Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Tidur Seranjang


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Usai membasahi rikma dan mengguyur tubuhnya dengan air yang memancar dari shower, Khanza mengambil air wudhu. Batinnya mengucap istighfar sebab hampir saja ia terlupa untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur.


Setelah berwudhu, Khanza keluar dari dalam kamar mandi. Kemudian ia membentangkan sajadah sebelum mengenakan mukena.


"Za, tunggu Mas ya! Mas berwudhu dulu," pinta Adithya.


Meski tidak membalas ucapan Adithya, Khanza tetap menunggu sembari berdzikir.


Adithya keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar karena air wudhu. Ia mengenakan baju koko dan sarung lalu membentangkan sajadah sebelum memulai ritual ibadah sholat dzuhur berjamaah dengan sang istri untuk pertama kalinya.


"Allahu Akbar." Adithya melafazkan takbiratul ihram diikuti oleh makmumnya, Saqueena Khanza Humaira.


Seusai menjalankan ibadah sholat dzuhur, Adithya dan Khanza menengadahkan kedua telapak tangan seraya melangitkan pinta pada Robb-nya.


"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa," doa yang terlantun dari bibir Adithya kemudian di-aamiini oleh Khanza di dalam hati.


Adithya memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Khanza. Ia tatap wajah cantik istrinya dengan tatapan yang menyiratkan rasa cinta.


"Za, salim dulu!" titah Adithya sambil mengulurkan tangan dan memperlihatkan senyuman yang menawan. Sayang, senyum menawan khas seorang Adithya terhalang oleh kumis dan jenggot yang lebat. Sehingga, Khanza tidak menyadari pesona suaminya yang tersembunyi. Bahkan ia tak mengacuhkan suaminya.


"Za, salim!" titah Adithya sekali lagi.


"Ogah," tolaknya dengan ketus.


Khanza melepas mukena yang membalut tubuhnya. Ia beranjak dari atas sajadah kemudian berlalu dari hadapan suaminya.


"Za, aku akan selalu bersabar menanti balasan cintamu," lirih Adithya. Ia menghela nafas dalam lalu menghembuskan dengan perlahan untuk mengusir rasa yang mengusik kalbu.


....


"Za, di mana suamimu? Pengantin baru kog malah duduk santai di taman seorang diri?" cecar Kirana. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi taman, berdampingan dengan putri tercinta.


"Dia di kamar, Bund ...." Khanza menjawab pertanyaan sang Bunda tanpa mengalihkan pandangan netranya dari bunga-bunga yang sedang bermekaran.


"Za, Bunda sangat memahami perasaanmu saat ini. Maafkan Ayah dan Bunda. Kami menikahkanmu dengan Adithya bukan hanya karena nazar. Tetapi, kami melihat pribadi Adithya yang mendekati kata sempurna --"


"Bagaimana Ayah dan Bunda bisa menilai pribadi Adithya? Padahal, kita baru mengenalnya selama satu minggu ini ...." Khanza mengalihkan pandangan netranya. Ia tatap lekat-lekat manik mata wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.

__ADS_1


Kirana menghela nafas lalu ia membalas tatapan Khanza sambil berucap, "Za, terkadang untuk mengenal pribadi seseorang tidak membutuhkan waktu lama. Bukankah orang-orang yang telah kita kenal lama pribadinya tidak selalu baik?" Kirana menjeda sejenak ucapannya.


"Bukalah mata hatimu, Za! Insya Allah, putri Bunda akan mengetahui siapa sebenarnya Adithya. Menurut Ayah dan Bunda, pribadi Adithya lebih baik dari Albirru. Jadi, belajarlah untuk mencintai Adithya, Dokter Saqueena Khanza Humaira!" sambungnya sambil beranjak dari kursi lantas berlalu pergi dari hadapan sang putri.


Khanza berusaha menelaah semua ucapan bundanya. Ia sangat heran, mengapa ayah dan bundanya bisa teramat yakin mempercayakan dirinya pada Adithya. Bahkan keduanya seolah sudah sangat mengenal pribadi seorang Adithya.


....


Sang dewi malam enggan hadir meski petang telah merangkak pergi. Bahkan, seutas senyum kartika yang terbiasa menyinari seisi bumi pun tak terlihat. Tergantikan kemuraman langit berkawan rintik hujan dan hembusan angin yang bertiup kencang.


Hawa dingin sama sekali tidak menjadi pendukung malam pertama bagi sepasang pengantin baru, Adithya dan Khanza. Mereka tidur terpisah. Khanza tidur di atas ranjang pengantin yang empuk, sedangkan Adithya ... ia tidur di sofa dengan posisi meringkuk.


Malam semakin larut. Namun netra Khanza masih enggan terpejam. Sesekali Khanza menatap suaminya yang tengah terlelap. Timbul rasa iba di dalam hatinya.


Khanza beranjak dari ranjang. Ia berniat membangunkan Adithya dan memintanya untuk bertukar tempat tidur.


"Dit, bangun!" Khanza menoel lengan Adithya.


"Adithya, bangun!" Lagi-lagi Khanza menoel lengan suaminya sebab yang dibangunkan sama sekali tidak merespon.


"Dittttt, bangun!" Khanza mengeraskan suaranya. Namun suara cempreng Khanza seolah bagai hembusan angin surga sehingga Adithya malah semakin terlelap.


"Kobongan, kobongan ...." Khanza berteriak tepat di telinga suaminya. Karena sangat terkejut, Adithya langsung membuka mata lantas beranjak dari sofa.


Khanza tergelak melihat ekspresi Adithya, sampai-sampai perutnya terasa kram.


"Sayang ... di mana kebakarannya? Kamu nggak kenapa-napa 'kan?" tanya Adithya. Raut wajahnya melukiskan kekhawatiran. Ia masih belum menyadari kobongan atau kebakaran yang di teriakan oleh Khanza hanyalah akal-akalan untuk membangunkannya.


"Pfftttt ... kobongan nya di kebon. Please dech, jangan memanggilku sayang! Risih tau!"


Adithya menghela nafas dalam. Pria berambut gondrong itu berusaha menghalau rasa kesal karena kelakuan istri comelnya. Kemudian ia mengayunkan kaki menuju sofa dan berniat untuk melanjutkan tidurnya.


Mengetahui sang suami ingin kembali melanjutkan tidur di sofa, Khanza pun langsung mencegahnya dengan merentangkan kedua tangan.


"Eitss, mau ke mana Dit?"


"Mau tidur lagi, ZA."


"Jangan tidur di sofa! Pindah ke ranjang, biar tidurmu lebih nyaman!" titah Khanza.

__ADS_1


Adithya menarik kedua sudut bibirnya disertai netra yang berbinar. Ia mengira ... Khanza menginginkan tidur seranjang dengannya.


"Jadi, kita tidur seranjang?"


Khanza menggelengkan kepala. "Nggak. Kita nggak akan tidur seranjang. Kita bertukar tempat tidur. Kamu tidur di ranjang, aku tidur di sofa," jawabnya dengan tegas.


Raut wajah Adithya seketika berubah kala mendengar jawaban istrinya. Ternyata ia salah menduga. Khanza sama sekali tidak berkeinginan untuk tidur seranjang dengannya.


"Aku tidak mungkin membiarkanmu tidur di sofa, Za."


"Kenapa? Tubuhku lebih kecil, jadi nggak akan meringkuk jika tidur di sofa."


"Za, sebagai seorang suami ... aku nggak bisa membiarkanmu tidur di sofa. Aku takut berlaku dzolim terhadap istriku. Lebih baik, aku yang tidur di sofa atau di lantai --"


Khanza terenyuh kala mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir suaminya. Benar kata sang bunda, Adithya seorang imam yang mendekati kata sempurna meski wajahnya tidak tampan.


Pada akhirnya, Khanza meminta Adithya untuk tidur seranjang dengannya. Namun ia memberikan syarat. "Yasudah, kita tidur seranjang Dit. Tapi dengan satu syarat --"


"Syarat?" Adithya melisankan kalimat tanya diikuti kerutan di dahinya.


"Hehem. Syaratnya, kamu nggak boleh menyentuhku sedikit pun meski kita tidur seranjang. Kita taruh dua guling dan boneka minionku di tengah-tengah sebagai sekat. Bagaimana? Kamu setuju 'kan?"


Tanpa berpikir panjang Adithya menyetujui persyaratan yang diajukan oleh istrinya.


"Okey. Aku setuju. Kita tidur seranjang."


Sesuai kesepakatan, sepasang pengantin baru itu tidur seranjang dengan dua buah guling serta boneka minion kesayangan Khanza sebagai penyekat.



Bonus foto ranjang pengantin Adithya dan Khanza. Sumber: google 😁


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Untuk visual Rangga dan Khanza, terus terang author belum punya gambaran artis yang sesuai dengan karakter mereka. Jadi, bagi pembaca yang mempunyai usulan, silahkan komentar di bawah 😉


Trimakasih dan banyak cinta ❤😘

__ADS_1


__ADS_2