
Happy reading 😘😘😘
Suara deburan ombak berpadu dengan hembusan sang bayu mengiringi langkah sepasang anak muda yang tengah menjejakkan kaki di atas hamparan pasir pantai. Mereka Alif dan Chayra. Keduanya menikmati kebersamaan sebelum esok pagi berpisah.
Karena kecerdasannya, Alif berhasil mendapat beasiswa--kuliah di Kairo, tepatnya di Universitas Al-Azhar. Oleh karena itu, esok pagi ia akan terbang ke Mesir. Negara yang terkenal dengan bangunan Piramida-nya.
Meski serasa berat berpisah dengan Chayra, Alif harus menguatkan hati. Sebab hanya dengan cara inilah, ia yakin ... impian untuk menjadi seorang pria yang sukses, mapan, dan pantas bersanding dengan Chayra akan terwujud.
Di dalam benak, Alif melangitkan pinta ... semoga ia dan Chayra kelak berjodoh, meski Alif sangat tau bahwa gadis yang dicintainya itu telah jatuh hati pada pemuda lain.
Bukankah sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan untuk menikung? Ya, Alif ingin menikung dengan cara merayu pada Sang Maha Cinta.
Sungguh, Alif tidak rela jika kelak Chayra dipersunting oleh pria lain. Namun jika goresan takdir cinta memang tidak berpihak padanya, suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas, ia harus bersiap merelakan gadis pujaan hatinya itu berbahagia dengan jodoh yang terbaik pilihan Illahi.
"Bang, jika Abang sudah berada di Kairo ... sering-seringlah berkirim kabar! Jaga kesehatan Abang. Jangan telat makan, karena di sana nggak ada dokter spesialis yang bisa menyembuhkan penyakit asam lambung Abang!" ujar Chayra tanpa menatap lawan bicara. Ia gulirkan pandangannya ke laut lepas sebab tidak ingin ... Alif melihat titik-titik embun yang sudah bergelayut manja di kelopak matanya. Jika boleh jujur, Chayra pun sama dengan Alif. Ia merasa berat melepas kepergian Alif ke Kairo. Ia terbiasa menjalani hari-hari bersama Alif, seorang pemuda berparas tampan dan berakhlak mulia yang sudah dianggapnya sebagai sahabat sekaligus abang.
Alif menghentikan langkah dan menggamit lengan Chayra. Seketika, Chayra pun turut menghentikan langkah. Ia menundukkan wajah saat alif menatap manik matanya dengan intens.
__ADS_1
"Ra, abang berjanji akan sering berkirim kabar. Abang juga berjanji akan menjaga kesehatan dan berusaha untuk tidak telat makan karena dokter yang selalu menyembuhkan penyakit asam lambung abang ... tidak ikut serta ke Kairo. Dan ... dokter itu, kamu Ra."
Alif menghela nafas panjang dan mengusap jilbab Chayra dengan sayang. Lantas ia kembali melanjutkan ucapannya yang sejenak terjeda. "Ra, jaga diri baik-baik ya Dek! Jika kamu kuliah di UGM, jangan satu fakultas dengan Sinta. Abang tidak ingin, ia kembali membuat ulah hanya karena cintanya ditolak oleh Damar. Sinta beranggapan, Damar menolaknya karena kamu --"
Chayra menerbitkan seutas senyum. Ia beranikan diri untuk menatap wajah Alif meski titik-titik embun masih setia bergelayut manja di kelopak mata.
Membicarakan tentang Damar, degup jantung Chayra berdenyut merdu. Ia tidak memungkiri, bahwa pesona seorang Damar mampu membuatnya jatuh hati. Lantas bagaimana dengan Damar? Sudah sejak lama pemuda itu mendekati Chayra dan mengungkapkan perasaan cintanya. Damar berjanji, setelah lulus kuliah ... ia akan segera mengkhitbah Chayra dan menjadikannya sebagai calon istri. Sinta murka saat mengetahui bahwa Damar dan Chayra saling mencintai. Sejak saat itulah, Sinta selalu berulah. Ia ingin mendapatkan hati Damar dengan berbagai macam cara, termasuk mengancam Chayra agar menjauh dari pemuda berparas rupawan itu.
"Chayra nggak akan satu fakultas dengan Sinta, Bang. Lagi pula, Damar menolak Sinta bukan karena Chayra. Tapi karena Damar ingin melanjutkan study hingga meraih gelar sarjana sebelum dia benar-benar serius menjalin hubungan dengan seorang gadis." Chayra berkilah agar Alif tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Syukurlah jika benar demikian, abang bisa pergi dengan perasaan lega, Dek."
Pandangan netra keduanya tertuju pada langit yang terlukis warna jingga. Nampak maha karya Sang Pencipta yang teramat indah. Lembayung Senja.
"Ra, abang mempunyai satu permintaan," ucap Alif seraya memecah keheningan.
"Memangnya, apa permintaan Abang?" Chayra merotasikan kepala dan memindahi pandangannya.
"Mulai detik ini, panggil Bang Alif .... Mas!" Bibir Alif melengkung. Ia membawa tubuhnya untuk berhadapan dengan Chayra.
__ADS_1
Alih-alih meng-iyakan permintaan Alif, Chayra malah tergelak. Baginya, panggilan 'Mas' untuk Alif terdengar sangat aneh dan menggelikan. Tapi it's okay. Chayra akan mencobanya, memanggil Alif dengan sebutan 'Mas'.
"Mas --," ucap Chayra ragu.
"Lagi, Ra!" pinta Alif. Netranya berbinar dan degup jantungnya terdengar bertalu-talu kala Chayra bersedia memanggilnya 'Mas'.
"Mas Alif. Mas Alif jelek. Wekkkk!" Chayra menjulurkan lidahnya lalu ia hujani tubuh Alif dengan pasir pantai.
Chayra berlari kencang sebelum Alif mengejar dan membalas kejahilannya.
"Ra, tunggu!" Alif berteriak dan berlari mengejar Chayra.
Sepasang anak Adam itu saling berkejaran di atas hamparan pasir pantai dan tertawa lepas, merangkai kenangan terindah sebelum terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Entah, kelak mereka akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang sama atau sebaliknya. Hanya sang waktu yang akan menjawabnya ....
🌹🌹🌹🌹
Mohon maaf jika bertebaran typo. 😊🙏 Sampai berjumpa kembali di karya author yang insya Allah akan rilis di awal bulan Ramadhan.
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta untuk kakak-kakak ter love 😘😘😘