
Happy reading 😘😘😘
Adithya mengantar istrinya ke Rumah Sakit ICPA dengan menggunakan sepeda motor matic kesayangannya. Jalan yang dilalui sudah halus, tidak seperti 32 tahun yang silam. Tepatnya sebelum desa W tersentuh tangan dingin Ayunda Kirana.
Suasananya pun tidak jauh berbeda dengan perkotaan. Swalayan, warung makan, taman, masjid, gereja, sekolah, hotel, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya sudah tersedia di desa tersebut.
Setelah melalui perjalanan selama hampir setengah jam, sepeda motor yang dikendarai oleh Adithya berhenti di depan pintu masuk Rumah Sakit ICPA.
"Sudah sampai, Nyonya Adithya. Mau turun atau ikut abang ngojek?"
Khanza sedikit mengerutkan dahi kala mendengar kalimat tanya yang terlisan dari bibir suaminya. Bukannya memberi jawaban, ia malah balik bertanya, "loh, kamu tukang ojek, Dit?"
"Iya Za. Aku cuma seorang tukang ojek," jawabnya sambil tersenyum simpul.
"Ohhh. Online atau manual?"
"Dua-duanya. Tergantung customer, Za. Kamu nggak malu 'kan punya suami seorang tukang ojek?"
"Aku nggak malu asal pekerjaanmu itu halal, Dith. Tapi aku masih illfeel dengan kumis dan jenggotmu --" sahut Khanza sembari turun dari sepeda motor.
"Asal kamu bersedia melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang istri dengan menyatukan raga kita, aku janji akan segera mencukur kumis dan jenggotku. Gimana, hum?" tanya yang terlisan disertai kerlingan mata.
"Issshhh, itu lagi yang dibahas. Dasar o-mes. Sana buruan berangkat! Cari cuan yang banyak!" ketus Khanza.
"Aku nggak o-mes. Aku hanya ingin mengikat mu dengan erat, agar kamu nggak menyuruhku pergi Za," tutur Adithya sambil menatap wajah cantik istrinya dengan intens. Adithya benar-benar dirundung ketakutan ... Khanza akan kembali memintanya untuk pergi jika mengetahui kebenaran bahwa ia adalah Rangga. Pria yang tanpa letih mengejar cinta Saqueena Khanza Humaira.
Khanza berdecak kesal. "Ck, pinter banget kamu beralibi. Masih menyangkal ... nggak o-mes."
"Wajar jika aku o-mes, Za. Aku o-mes hanya dengan istriku seorang. Bukan dengan wanita lain. Asal kamu tau, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, Saqueena Khanza Humaira."
Khanza bergeming. Lidahnya serasa kelu untuk menanggapi ucapan Adithya.
"Aku pamit, Za. Assalamu'alaikum --" ucap Adithya sebelum menggeber sepeda motornya.
"Wa'alaikumsalam ...." lirih Khanza. Ia tatap punggung suaminya hingga tak terlihat.
Khanza melangkahkan kaki tanpa semangat. Terngiang kembali ucapan suaminya. "Asal kamu tau, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, Saqueena Khanza Humaira."
Kata-kata yang terucap dari bibir suaminya sama seperti kata-kata yang pernah diucapkan oleh Rangga sebelum pria itu pergi.
Khanza merasakan ngilu di ulu hati setiap teringat Rangga. Ia teramat menyesal telah menolak Rangga, bahkan memintanya untuk pergi.
__ADS_1
"Ngga, di mana kamu berada? Aku hanya ingin meminta maaf --" gumamnya lirih.
"Khanza ...." Terdengar suara lembut memanggil. Seketika Khanza menoleh ke arah asal suara.
Khanza terkesiap saat mengetahui pemilik suara yang telah memanggil namanya ....
"Tante Nabila," pekiknya.
"Iya Khanza sayang."
"Tante ...." Khanza menghambur ke pelukan Nabila, ibunda Rangga.
"Tante, Khanza kangen --"
"Kangen dengan Tante atau putra Tante?"
"Dua-duanya --"
"Tante juga kangen, Za."
"Te, kenapa Tante berada di Rumah Sakit ICPA? Apa mungkin, Tante juga bekerja di sini?" cecarnya sembari melerai pelukan.
"Itu artinya, sudah dua tahun Tante berada di desa W?"
"Benar sekali Za."
"Tante tinggal dengan siapa?".
"Tentu saja dengan Rangga. Tapi --" Nabila menggantung ucapannya.
"Tapi apa, Te?"
"Tapi sebelum Rangga menikah --"
Dada Khanza bagai dihujam belati yang tak kasat mata ketika mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Nabila.
"Ra-rangga sudah menikah, Te?"
"Iya Za. Rangga sudah menikah."
"Kapan Rangga menikah dan dengan siapa, Te?"
__ADS_1
"Belum lama ini, Za. Rangga menikah dengan gadis yang sangat dia cintai."
Dada Khanza semakin sakit mendengar ucapan Nabila. Netra yang bening kini mengembun. Meski ia merasa tidak mencintai Rangga, nyatanya setelah mendengar bahwa pria yang selama ini mengejar-ngejarnya telah menikah ... hati Khanza teramat sakit. Seolah ia tidak rela jika Rangga berpaling pada gadis lain.
"Kamu kenapa, Za? Kenapa matamu mengembun?" Nabila terlihat heran ketika menatap manik mata Khanza mengembun.
"Ahhhh, ini karena Khanza terharu mendengar Rangga sudah menikah Te," kilahnya. Khanza mengulas senyum meski batinnya menangis.
"Bener hanya karena terharu, Za?"
"Iya Te. Hanya terharu --"
"Syukurlah kalau begitu, Za. Mari Tante antar ke ruanganmu!"
"Iya Te. Trimakasih --"
"Sebenarnya, tadi Bundamu sudah menghubungi Tante. Beliau meminta agar Tante tetap tinggal di desa W untuk mendampingimu mengelola rumah sakit ini. Kamu tidak keberatan 'kan, Za?"
"Sama sekali tidak, Te. Khanza malah sangat berterimakasih karena Tante bersedia mendampingi Khanza mengelola rumah sakit yang telah didirikan oleh Ayah dan Bunda, meski Khanza pernah berucap dan bersikap kasar terhadap Rangga," ucap Khanza dengan berkaca-kaca.
"Yang lalu biarlah berlalu. Insya Allah, Rangga sudah menemukan kebahagiaannya. Tante harap, kamu juga bisa meraih kebahagiaan bersama suamimu, Za ...," tutur Nabila sambil membelai lembut pipi Khanza.
Keduanya melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan bergandengan tangan dan berbincang. Yang mereka perbincangkan bukan tentang Rangga lagi. Melainkan, mengenai Rumah Sakit ICPA (Istri Comel Pilihan Abi).
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Cover novel Pernikahan Tanpa Cinta, author ganti dengan yang baru. Karena cover lama ternyata sudah banyak yang menggunakannya. 😅🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Komentar
Klik fav ❤
Beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat untuk author agar tetap berkarya 😇
Trimakasih dan banyak cinta ❤😘
__ADS_1