
Happy reading 😘😘😘
Salimah tetap dalam posisi yang sama. Ia bersimpuh dan memohon agar Reni bersedia mengabulkan permintaan suaminya.
"Nyai, jangan bersimpuh di kaki saya. Sungguh tidak pantas jika seorang wanita terhormat rela merendahkan harga dirinya," tutur Reni sungkan.
"Saya rela merendahkan harga diri, asal kamu bersedia mengabulkan permintaan suami saya, Ren. Saya mohon, menikahlah dengan Farhan. Saya mohon dengan sangat Ren," pinta Salimah mengiba dan memasang raut wajah sendu.
"Maaf Nyai, saya tetap tidak bisa. Membayangkannya saja saya sungguh tidak sanggup. Apalagi jika saya benar-benar menikah dengan tuan Farhan."
"Re-ren. Sa-saya mohon --" Suara Abdullah terdengar berat diikuti gerakan dadanya yang kembas kempis. Seolah pria paruh baya itu tengah kesulitan bernapas.
Melihat keadaan Abdullah yang sangat memprihatinkan, hati Reni pun terketuk. Jiwa kemanusiaannya terus mendobrak dinding hati yang beku.
Reni sekejap mengatupkan kelopak netranya lantas kembali membuka suara. "Baiklah. Saya bersedia menikah dengan tuan Farhan. Namun dengan syarat. Saya diijinkan untuk tinggal di pondok pesantren Al Hidayah bersama ayah, bunda, dan Alif. Kelak jika tuan Farhan keluar dari penjara, saya tetap akan tinggal di pondok itu. Dan satu lagi, saya tidak mengijinkan tuan Farhan meminta hak sebagai seorang suami. Karena saya masih sangat trauma. Saya belum bisa melupakan perbuatannya."
"Alhamdulillah, trima-kasih Reni. Sa-ya bisa bernafas lega. Sa-ya mohon, menikahlah sekarang. Sa-saya ingin menyaksikan kalian menikah," lirih Abdullah.
Salimah beranjak dari posisinya bersimpuh atas permintaan Reni. Ia lantas menghubungi Ilham dan Zakaria untuk meminta bantuan agar kedua sahabat suaminya itu membantu prosesi ijab kabul yang akan dilaksanakan saat ini juga. Sedangkan Kirana, ia segera menghubungi Abimana. Kirana meminta suaminya untuk segera datang ke rumah sakit serta menjadi saksi pernikahan Farhan dan Reni, putri angkat mereka.
Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, Reni berlapang dada menerima takdir yang telah digoreskan oleh sang penulis skenario kehidupan. Menikah dengan pria yang sangat dibencinya, Farhan Algifari.
Reni berharap, keputusannya itu bukanlah suatu keputusan yang salah meski mengorbankan seonggok daging yang bersemayam di dalam dada.
Dengan didampingi oleh petugas kepolisian, Farhan datang ke rumah sakit untuk mengucapkan ikrar suci.
__ADS_1
Di hadapan sang abah yang terbaring lemah, Farhan mengucap kalimah kabul dengan suaranya yang terdengar bergetar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Renita Sari binti almarhum Hadi Susena dengan maskawin yang tersebut, tunai.”
"Bagaimana para saksi? SAH?" tanya yang terlisan dari bibir Zakaria selaku penghulu.
"SAH," ucap Abimana dan Ilham bersamaan.
"Alhamdulillah."
Zakaria menengadahkan kedua telapak tangan seraya melangitkan pinta untuk Farhan dan Reni, agar pernikahan mereka sakinah, mawadah, warahmah.
"Reni, maafkan saya! Maaf karena telah membuat masa depanmu hancur. Saya mohon, berikan saya kesempatan untuk berbenah. Saya berjanji akan berusaha menjadi seorang imam yang terbaik untukmu dan anak-anak kita kelak, meski saya hanyalah seorang pria pendosa. Ren, selama di dalam penjara, saya akan kembali mempelajari ilmu agama sebagai bekal untuk hidup berdampingan denganmu. Saya akan berusaha memantaskan diri agar kamu dan anak-anak kita tidak akan kecewa," ucap Farhan tulus.
Reni bergeming. Sesungguhnya, ia belum ikhlas menerima Farhan sebagai suaminya. Namun jika Illahi sudah berkendak. Maka ia pun hanya bisa pasrah dan berusaha menerima dengan lapang dada.
"Ren, tunggu aa' kembali!" Farhan mengulum senyum dan kembali melabuhkan kecupan.
Reni masih saja bergeming. Ia berusaha menyelami perasaannya saat ini.
Meski di hati terselip rasa benci. Namun ia merasakan gelenyar aneh saat Farhan melabuhkan bibir. Bahkan, Reni merasa nyaman ketika pria yang telah berstatus sebagai suaminya itu membawanya ke dalam pelukan.
"Farhan, Reni, abah mohon, jagalah cucu Abah dan Ummi! Abah merasa sangat lega dan berbahagia karena kalian telah menjadi pasangan suami istri. Abah berharap, pernikahan kalian akan senantiasa sakinah, mawadah, warahmah," tutur Abdullah disertai seutas senyum yang menyiratkan makna.
"Kyai, saya sudah mengabulkan permintaan Kyai. Saya mohon, Kyai segera sembuh dan sehat seperti sedia kala," pinta Reni sembari mencium punggung tangan Abdullah dengan takzim.
Abdullah mengangguk pelan. "Insya Allah, jika Allah berkendak, saya akan segera sembuh dan sehat kembali. Ren, jangan panggil saya 'kyai'. Mulai detik ini, panggil saya 'abah'." Abdullah yang semula tampak lemah, kini terlihat lebih bugar. Mungkin sugesti dari rasa bahagia atau ... hmm, entahlah. Yang terpenting, kelak Reni akan meraih kebahagiaan. Meski ia harus menikah dengan seorang mantan pendosa yang telah merusak masa depannya.
__ADS_1
"Iya Abah," lirihnya. Reni berganti mencium punggung tangan Salimah dengan takzim.
"Trimakasih, Sayang," ucap Salimah sembari mendaratkan kecupan di kening sang menantu.
Reni tak kuasa menahan titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata. Ia tumpahkan segala beban di jiwa melalui tangisan yang menyayat hati.
Farhan sangat mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Reni. Lantas ia pun kembali merengkuh tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.
Atmosfer keharuan menyelimuti seisi ruangan hingga memaksa berpasang-pasang mata menumpahkan air dari telaga bening.
Di dalam benak, Kirana melangitkan pinta, semoga pernikahan Reni dan Farhan merupakan gerbang menuju kebahagiaan hakiki untuk kedua insan ....
"Pernikahan yang hebat bukanlah ketika 'pasangan sempurna' bersatu. Saat itulah pasangan yang tidak sempurna belajar untuk menikmati perbedaan mereka.” – Dave Meurer.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Alhamdulillah bisa double UP 😇
Insya Allah kita akan bertemu Rangga dan Khanza di episode selanjutnya 😘
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍👍👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya author
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author remahan kulit kacang ini tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘💓💓💓