Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Suatu Kisah


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Mbak, jika Mbak Ratna berkenan ... ikutlah bersama kami. Kebetulan, rumah kami yang berada di desa W sudah lama tidak kami tinggali. Tinggalah di sana bersama Bagas! Semua warga desa sangat ramah. Insya Allah, Bagas akan mempunyai banyak teman di sana. Saya akan mendaftarkan Bagas untuk bersekolah di SD ICPA. Sekolah Dasar yang didirikan oleh ayah dan bunda saya sebagai pengganti Rumah Pintar," lanjutnya.


Setelah sejenak berpikir, Ratna berkenan menerima tawaran Khanza.


Percakapan mereka terpangkas tatkala suara panggilan Illahi terdengar. Rangga, Khanza, Ratna, dan Bagas menyambut panggilan Illahi dengan bersegera mensucikan diri. Kemudian mereka bersiap menjalankan ibadah sholat subuh berjamaah ....


....


Arunika menyapa dua insan yang tengah dimabuk cinta. Mereka ... Dylan dan Dara. Seusai menjalankan ibadah sholat subuh, keduanya kembali melakukan ritual penyatuan raga. Seolah, apa yang mereka lakukan semalam belum memuaskan hasrat.


Dylan mengecup lama kening Dara dan memeluk erat tubuh polos istrinya itu seusai mengakhiri ritual yang menjadi candu.


"I love you, Dara Larasati," bisiknya tepat di telinga sang kekasih halal.


BLUSH


Kata-kata yang dibisikkan oleh Dylan sukses mencetak rona merah di wajah Dara. Semerah wajah othornya jika sedang dirayu oleh suami tercinta. Ahayyy .... Okey, abaikan othor yang sedang bucin sebucin bucinnya ini.


Dengan sedikit terbata, Dara membalas ucapan pria idaman yang kini telah berstatus sebagai suaminya. "I Love you too, Dylan Putra Abimanyu."


Dylan tersenyum. Ia selipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Dara di belakang telinga lantas memandu tangan istri tercintanya itu untuk melingkar di lehernya.


"Sayang, aku teramat bersyukur memiliki wanita secantik dan sesempurna dirimu. Ayah dan bunda memang tidak pernah salah memilih pasangan hidup untuk anak-anak mereka. Mbak Khanza dinikahkan dengan mas Rangga. Seorang pria berparas tampan yang mendekati kata sempurna. Dan ... putra bungsunya ini, dinikahkan dengan gadis berparas cantik bak bidadari dan selalu menjaga kesucian." Dylan menjeda sejenak ucapannya. Ia tatap manik mata sang istri dengan intens. Dara pun membalas tatapan Dylan dengan tatapan yang sama.


"Sayang, semoga kisah cinta kita seperti kisah cinta ayah dan bunda. Meski usia mereka tak lagi muda, cinta ayah dan bunda tidak pernah pudar. Ayah dan bunda saling mencintai meski pernikahan mereka pada awalnya ... bukanlah atas dasar cinta. Namun, untuk saling membalut luka --"


"Seperti yang pernah diceritakan oleh bunda, ya Bang?"


"Iya Sayang, benar sekali."


"Kisah ayah dan bunda tidak jauh beda dengan kisah kita ya Bang?"


"Heem. Iya Sayang. Dulu, ayah pernah memiliki seorang mantan kekasih. Wanita itu bukan bunda. Kisah cinta ayah dan mantan kekasihnya sangat menyedihkan. Hubungan mereka berakhir karena takdir cinta yang tidak berpihak. Padahal, ayah dan mantan kekasihnya itu sudah berencana untuk menikah. Namun, sebelum hari H pernikahan, ayah mengalami kecelakaan tragis. Semua orang mengira ayah sudah meninggal --"


"Memangnya, siapa mantan kekasih ayah, Bang?"


"Mantan kekasih ayah ... tante Alya."


"Tante Alya ... istri om Raikhan?"


Dylan mengangguk samar. "Iya Sayang, kamu benar."


"Dari mana, Abang mengetahui kisah mereka?" tanya Dara heran.


"Dari oma Shella. Omanya kak Raina. Beliau seringkali bercerita tentang kisah tante Alya, ayah Abi, bunda Kiran, dan om Raikhan."


"Bang, ceritakan padaku ... awal kisah hubungan ayah dan tante Alya berakhir! Maksudku, ketika ayah mengalami kecelakaan," pinta Dara.


"Baiklah Sayang. Tapi janji, jangan meneteskan air mata ya!"


"Heem. Insya Allah, Bang."


"Awalnya ...." Dylan pun mulai bercerita.


Flashback On (Pov. Author)


Raikhan terus melajukan mobilnya. Di sepanjang perjalanan, pria berparas mirip Lee Min Ho itu hanya terdiam, wajahnya nampak cemas.

__ADS_1


Sedangkan Alya, ia mencoba membuang resah dengan selalu melantunkan dzikir dan doa untuk keselamatan Abimana, calon imam yang teramat dicintainya.


"Semoga selalu Engkau jaga dia untukku ya Robb," pinta yang terlisan dari bibir Alya.


Setelah menembus keramaian kota, Raikhan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih melewati jalan menuju pedesaan.


Benar apa yang dikatakan oleh sahabat Abimana itu, jalan menuju desa X sangat curam dan licin. Andai tidak hafal dengan jalanan yang akan dilalui, mungkin mobil atau kendaraan yang lainnya, akan mudah terperosok ke dalam jurang. Naudzubillah.


"Al, coba kamu hubungi Bima!" Suara Raikhan memecah keheningan yang sempat tercipta.


"I-iya Mas, sebentar aku teleponnya."


Alya mencoba melakukan panggilan ke nomer handphone Abimana. Namun tidak ada tanggapan dari pria bermata teduh itu. Beberapa kali mencobanya, tetap saja tidak mendapatkan hasil.


"Bagaimana ini, Mas Rai?" Bibir Alya gemetar. Ia teramat mengkhawatirkan Abimana.


"Sabar Al, mungkin ... Bima sudah sampai di rumah oma," jawabnya seraya menenangkan Alya. Meski, ia pun sangat mengkhawatirkan sahabatnya.


Alya terus mencoba mengirim pesan, tapi tetap nihil. Sekalipun, Abimana tidak membalas pesan dari calon istrinya itu.


Raikhan terus saja melajukan mobilnya ....


"Astaghfirullah." Seketika Alya dan Raikhan berteriak. Hampir saja mobil Raikhan beradu dengan truck yang lewat dari arah berlawanan.


Nampak wajah Raikhan pucat. Namun ia tetap berusaha menyetir dengan fokus.


Di jalanan yang berliku, mereka kembali dikejutkan oleh bus dari arah berlawanan. Mobil Raikhan hampir bersenggolan dengan bus itu.


"Ya Allah, ada apa ini?" lirih Alya. Wajah Raikhan kembali pucat. Tangannya mulai gemetar.


"M-mas Raikhan baik-baik saja 'kan?"


"Iya Mas, Alya selalu berdoa."


Hening kembali.


"Mas, aku kog semakin mengkhawatirkan Mas Abi. Jalanan yang kita lalui sangat berbahaya." Alya meremas kedua tangannya. Perasaan khawatir dan takut semakin berkecamuk.


"Positive thinking Al! Okay!"


"Iya Mas." Alya mengangguk samar.


Alya mengedarkan pandangan ke luar jendela. Tiba-tiba tatapan netranya tertuju pada segerombol orang yang berdiri di pinggir jurang. Di sana terlihat beberapa polisi yang memasang police line.


Perasaan Alya semakin tidak karuan.


"Mas, kita berhenti di sini ya!"


Raikhan yang mengerti maksud Alya, seketika menghentikan laju mobilnya lantas menepikan di sisi kiri jalan.


"Al, biar aku yang melihatnya. Kamu tunggu di sini ya!" titahnya sembari menatap wajah Alya.


"Mas, aku ikut. A-aku tidak bisa menunggu."


"Alya, kali ini please jangan membantah! Okey!" Nada suara Raikhan terdengar tegas dan tak ingin dibantah.


"Tetap tunggu di sini, jangan ke mana-mana Al!"


Tanpa menunggu balasan dari Alya, Raikhan segera keluar dari dalam mobil. Pria itu mendekat ke arah polisi yang sedang berada di dekat police line.

__ADS_1


Alya terus memperhatikannya dari kaca mobil. Nampak raut wajah Raikhan berubah sendu. Hingga, Alya semakin tidak tahan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana.


Tanpa sabar, Alya keluar dari dalam mobil. Terlihat seorang polisi sedang menunjukkan sesuatu pada Raikhan.


DEG DEG DEG


Semakin Alya melangkah, barang yang ditunjukkan semakin jelas terlihat.


"Tasbih biru," ucapnya lirih.


Alya berlari kecil menghampiri Raikhan.


"Mas, ada apa ini? Tasbih biru? Itu bukan milik Mas Abi 'kan? Mas, jawab aku!" Pertanyaan yang terlontar dengan nada tinggi, menarik perhatian banyak orang. Mereka memandang Alya dengan tatapan iba.


"Mas jawab! Apa yang terjadi?" Alya kembali melontarkan kalimat tanya.


Nampak buliran bening menetes tanpa permisi dari kedua sudut netra Raikhan.


"Al, tabahkan hatimu!"


"Apa yang terjadi Mas? Please, jawab!" Alya mulai terisak.


"Ini tasbih milik Bima 'kan Al?" Raikhan menyerahkan tasbih kesayangan Abimana kepada calon istri sahabatnya itu. Alya menerimanya dengan tangan gemetar. Lantas ia menatap lekat. Dan ternyata memang benar, tasbih biru itu milik Abimana.


"I-iya, ini tasbih kekasihku Mas. Apa yang terjadi padanya?"


Raikhan menghela nafas panjang. Lalu memberi jawaban yang sukses memporak-porandakan perasaan Alya.


"Al, apa yang kita takutkan terjadi. Mobil Bima masuk ke jurang lalu meledak. Jasad Bima juga ditemukan hancur. Tasbih ini Al yang masih utuh --" Suara Raikhan tercekat. Seolah ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.


"Yaa Allah, ini tidak mungkin." Tubuh Alya seketika lemas, seolah tanpa daya sedikitpun. Alya jatuh bersimpuh. Raikhan mencoba menguatkan dengan merangkul pundak Alya, calon istri sahabatnya itu.


"Al, kamu harus kuat, yang tegar Alya!"


"Tidak Mas, aku yakin itu bukan Mas Abi. Jasad yang ditemukan bukanlah Mas Abi. Aku yakin itu Mas, hiks. Pasti bukan dia. Itu bukan dia ...."


"Al, itu Bima. Kamu harus kuat menerima kenyataan! Ikhlas Al ...."


"Tidak Mas. Hatiku meyakini bahwa Mas Abi masih hidup. Dia sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku. Dia juga berjanji akan selalu menjaga Alya. Mas Abi berjanji tidak akan membiarkan calon istrinya ini menangis --" Dada Alya terasa sesak diikuti bulir bening yang semakin deras tertumpah. Alya memukul-mukul dada dan memanggil nama kekasih yang teramat dicintainya, Abimana Surya Saputra.


Nampak orang-orang yang berada di tempat itu, merasa empati terhadap Alya. Tak sedikit dari mereka ikut meneteskan air mata.


"Ndhuk yang kuat ya! Sik sabar, tawakal!" ucap seorang ibu paruh baya sembari menepuk-nepuk pundak Alya.


Tangis Alya semakin menjadi. Hingga ... tiba-tiba pandangannya terasa gelap. Tubuh gadis malang itu semakin lemas.


"Alya ...." Suara yang terakhir kali ia dengar sebelum jatuh tak sadarkan diri ....


Flashback off


🌹🌹🌹🌹


Bersambung


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉

__ADS_1


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2