Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Jahil Bin Usil


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Mmm, Jordan, Milea, kalian keberatan nggak kalau kita makan bersama di warung soto bu Sudar, pasar Beringharjo?" tanya Dylan ragu.


"Nggak kog, Lan. Kebetulan, aku juga lagi ngidam soto," sahut Milea sambil tersenyum.


"Wahhh, jadi ... kamu juga lagi hamil Lea?" Dylan kembali melisankan tanya disertai binar yang terpancar di manik matanya.


Milea mengangguk lantas menjawab pertanyaan Dylan tanpa memudar senyuman. "Iya, alhamdulillah Lan."


"Alhamdulillah. Selamat ya, Lea. Semoga, kamu dan dedek bayi yang ada di dalam perut, selalu diberi kesehatan," doa tulus Dara.


"Aamiin, trimakasih Ra. Doa yang sama untukmu," sahut Milea.


"Dylan, Dara." Lagi. Atensi Dylan dan Dara teralihkan oleh suara lembut yang sangat familiar ....


"Mas Rangga, Mbak Khanza --" ucap Dylan dan Dara kompak. Rupanya, suara lembut yang memanggil nama Dylan dan Dara berasal dari bibir Khanza.


Khanza menyapa adik iparnya dan memberi pelukan singkat. Begitu pun Rangga. Pria berparas rupawan itu menyapa Dylan lalu keduanya saling berpeluk.


Setelah melerai pelukan, Rangga dan Khanza mengalihkan pandangan netranya ke arah sepasang suami istri yang berdiri tidak jauh dari Dylan dan Dara. Mereka ... Jordan dan Milea.


"Jordan, Milea, apa kabar?" sapa Khanza, ramah.


"Alhamdulillah, baik Mbak," jawab Milea, yang juga tak kalah ramah. Lantas kedua wanita itu pun cupka cupki. Sedangkan Rangga dan Jordan, saling berjabat tangan.


"Wahhh, Mbak Khanza nggak nyangka lho, kita bisa berkumpul di tempat ini meski nggak janjian," ujar Khanza.

__ADS_1


"Sama Mbak. Dara juga."


"Oya, si kembar nggak diajak, Mbak?" tanya Dylan menimpali.


"Nggak Lan. Kebetulan ayah dan bunda berkunjung ke rumah. Jadi, kami titipkan si kembar pada mereka. Mbak Khanza nggak tega membawa Azzam dan Humaira ke tempat ramai seperti ini karena usia mereka masih tiga bulan."


"Owhh gitu. Kesempatan dong Mbak --" ujar Dylan seraya menggoda kakak perempuannya itu.


"Kesempatan? Kesempatan apa maksudnya Lan?" Khanza menautkan kedua pangkal alis. Ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan adiknya.


"Kesempatan bernostalgia, Mbak. Dulu 'kan Mbak Khanza dan Mas Rangga satu SMA. Siapa tau, kalian pernah menciptakan kenangan di Malioboro."


Ucapan Dylan sukses menggelitik indra pendengaran Khanza sehingga dokter comel itu pun tergelak lirih.


Karena heran, Dylan pun kembali bertanya. "Mbak, kog malah ketawa sih? Pasti bener 'kan, Mbak Khanza dan Mas Rangga pernah menciptakan kenangan di Malioboro? Atau mungkin di titik nol kilometer?"


Dylan tergelak mendengar cerita yang disampaikan oleh Rangga. Pun yang lain. Tak terkecuali Khanza. Sampai-sampai, sudut netra mereka berair.


"Yaa Allah, Dylan yakin ... pasti itu kelakuan Mbak Khanza. Menyuruh waria untuk menggantikannya. Hadechhh, dasar kakak usil. Sama Dylan pun, usilnya naudzubillah Mas," ujar Dylan sambil menyeka air yang keluar dari kedua sudut netranya.


"Nah, kalau di titik nol. Tiba-tiba Mbak Khanza minta dicium. Tapi dengan syarat, mas Rangga harus memejamkan mata. Bodohnya, mas Rangga mau-mau aja. Bahkan semangat banget. Saking semangatnya, mas Rangga nggak menaruh rasa curiga sedikit pun --" Rangga menjeda sejenak ucapannya. Ia melirik Khanza, sang wanita pujaan yang dulu sering berlaku jahil bin usil padanya.


"Terus-terus?" timpal Dara dan Milea, tidak sabar.


"Ternyata, yang dicium mas Rangga bukan Mbak Khanza, tapi patung Bedjokarto. Patung seorang prajurit yang selalu memamerkan giginya."


"Pffffff ... hhahhahha." Lagi-lagi, Rangga sukses membuat Dylan, Khanza, Dara, Milea, dan Jordan tertawa.


"Seolah nggak puas menjahili mas Rangga. Rupanya, Mbak Khanza mengabadikan moment yang tak terlupakan itu dan memajangnya di mading sekolah. Yahhhh, meski merasa dipermalukan, cinta mas Rangga padanya nggak terkikis sedikit pun. Malah, mas Rangga semakin tertantang untuk mendapatkan hati Mbak Khanza." Rangga tersenyum. Ia rengkuh bahu Khanza dan memeluknya erat. Tanpa merasa malu, Rangga menghujani pipi dan kening wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta itu dengan kecupan mesra.

__ADS_1


"Udah Mas. Malu dilihatin banyak orang," pinta Khanza sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan karena merasa teramat malu.


"Kenapa mesti malu? Kan mengecup wajah istri sendiri, bukan wajah patung Bedjokarto," sahut Rangga dengan santainya.


"Mmm, jadi nggak ya makan siangnya? Dara sudah sangat lapar," ujar Dara menginterupsi sambil mengusap perutnya yang buncit.


"Astaghfirullah. Gara-gara Mas Rangga dan Mbak Khanza, jadi terlupa makan siang." Dylan menepuk pelan jidatnya. Ia benar-benar terlupa karena terlalu asik mendengar cerita Rangga yang menggelikan.


Setelah menawari Rangga dan Khanza agar ikut serta makan siang bersama, Dylan memandu mereka berjalan menuju warung soto bu Sudar yang terletak di pasar Beringharjo lantai dasar.


Usai makan bersama, mereka berniat untuk menemui Abimana dan Kirana yang saat ini masih berada di rumah Rangga ....


.


.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2