau ....
Kirana menangis tersedu, ia peluk tubuh kekasih hatinya dengan erat, menumpahkan duka yang mendalam.
"Bi, kenapa kamu pergi terlebih dahulu? Kenapa, kamu meninggalkan aku? Seharusnya, kamu membawaku untuk ikut serta. Seharusnya, kita menuju alam keabadian dengan bergandeng tangan," ratap Kirana. Sungguh, ia belum siap jika harus kehilangan sang belahan jiwa, Abimana Surya Saputra.
"Ehem, Bund. Bunda kenapa menangis, hmmm?"
Atensi Kirana teralihkan kala mendengar suara yang membuatnya terkesiap. Seketika ia merenggang pelukan dan menatap wajah tampan sang kekasih hati.
"Bi, kamu masih hidup? Ka-kamu, tidak meninggal 'kan?" Suara Kirana terbata disertai isak tangis yang membuat dadanya kembang kempis.
Abimana tergelak lirih. Ia usap lembut wajah istri comelnya yang basah.
"Tentu saja aku masih hidup Kiran sayang. Tega banget mengira suami handsome-mu ini meninggal."
"Bukan begitu, Bi. A-aku sangat takut saat kamu enggan membuka mata dan sama sekali tidak bersuara. Aku kira, kamu telah pergi meninggalkan aku," cicit Kirana sembari menundukkan wajah.
Abimana mengangkat dagu Kirana. Ia tatap wajah cantik istrinya itu dengan tatapan yang menyiratkan besarnya rasa cinta. "Sayang, tadi usai membaca kalam cinta, tiba-tiba aku merasa ngantuk sekali. Sampai-sampai, aku sama sekali tidak mendengar suaramu."
"Kamu kog bisa gitu sih, Bi? Tidur seperti patung?" Kirana merengut. Namun tatapannya tak lepas dari wajah tampan Abimana.
"Sayang, kamu lupa atau pura-pura lupa? Biasanya tidurku juga seperti itu 'kan jika terlalu mengantuk. Apalagi setelah melakukan olah raga seperti semalam," ujar Abimana diikuti kerlingan mata yang sukses membuat wajah Kirana memerah seperti tomat yang telah masak.
Meski sudah terbiasa berolah raga malam bersama suami tercinta, Kirana tetap saja malu bila teringat aktivitas yang membuatnya melayang.
"Sayang, kog malah diam saja sih?" Abimana kembali melisankan tanya seraya menggoda Kirana. Pria bermata teduh itu berusaha menahan tawa yang hampir saja meledak kala melihat ekspresi istri comelnya yang seperti seorang gadis, malu-malu khoceng. Padahal kenyataannya, usia Kirana hampir menginjak kepala enam.
"Mmm ... Bi, eh ... Ayah, sudah terdengar kumandang adzan subuh? Buruan gih, berangkat ke masjid!" Beruntung adzan subuh berkumandang sehingga Kirana memiliki alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah Bunda comel. Ayah berangkat ke masjid dulu ya. Setelah menjalankan sholat subuh, kita lanjutkan ritual semalam!" bisik Abimana. Seketika tubuh Kirana meremang. Terbayang olehnya ritual yang mampu mengalihkan dunia-nya.
....
Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa lima tahun telah berlalu. Setiap kenangan yang terlewati, tertulis indah di buku harian Istri Comel Pilihan Abi, Ayunda Kirana.
Setelah menanti selama lima tahun, Dhava dan Annisa dianugerahi sepasang bayi kembar, mereka diberi nama Aaqil dan Aaqila. Sedangkan putra pasangan Farhan dan Reni bernama Arfan.
Atas kehendak sang penulis skenario, kini pasangan Keanu dan Raina tengah berbahagia atas kelahiran buah hati mereka yang kedua. Keanu memberinya nama, Bhisma. Kebahagiaan semakin bertambah sebab di hari dan jam yang sama, buah hati pasangan Ikhsan dan Alyra pun terlahir. Bayi perempuan mereka diberi nama Aida.
Langit bertudung gumpalan awan putih, berteman pancaran sinar sang mentari, menaungi sepasang Adam dan Hawa yang tengah bercengkrama sambil menikmati suasana pantai di pagi hari, mereka Abimana dan Kirana. Keduanya memilih duduk di atas tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan sembari menunggu Chayra, Alif, Khanza, Rangga, Azzam, Humaira, Dylan, Dara, Dirgantara, dan Diandra yang tengah asik bermain pasir pantai.
__ADS_1
Suara hembusan sang bayu berpadu dengan kemerduan zikir yang dilantunkan oleh pepohonan dan burung-burung kecil, menyentuhkan rasa haru di dalam kalbu. Baik Abimana maupun Kirana, teramat bersyukur atas kasih sayang Illahi yang telah memberi mereka umur panjang serta anugerah yang tiada terkira.
"Alhamdulillah ya Yah, kita masih diberi umur panjang."
"Iya Bund, Alhamdulillah. Di usia kita yang sudah memasuki enam puluh lima tahun ini, kita masih diberi kesempatan untuk menatap indahnya dunia. Kita masih bisa menyaksikan keceriaan cucu-cucu kita."
"Yah, bunda sungguh teramat bahagia bisa mendampingi Ayah sampai detik ini. Bunda berharap, kelak jika waktunya telah tiba, kita menghadap-Nya tanpa melepas tautan tangan. Bunda ingin pergi ke surga-Nya bersama Ayah. Bunda sungguh tidak sanggup jika Ayah pergi terlebih dahulu," ucap Kirana mengutarakan suara hati. Ia rebahkan kepalanya di bahu suami tercinta, Abimana.
Abimana menerbitkan senyum. Ia hujani pucuk kepala Kirana seraya mencurahkan rasa yang selalu bertahta di relung hati. Rasa cinta yang kian bertambah disetiap harinya.
"Bund, ayah juga teramat bahagia didampingi oleh seorang bidadari yang berparas cantik dan berhati mulia. Ayah turut melangitkan pinta, semoga harapan Bunda mendapat ridho Illahi. Insya Allah, kelak jika waktunya telah tiba, kita akan menghadap-Nya tanpa melepas tautan tangan. Kita rengkuh cinta hakiki yang selama ini kita nanti. Cinta Illahi dan para Rasul yang membawa kita masuk ke dalam pintu surga."
"Aamiin Yaa Robbal Allamiin, semoga alam dan penduduk langit turut meng-aamiini pinta kita Yah."
"Aamiin, iya Bunda --"
Percakapan mereka terhenti kala terdengar suara Chayra dan Alif yang tengah berteriak-teriak sambil berlarian di atas pasir pantai. Alif yang usil, menaburi jilbab Chayra dengan pasir pantai, sehingga membuat gadis itu teramat kesal.
"Bang Alif, kenapa sih selalu usil hah? Jiblabku kotor tau," ujar Chayra sambil terus berlari mengejar Alif.
Alif tergelak. Ia selalu geli setiap mendengar Chayra salah mengucapkan kata 'jilbab'. Bukan jilbab tapi jiblab.
"Pftttt ... hahhaha. Makanya Dek ... kalau ngomong itu yang bener." Alif menghentikan ayunan tungkai dan membiarkan Chayra membalas perlakuannya yang usil.
"Isshhhhh, sudah dibilangin. Chayra nggak bisa mengucapkan kata itu, Bang," sungut Chayra.
"Hmmm." Chayra membalas ucapan Alif hanya dengan dengungan yang mirip suara seekor lebah.
"Jil-bab. Inget, jil-bab. Bukan jiblab!"
"Jil-bab."
"Nah itu bisa Dek. Coba sekali lagi!"
"Jil-bab."
"Coba sekarang ngomongnya lebih cepat! Jilbab."
"Jiblab."
"Pfttttt ... hhahhaha, Yaa Allah Dek. Kamu sangat sangat menggemaskan. Andai Bang Alif sudah dewasa dan sanggup memberimu nafkah, Abang akan langsung melamarmu."
Chayra mencebik. Baginya ucapan Alif hanyalah suatu gurauan, tanpa ia tahu ... sudah sejak lama Alif memendam rasa cinta terhadapnya.
"Ishhhh si Abang, kalau bercanda nggak lucu ih."
Demi Allah, bang Alif tidak sedang bercanda Ra. Sudah sejak lama, bang Alif mencintaimu. Tapi, bang Alif sadar diri. Bang Alif hanyalah seorang anak yatim piatu. Bang Alif hanya anak angkat ayah Abi dan bunda Kiran. Kelak jika bang Alif telah dewasa dan mampu meraih kesuksesan, insya Allah ... abang akan membuktikan bahwa ucapan abang bukanlah candaan.
"Yailah, Abang kog malah bengong sih? Ayo bantuin Chayra mengambil bekal di mobil!"
__ADS_1
Suara Chayra memecahkan kaca lamun. Alif mengangguk dan membalas ucapan gadis yang mampu mengusik pikirannya itu. "Maaf Dek, tadi abang melamunkan wajah cantik Adek," ucap Alif sambil tersenyum nyengir, memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Si Abang suka banget ya membuat aku ke GR-an. Tapi setelah itu membully-ku."
"Pfffttt ... maaf Adek comel. Abang janji dech, nggak akan membully Dedek cangtip lagi," sahut Alif sembari mengacak jilbab Chayra.
Kedua remaja itu lantas mengayun kaki di atas pasir pantai. Mereka berjalan menuju mobil untuk mengambil bekal minuman dan makanan.
Khanza yang tengah asik membangun istana pasir bersama suami dan kedua buah hatinya terganggu dengan perutnya yang tiba-tiba terasa mual dan kepalanya yang terasa pusing.
"Ada apa, Mom?" tanya yang terlisan dari bibir Rangga disertai raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran.
"Entahlah, Pi. Perut mommy tiba-tiba mual dan kepala mommy rasanya cenat-cenut," jawab Khanza sambil memijit pelipisnya.
Bibir Rangga melengkung hingga terbitlah senyuman yang menghiasi wajah tampannya. "Mom, jangan-jangan Mommy hamil. Bukankah, sudah dua minggu ... Mommy terlambat datang bulan?"
"Astaghfirullah, benar Pi. Jika benar mommy hamil, bagaimana Pi? Papi mau 'kan tanggung jawab?"
Rangga tergelak karena pertanyaan Khanza yang sukses menggelitik indra pendengarannya.
"Mommy, Mommy. Pertanyaan Mommy sukses membuat perut papi kram."
"Pi, mommy serius. Papi mau 'kan bertanggung jawab?"
"Ehemm, ya jelas papi akan bertanggung jawab. Papi 'kan suami Mommy."
"Maksud mommy, bertanggung jawab mengurus dua krucil yang sedang aktif-aktifnya. Papi tau sendiri 'kan, Azzam dan Humaira sangat aktif. Di rumah selalu membuat ulah. Sampai-sampai Inah dan Udin terkadang angkat tangan karena ulah mereka yang teramat jahil bin usil."
"Iya, Mommy. Papi berjanji akan bertanggung jawab mengurus mereka. Mulai besok, papi akan bekerja dari rumah, sehingga bisa mengawasi Azzam dan Humaira. Selain itu, papi juga bisa menjaga Mommy dan calon buah hati kita."
Ucapan Rangga yang terdengar sungguh-sungguh membuat hati Khanza berdaun-daun. Ia pun menerbitkan senyum lalu menghadiahi pipi suami handsomenya itu dengan kecupan.
"Cie cieeee, Mommy nyium Papi," ujar Humaira yang sukses membuat Rangga dan Khanza tertawa geli.
"Ishhhhh ishhhh ishhh, tak boleh-lah pacalan di hadapan anak kecil," Azzam menimpali. Rangga dan Khanza saling berpandangan. Keduanya tersenyum dan menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
Kebahagiaan terlihat jelas dari pancaran wajah mereka kala menikmati hari bersama keluarga dan orang-orang terkasih.
Ternyata bahagia itu sederhana ya Sob. Hanya dengan bercengkrama bersama keluarga atau orang-orang terkasih, kita bisa merasakannya. Ada orang yang berkata bahwa ... "bahagia itu sederhana, sesederhana hari-hari yang kita lalui bersama dilingkupi tawa yang terbalut dalam rasa semesta, cinta." Jadi kebahagiaan itu bukan melulu diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, atau tahta yang diamanahkan, tapi kebersamaan ...
Sedangkan kebahagiaan yang dirasa oleh sang penulis kisah karena kehadiran dan dukungan dari kakak-kakak yang telah berkenan mengawal kisah cinta Alya-Raikhan, Abimana-Kirana, Keanu-Raina, dan Rangga-Khanza.
Hanya kata terima kasih yang mampu penulis haturkan dari hati terdalam teruntuk kakak-kakak ter love. Semoga setiap karya yang author Istri Comel tulis, meninggalkan kesan di hati. Salam sayang dan cinta selalu dari saya AyuWidia 😘
🌹🌹🌹🌹
END
Mohon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
__ADS_1