Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Alhamdulillah SAH


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Seorang pria muda duduk meringkuk di pojok ruangan. Bibirnya bergetar, tubuhnya berguncang hebat. Bayangan masa kecil hadir kembali saat ia mendapat perlakuan kasar dari teman sesama napi.


Selama hampir empat minggu mendekam di dalam penjara, Farhan mendapat perlakuan kasar dari Barong dan ketiga anak buahnya. Sehingga semakin berpengaruh pada penyakit mental yang diderita oleh pria muda itu.


Sungguh sangat menyedihkan keadaan Farhan saat ini. Meski perbuatannya teramat keji. Namun dia juga berhak mendapat kesempatan untuk berbenah.


Seperti yang telah disarankan oleh Ilham, Abdullah beserta istrinya berkunjung ke penjara untuk menjenguk Farhan. Hati kedua paruh baya itu bagai teriris sembilu kala melihat keadaan sang putra jauh dari kata baik-baik saja.


"Farhan putraku." Abdullah memeluk Farhan dengan erat. Ia tak kuasa menahan rasa yang semakin menyesakkan dada. Rasa sesal seorang ayah karena baru menyadari keadaan sang putra yang sebenarnya.


"A-abah --" Suara farhan tercekat. Tangannya yang semula menjuntai ia angkat untuk membalas pelukan Abdullah.


Rasa hangat yang telah lama ia rindu merasuk ke dalam jiwa hingga memaksa buliran air bening menetes dari kedua sudut netra.


Salimah dan salah seorang petugas lapas turut meneteskan air mata kala menyaksikan dua pria berbeda generasi itu saling berpeluk.


"Farhan, maafkan abah!" pinta Abdullah dengan suaranya yang terdengar lirih. Titik-titik air yang sedari tadi bertengger di kelopak mata, jatuh membasahi wajah sendunya.


"Seharusnya, Farhan yang meminta maaf Bah. Farhan telah mencoreng nama baik Abah dan Ummi. Farhan telah mengkhianati kepercayaan kalian. Farhan seorang pendosa yang tidak patut untuk dikasihani dan dimaafkan --"


Abdullah merenggang pelukan. Lantas ia mengulurkan tangan untuk menyeka jejak air mata yang membasahi wajah putranya.


Farhan pun membalas perlakuan sang abah. Ia menyeka jejak air mata yang membasahi wajah Abdullah dengan jemari tangan.


"Farhan, semua manusia yang hidup di dunia ini adalah seorang pendosa. Tak terkecuali abah. Semua pendosa berhak mendapatkan belas kasih dan ampunan Nak," tutur Abdullah bijak.


"Tapi Bah, dosa yang Farhan perbuat sungguh sangat besar."


"Coba beritahu abah, apa saja dosa yang telah putra abah perbuat!" pinta Abdullah dengan menatap manik mata Farhan dan menggenggam erat tangan putranya itu.


Dengan terbata, Farhan mengungkap semua dosa besar yang telah diperbuatnya selama ini, mulai ketika ia kuliah di LN.

__ADS_1


Abdullah dan Salimah tercengang mendengar pengakuan Farhan, putra yang selama ini mereka banggakan.


Rasa marah, sedih, kecewa, dan sesal membaur hingga menciptakan sensasi rasa nyeri yang luar biasa di ulu hati.


Di dalam benak, kedua paruh baya itu melafazkan istighfar. Mereka tak henti-hentinya memohon ampun kepada Illahi atas dosa besar yang telah diperbuat oleh Farhan.


Dengan berat hati, Abdullah dan Salimah meninggalkan putra mereka karena waktu berkunjung telah selesai.


"Le, jaga kesehatanmu. Makan yang banyak! Ummi bawakan kue kesukaanmu --" Salimah tak mampu meneruskan kata-katanya saat Farhan membawanya ke dalam pelukan.


"Ummi, maafkan Farhan!"


"Ummi sudah memaafkan Farhan. Ummi yakin, setelah keluar dari penjara, putra kesayangan Abah dan Ummi akan berkepribadian lebih baik." Salimah mengusap punggung putranya seraya memberi rasa tenang.


"Kami pamit dulu ya Le," ucap Salimah setelah Farhan melerai pelukan.


"Iya Ummi. Trimakasih, karena Abah dan Ummi bersedia menjenguk Farhan. Trimakasih karena Abah dan Ummi berkenan memaafkan Farhan --'


Abdullah dan Salimah menerbitkan senyum. Mereka memberi pelukan singkat sebelum benar-benar pergi meninggalkan sang putra.


.....


Wajah Dhava nampak gugup. Sesekali ia menghela nafas dalam sebelum benar-benar siap mengucap kalimah qabul dengan bahasa Arab.


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq," ucap Dhava mantap dengan satu tarikan nafas.


Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.


"Bagaimana para saksi, SAH?" ucap bapak penghulu setelah Dhava selesai mengucap kalimah qabul.


"SAH."


"Alhamdulillah ...."


Bapak penghulu menengadahkan kedua telapak tangan seraya melangitkan pinta teruntuk Dhava dan Annisa agar pernikahan mereka sakinah, mawadah, warahmah serta diberi keturunan yang saleh dan saleha.

__ADS_1


Usai melangitkan pinta, bapak penghulu meminta mempelai wanita untuk duduk bersebelahan dengan mempelai pria. Kemudian, beliau mempersilahkan kedua mempelai untuk menandatangani buku nikah.


Setelah menandatangani buku nikah, Dhava menyematkan cincin pernikahan di jari manis Annisa. Begitu pun Annisa. Ia menyematkan cincin di jari manis pria yang kini telah resmi menjadi suaminya, Dhava Alfathan.


Dhava memegang ubun-ubun sang istri kemudian membaca doa, “Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”


Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


Nyessss .... Doa yang dilantunkan oleh Dhava bagaikan setetes embun pagi yang merasuk hingga ke relung rasa.


Seusai membaca doa, Dhava menatap manik mata Annisa dan menghadiahi kecupan pertama di kening wanita yang telah berstatus sebagai istrinya itu.


Annisa sekejap memejamkan mata. Merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh karena sentuhan pertama yang diberikan oleh Dhava.


Dengan tangan gemetar, Annisa meraih tangan Dhava lalu mencium punggung tangan suaminya itu.


Perlahan, Annisa menengadahkan wajah. Ia tatap wajah Dhava dengan intens. Betapa tampan dan tanpa cela wajah pria yang ada di hadapannya itu. Bahkan ketampanannya melebihi wajah almarhum Rudi, pria yang pernah bertahta di hati.


Dhava membalas tatapan Annisa dengan tatapan penuh cinta. Ia usap pipi istrinya dengan penuh kelembutan. Di dalam kalbu, ia melangitkan rasa syukur kepada Illahi karena telah mengirimkan seorang wanita berparas cantik nan saleha sebagai pendamping hidupnya.


"Sayang, dengan mengucap kata 'Bismillah' kita memulai hubungan ini. Insya Allah sakinah bersamamu. Saya berjanji akan berusaha menjadi imam yang terbaik untukmu," tutur Dhava dengan menerbitkan senyum.


"Aamiin, trimakasih Mas. Nisa juga akan berusaha menjadi makmum yang terbaik untuk Mas Dhava," sahut Annisa disertai seutas senyum yang menambah kecantikan wajahnya.


Menit berikutnya, Dhava dan Annisa bergantian mencium punggung tangan Ilham, Suci, Raikhan, dan Alya, seraya meminta restu agar pernikahan mereka langgeng, sakinah, mawadah, warahmah ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2