
Happy reading 😘😘😘
Adithya menutup kedua mata istrinya dengan kain berwarna merah maroon. Kemudian ia memandu wanita yang sangat dicintainya itu keluar dari kamar.
Entah kejutan apa yang akan diberikan oleh Adithya teruntuk istri tercinta .... Pria berambut gondrong itu sangat berharap, kejutan yang akan ia berikan mampu mengukir senyum di wajah istrinya, Saqueena Khanza Humaira.
....
"Bukalah kedua mata indahmu, Za!" titah Adithya setelah ia membuka kain yang menutupi kedua netra kekasih hatinya, Saqueena Khanza Humaira.
Perlahan, Khanza membuka kedua netranya. Ia terkesiap ketika melihat pemandangan yang tersuguh di hadapannya. Hamparan bunga amarilis dan sebuah prasasti yang mengukir jasa-jasa sang bunda, Dokter Ayunda Kirana.
Keterkejutan Khanza kian bertambah saat Adithya membawanya ke tanah lapang yang kini disulap bak taman istana. Di taman itu ia melihat Abimana, Kirana, Nabila, keluarga besar, dan para sahabat tengah bercengkrama.
"Dith, ini bukan mimpi 'kan?" Khanza melisankan tanya. Ia tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini.
"Bukan Za. Ini nyata."
"Kenapa, mereka berkumpul di sini?"
"Aku yang telah mengundang mereka, Za."
Dahi Khanza mengernyit saat mendengar jawaban yang terlisan dari bibir suaminya. "Untuk apa mengundang mereka, Dith?"
Adithya mengulas senyum, lantas ia pun menjawab pertanyaan istrinya. "Aku sengaja mengundang mereka untuk berbagi kebahagiaan."
"Berbagi kebahagiaan?"
"Hehem. Aku teramat bahagia Za, karena penantianku selama ini nggak sia-sia. Wanita yang sangat aku cintai, kini menjadi milikku seutuhnya --"
Khanza bergeming. Ia berusaha menelaah kata-kata yang terucap dari bibir Adithya.
"Ayo Za, kita temui mereka!" Adithya meraih tangan Khanza lalu menggenggamnya dengan erat. Keduanya mengayunkan kaki memasuki taman buatan yang dihiasi rangkain bunga mawar putih dan bunga amarilis.
"Selamat datang Khanza sayang ...." Nabila menyambut wanita yang sangat dicintai oleh putranya dengan pelukan hangat.
"Tante Nabila --" Suara Khanza tercekat. Ia teramat bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh Adithya dan sambutan hangat dari ibunda Rangga.
Setelah Nabila melerai pelukannya, Kirana, Abimana, Raina, dan Alyra pun memeluk Khanza secara bergantian. Kemudian mereka duduk di kursi yang telah disediakan sambil menikmati alunan lagu yang dinyanyikan oleh Tri Suaka dan rekan duetnya, Nabila Maharani.
__ADS_1
Bahagiaku bersamamu
Senang bila dekat denganmu
Kamu mahluk yang aku tuju
Yang lainnya ku tidak mau
Genggam erat tanganku sayang
Dan jangan pernah kau lepaskan
Karena aku butuh bimbingan
Cinta ku jangan kau lewatkan
Bahagia aku bila bersamamu
Tenang hatiku dalam pelukanmu
Tetap denganku hingga kau menua
Senang hatiku hidup bersamamu
Belahan jiwa jagalah diriku
Karena denganmu damai lah hatiku
Menualah bersamaku
Usai berakhirnya lagu tersebut, Adithya membawa istrinya naik ke atas panggung.
Ia tatap manik mata wanita yang selalu bertahta di dalam hatinya lantas berkata, "Za, siapkah ... melihat wajahku bila tanpa kumis Pak Raden dan jenggot Syekh Poji?"
Khanza mengangguk samar. "Iya, Dith. Aku siap. Seperti apa pun wajahmu, aku tetap akan menerima kamu apa adanya."
"Meski ternyata, aku adalah orang yang pernah membuatmu muak dengan gombalan recehku?"
"Maksudmu apa Dith?" Khanza menautkan kedua pangkal alisnya. Ia tidak faham dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
Perlahan Adithya membuka topi dan masker yang menutupi wajah rupawannya.
Netra Khanza membola ketika melihat wajah Adithya tanpa kumis dan jenggot lebat.
"Ra-rangga?"
"Iya Za. Aku Rangga. Rangga Adithya Fairuz. Pria berkumis dan berjenggot lebat yang telah menikahimu," tutur Adithya tanpa ragu.
Khanza menggeleng dan menutupi bibirnya dengan telapak tangan. Ia sungguh tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Rangga.
"Ti-tidak. Ini tidak mungkin. Pasti kamu berbohong 'kan?"
"Aku nggak bohong, Za. Aku Rangga --"
"Bukan. Kamu bukan Rangga. Dia ... sudah menikah dengan wanita lain. Seharusnya kamu nggak usah meng-oplas wajahmu supaya mirip dengan Rangga, Dhit. Aku sudah bilang 'kan, seperti apapun wajahmu ... aku akan menerima kamu apa adanya --" Khanza meninggikan intonasi suara. Ia tetap tidak percaya bahwa Adityha adalah Rangga.
"Za, suamimu berkata yang sebenarnya. Adithya adalah Rangga. Pria yang selama ini tidak pernah lelah menanti balasan cinta darimu," sahut Kirana. Ia berusaha membantu sang menantu untuk meyakinkan Khanza bahwa Adithya adalah Rangga.
"Ti-tidak mungkin. Bunda berkata seperti itu karena ingin membantu Adithya 'kan?"
"Za, bukan 'kah Bunda pernah berpesan ... lihatlah Adithya dengan mata hatimu, maka kamu akan mengetahui siapa sebenarnya suamimu itu --"
"Ja-jadi Ayah dan Bunda sudah tau bahwa Adithya adalah Rangga sebelum menikahkan kami?"
Kirana menarik kedua sudut bibirnya dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang putri, ".... Iya Za. Kami sudah tau bahwa Adithya adalah Rangga, sebelum menikahkan kalian."
"Jadi, Ayah dan Bunda bersekongkol dengannya untuk membohongiku?" Bibir Khanza bergetar. Netranya berkaca-kaca ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Apa yang akan terjadi selanjutnya??? 😁
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Klik ❤ untuk fav karya
Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya receh author 😉
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta ❤😘